32

113 10 0
                                        

Bulan puasa itu, bulan yang dimana umat beragama muslim diwajibkan untuk berpuasa. Menahan diri dari lapar, haus, nafsu, dan jangan lupakan rasa kantuk juga. Serta perbanyak pahala dari ibadah. Makanya banyak orang-orang yang memilih untuk tidur.

Namun, sangat berbeda dari lima pemuda komplek Kanigara yang tengah berkumpul di kamar Yoga. Kok cuma lima? Satu lagi kemana?

Sean ada di rumahnya, sempat dihubungi Harvey untuk ke rumah Yoga tapi dia bilang akan menyusul nanti setelah urusannya selesai.

"Rak."

"Hm?" Rakha hanya menyahut dengan bergumam ketika Hafiz memanggilnya. Keduanya memilih untuk menginvasi kasur milik Yoga, mengabaikan sang tuan rumah yang duduk di karpet.

"Kan ustadz bilang, kalo bulan puasa tuh semua setan dirantai."

"He'em."

"Itu para setan yang lagi makan kenapa dilepas? Gak muat nerakanya apa gimana?"

Rakha yang sejak tadi jarinya berseluncur ke dunia maya, lantas mengalihkan atensinya pada tiga orang lainnya.

Tiga orang itu, sebut saja ada Harvey, Yoga, dan Elvano yang dengan sangat sopannya tengah melahap makan siang mereka. Yoga dan Harvey bergelut dengan nasi padang yang sebelumnya mereka beli di tempat langganan mereka, sementara Elvano yang katanya sedang sariawan itu justru memilih untuk membeli bubur ayam depan komplek.

"Itu bukan setan, El. Titisannya dajjal itu, setan aja insecure sama mereka."

Mendengar ucapan Rakha, munculah ide dalam benar seorang Harvey yang sedang sibuk menggerogoti ayam dan daging rendangnya.

"Rak, El! Nyamnyamnyam enywak bwanget."

Kalau ditanya adakah rasa ingin memukul Harvey? Tentu saja. Rakha ingin sekali menyiram Harvey dengan kuah bubur ayam milik Elvano yang tidak terpakai itu.

"Yakin gak mau buka?" Bukannya mencegah, Yoga justru menambahkan. Yang dimana hal itu membuat Rakha menghela nafasnya, agak menyesal ia mengikuti mereka ke rumah Yoga. Tahu gitu, Rakha lebih memilih berada di rumah sambil menonton konten dari Habib Jafar.

"El, mau kagak? Belum gue comot nih," kali ini korban dari Harvey beralih ada Hafiz. Wajahnya terlihat sangat ragu, antara mengambil daging rendang Harvey atau melanjutkan puasanya.

"Lo berdiri dari kasur, gue aduin bapak lo kalo gak puasa ya."

"Iye kagak! Mau rebahan aja gue." Hafiz yang sudah hendak bangun dari posisi tidurannya, tentu tidak jadi dan kembali ke posisi tengkurapnya.

"HAHAHAHA ANJIR EL DIANCEM SI KECIL NURUT BANGET!"

"BANGSUL HARPI NASI LO MUNCRAT KE NASI GUE!"

"MANA GAK ADA YE MONYET!"

"INI APAAN!? BUTA MATA LO HAH!?"

"YA UDAH SIH ORANG CUMA SEBIJI DOANG, KAYAK YANG GUE MUNTAH DI SITU!"

PLAK
PLAK

Keduanya terdiam saat Elvano dengan wajah tersenyumnya memukul belakang kepala Harvey dan dahi Yoga secara bergantian.

"Lo berdua ribut lagi, gue lempar dari balkon mau?" Keduanya lantas menggelengkan kepalanya ribut.

"Enggak!"

"Ya udah, lanjutin makan gak usah bacot."

Kali ini Rakha dan Hafiz yang dibuat tertawa karena mereka. Bagaimana tidak, Elvano yang hanya berbicara seperti itu saja mereka sudah menciut nyalinya.

"Spada! Sean ganteng dateng!"

Sean yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya di rumah, seketika muncul di depan pintu kamar Yoga. Ah, jangan lupakan ia juga membawa minuman boba satu plastik yang sudah pasti untuk empat dari mereka, kecualikan si Rakha dan Hafiz.

THE KANIGARA'S SQUADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang