Chapter 17 [Carlos & Naufal]

160 16 0
                                        

Ayo~ whutsap?!

Kembali mengingatkan, kalo ini adalah cerita fiksi. Jadi harap jangan dibawa sampe ke real life ya teman-teman yang budiman sekalian^^

Happy reading~

.
.
.
.
.

Ditinggal liburan seminggu oleh kakaknya, membuat Carlos kadang menjadi bingung di rumah. Biasanya jika Elvano di rumah, Carlos bisa bermanja-manja dengan kakaknya itu. Meminta uang untuk beli jajan di warung Bi Inem di dekat sekolah, atau ikut Elvano saat menjemput Rania pulang bekerja. Dan selama hampir satu minggu ini, Carlos merasa bosan karena tidak ada teman bermain di rumah.

Belum lagi kakak sulungnya, Matteo, juga memilih pergi bersama dengan teman-temannya dan akan kembali besok.

Dan sekarang, akhir pekan telah kembali lagi. Tapi Carlos yang masih merasa bosan seperti enggan bangkit dari sofa dan tayangan kartun di TV yang sejak tadi telah menyita perhatiannya. Bahkan Rania yang masih sibuk menyusun makanan di meja makan sesekali dibuat tertawa karena putranya itu yang hanya bergerak di atas sofa.

"Aku bosaaaannn~"

Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari bibir Carlos. Bilangnya bosan, tapi sedikitpun tidak ada niatan untuk bergerak dari sofa. Bahkan Jayden yang sudah bolak-balik dari luar ke dalam karena sibuk mengurus tanamannya, dibuat heran dengan tingkah putra bungsunya itu.

"Buna, aku bosaaaannn~" kata Carlos sambil menatap Rania yang masih berkutat dengan peralatan memasaknya. Melihat itu Rania tertawa kecil, "Kamu daritadi Buna perhatiin bilang bosan terus, tapi gak ada niatan buat bangun dari sofa. Bosan kenapa, hm?" Tanya Rania yang telah selesai mencuci peralatan memasaknya kemudian menghampiri Carlos dan duduk di sampingnya.

"Aku bosan, gak punya teman. Abang El belum pulang, terus Abang Teo juga pergi. Teman aku cuma Lala, Bunaaaa... Tapi Lala kadang gak bisa diajak bercanda..." Kata Carlos yang bibirnya sudah maju karena cemberut, lalu setelahnya memeluk Rania. Hal tersebut tidak luput dari pandangan Rania, yang membuat Ibu dengan tiga anak itu mengusap lembut rambut Carlos.

"Abang El pulang hari ini, mungkin nanti sore atau nanti malam baru sampai rumah. Kan ada Buna sama Ayah, kalau adek mau main, ajak Buna kalau gak Ayah aja kita jalan-jalan," ucapan Rania belum membuat Carlos terbujuk. Anak itu masih memeluk Rania. Tapi Rania bisa merasakan, betapa kesepiannya Carlos di rumah saat dua kakaknya tidak ada di rumah. Memang ada Lala, peliharaannya tapi terkadang Lala lebih suka tidur daripada bermain. Dan itu yang membuat Carlos terkadang malas sendiri.

"Atau mau jalan-jalan aja hari ini? Ayah sama Buna turutin adek mau kemana aja hari ini. Mau beli apapun, Buna bolehkan. Jangan ngambek ya?" Mendengar itu tentu siapapun tidak ingin melewatkan kesempatan bukan? Begitupun Carlos. Ayah dan Bunanya akan menuruti keinginannya jika ia mau terlebih khusus untuk hari ini. Baiklah, sepertinya Carlos harus setuju.

Baru setelah itu Carlos mengangguk pelan, dan Rania tersenyum. Putra bungsunya ini sepertinya harus diimingi sesuatu lebih dulu agar terbujuk. "Ya udah panggil Ayah kalau gitu. Bilang ke Ayah hari ini kita jalan-jalan. Ya?" Tapi kemudian Carlos menggeleng. Dia ingin Rania saja yang bilang pada Jayden. Memang Jayden tidak akan pernah bisa melarang apapun untuk anak-anaknya, tapi tetap saja jika sedang malas maka Carlos akan malas melakukan apapun.

"Ayah!?"

"Iya, Bun!?" Sahutan dari arah luar terdengar, namun tidak lama Jayden nampak memunculkan diri di depan pintu samping yang di sana banyak sekali tanaman yang masih ia rapikan. "Kenapa manggil Ayah?" Tanya Jayden yang berdiri di depan pintu kaca yang mengarah pada taman belakang, lengkap dengan sarung tangan yang penuh dengan tanah yang masih terpakai di kedua tangannya.

THE KANIGARA'S SQUADCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang