Sebenarnya hal yang paling tidak disukai oleh Rakha selain berada di sekitar Harvey adalah, ketika sang bunda berpuasa sunnah.
Ya ampun Rakha, berdosa sekali kamu.
Bagaimana tidak, pasalnya ketika sang bunda, Shalfa, tengah melaksanakan puasa sunnah, otomatis tidak ada makanan yang tersedia di atas meja makan. Dan Rakha sebagai golongan orang yang harus ada makanan apapun untuk dikunyah dalam mulutnya, tentu melayangkan protes.
"Bun, atuh lah yang bener aja. Kalo Bunda puasa seenggaknya gitu loh buatin aku makan. Masa iya gak ada satupun makanan di meja," keluh Rakha pada Shalfa yang asyik menonton acara ftv pagi yang selalu dimana pemerannya si Aldebaran siapa lah itu, kata Rakha. Padahal, seru juga tidak. Menggelikan justru iya.
"Bun~" Dan berakhir dengan Rakha yang merengek. Memang ya, umur itu hanya angka tapi sifat dan kelakuan tetap layaknya bocah. Kemudian berjalan menghampiri Shalfa yang hawanya sendiri sedang tidak ingin diganggu oleh anak semata wayangnya itu.
"Apasih kamu tuh? Bunda kan udah bilang, kalo kamu mau makan, ya tinggal masak. Apa susahnya sih? Telur ada, mie instan ada, nasi juga ada, gak usah heboh deh kamu."
Nah, kan. Justru ucapan tanpa henti yang keluar dari bibir Shalfa. Bagaimana tidak, Shalfa memang ketika sedang melaksanakan puasa sunnah karena harus membayar hutang puasanya, selalu memilih untuk tidak memasak. Dan menyuruh suami atau Rakha untuk membeli atau membuat makanan sendiri. Tapi justru si anak tunggalnya ini terkadang menguji kesabarannya pada saat puasa.
"Et et, puasa gak boleh emosi. Mau pahalanya Bunda ilang kesedot dosa?" Rakha yang berniat mengingatkan Shalfa, justru mendapat cubitan pada perutnya. "Bunda sakit, astaghfirullah. Anaknya sendiri kok dicubit sih?" Rakha mengusap area yang dicubit Shalfa, sedangkan sang bunda menatapnya dengan senyuman manis. Yang sumpah demi apapun itu lebih seram daripada harus melihat makhluk tak kasat mata di atas pohon mangga Pak RT.
"Bunda tuh sabar, ya. Tapi justru anak Bunda yang satu ini senang banget memancing emosi. Udah sana bikin makanan sendiri, hari ini Bunda mau santai-santai. Jangan ganggu Bunda," ucapan Shalfa terakhir sembari mengusir Rakha dari sampingnya. Benar-benar tidak ingin diganggu sekali ya Bunda Shalfa ini.
"Untung cantik. Untung Bunda gue. Untungnya lagi Ayah mau nikahin. Bisa-bisanya Ayah nikah sama Bunda yang begitu," Rakha bergumam sendiri. Ya ampun anak ini, Bundanya sendiripun masih bisa menjadi bahan pembicaraan. Tidak patut dicontoh ya kawan, nanti durhaka.
"Eh tapi, kok Bunda di rumah? Gak ke rumah sakit?" Tanya Rakha yang tiba-tiba bingung ketika melihat Shalfa di rumah yang justru bersantai ria. Padahal seingat Rakha, jadwal dokter itu sangat sibuk.
"Kamu lupa apa gak denger sih kemarin Bunda ngomong? Bunda hari ini cuti sama besok, makanya Bunda di rumah, Rakha."
"Oh ya udah, santai Bun." Shalfa yang mendengar itu hanya melirik putranya yang sedang memasak air untuk merebus mie instan yang ada di tangannya, sebelum akhirnya kembali fokus pada acara ftv yang ditontonnya.
"Ck! Cantik doang, tapi galak. Udah cocok sama si Dimas," Rakha bergumam sendiri tanpa menyadari jika Shalfa juga mendengarnya.
"Rakha Al-Kahfi Rudiantara, Bunda denger ya kamu bicara apa!"
Nah, kan. Langsung saja Rakha menunjukkan cengiran tanpa dosanya lalu melanjutkan acara memasak makanan untuknya daripada harus mendapatkan lemparan remot tv yang ada pada genggaman sang bunda. Ya ampun, Rakha masih sayang nyawa.
<><><><><>
Rakha yang merasa bosan pun akhirnya memilih untuk berada di kamarnya. Entah apa yang ia lakukan, yang jelas sejak tadi ia berguling ke sana dan kemari hingga kasurnya berantakan. Selimut jatuh, sprei lepas sana sini, bantal serta guling yang tidak bersalah pun jadi korbannya. Miris sekali anak muda satu ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KANIGARA'S SQUAD
RandomHanya sebuah cerita tentang enam orang pemuda tampan yang tinggal bersama keluarga mereka di kawasan ibu kota. Banyak hal yang diceritakan oleh mereka, termasuk keluarga mereka sendiri. Penasaran? Let's read the story The original story of The Kanig...
