Chapter 5 [Tugas Yoga]

440 35 2
                                        

Banyak yang menganggap kalau berkomunikasi dengan anak kecil itu bisa menghilangkan stres yang berlebih. Banyak yang bilang loh ya, bukan Yoga yang menganut sekte seperti itu. Masalahnya dia juga tidak terlalu percaya dengan hal 'kata orang' atau 'kebanyakan sih', karena Yoga tipe orang yang melihat semuanya sesuai situasi dan kondisi yang nyata.

Seperti sekarang ini, kedua orang tuanya tiba-tiba dititipkan seorang anak kecil dengan rentang usia sekitar tiga tahun. Tapi tiba-tiba orang tuanya justru meninggalkan anak itu pada Yoga dengan alasan 'urusan', alhasil ditinggallah Yoga bersama anak kecil yang hanya Yoga ketahui sebagai anak dari teman Maminya.

Yoga sih tidak masalah kalau disuruh menjaga anak kecil. Tapi yang jadi permasalahan adalah, dia memiliki kelas pagi yang membuatnya mau tidak mau datang daripada harus menitip absen. Karena ini mata kuliah yang penting, jadi tentu Yoga tidak akan menyia-nyiakan absensi kehadirannya begitu saja.

Jadi, setelah menyiapkan segala hal kebutuhan kuliahnya hari ini, Yoga lantas meraih tas punggungnya itu dan segera pergi ke lantai bawah. Tapi, begitu melihat jika anak kecil yang dititipkan oleh kedua orang tuanya itu sedang menonton tayangan kartun di televisi membuat Yoga sedikit meringis. Haruskah ia tinggalkan anak itu? Atau ia bawa ke kampus? Kalau ia tinggal, Yoga tidak bisa membayangkan akan se-berantakan apa nanti rumahnya. Sedangkan jika ia bawa ke kampus... Oh tidak, bisa-bisa Yoga dianggap ayah dengan anak satu yang sedang menjaga anaknya walaupun sedang kuliah.

Ya, Yoga sudah bisa membayangkan hal itu terjadi. Mengingat teman-temannya adalah sejenis Harvey, Rakha, dan Hafiz. Cukup lama terdiam, membuat Yoga akhirnya menghela nafasnya. Keputusannya sepertinya sangat sulit diambil ya. Dan orang tuanya harus berterimakasih dengannya setelah ini.

"Mbak, bisa bantuin aku?" Suara Yoga mengusik pendengaran orang yang ia panggil Mbak, dia adalah asisten rumah tangga di rumah Yoga. Si Mbak lantas menghampiri anak majikannya. Guna bertanya, kenapa tiba-tiba meminta bantuan? Terlebih si Mbak tengah membersihkan lantai dengan mesin penyedot debu.

"Kenapa, den?"

"Mbak tahu kan, susunya si Leia? Bisa tolong bikinin gak, Mbak?" Si Mbak tentu bingung. Pasalnya, untuk apa Yoga meminta dirinya membuatkan susu formula untuk Leia, nama anak kecil itu, sedangkan dirinya saja sudah siap pergi kuliah dan tinggal berangkat. Menyadari kebingungan si Mbak, membuat Yoga menghela nafasnya.

"Leia mau aku ajak aja, Mbak. Kalau di rumah sendiri kasian. Kan nanti Mbak juga mau ke supermarket, belanja bulanan. Kalau ini anak diajak, takut rewel."

Ya ampun, perhatian sekali anak majikannya ini. Hal tersebut lantas membuat si Mbak tersenyum dan mengangguk, lalu segera pergi ke dapur guna membuatkan susu formula yang akan Yoga bawa nanti. Bagi si Mbak, dia tahu jika Yoga tidak seperti kebanyakan anak lainnya. Dia tidak bisa dekat dengan anak kecil.

"Ini susunya... Mbak taro di tasnya Leia ya, den? Mbak sengaja bikinin dua."

Yoga yang mendengar itu sangat berterimakasih pada si Mbak. Setidaknya asisten rumah tangganya ini bisa membantunya membuatkan susu untuk Leia, daripada harus ia yang membuat. Yang ada bukan susu yang ia masukkan, tapi tepung terigu yang ada anak orang keracunan. Bisa-bisanya keluarganya dituntut oleh orang tua Leia.

Oh iya, Yoga memang tidak bisa dekat dengan anak kecil dalam artian bukan berarti ia tidak suka dengan anak kecil. Hanya saja Yoga akan selalu bingung bagaimana ia harus berkomunikasi dengan anak keci. Karena bagi Yoga, ia seperti tidak memiliki apapun untuk ia lakukan jika bertemu anak kecil di sekitarnya. Hal itu membuat, ketika Yoga bertemu dengan anak kecil lalu anak itu terus memperhatikannya, maka yang dilakukan Yoga hanyalah tersenyum sembari melambaikan tangannya pada anak tersebut. Hanya sebatas itu. Karena ia tidak mengerti bagaimana ia harus berkomunikasi dengan anak-anak.




THE KANIGARA'S SQUADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang