Hafiz yang sedang asyik bermain game di ponselnya sembari rebahan di sofa ruang tengah, mendadak hilang fokus setelah mendengar suara pintu tertutup yang cukup keras. Tapi selanjutnya ia tidak peduli akan hal itu dan melanjutkan kembali aktifitasnya.
"Mati lo anjer!"
"Ah bangsat El! Kan gue bilang serang yang onoh. Ngapa lo serang eta makhluk sialan?! Kan gantian gue yang diserang, monyet!"
"Ya maap gan, urang poho."
Ya begitulah isi percakapan antara Hafiz dengan Harvey saat main game via daring. Kemudian dari arah lain...
"Abaaaangg!!"
Naufal memanggil Hafiz sambil menuruni anak tangga. Suara lantang Naufal bahkan membuat sang Mama menggeleng heran. Mereka sedang ada di rumah, tapi kenapa jatuhnya seperti sedang di hutan? Padahal Naufal tinggal menghampiri Hafiz lalu menepuk kakaknya itu daripada meneriakinya sampai berbusa pun Hafiz tidak akan menengok. Heran Lia melihat tingkah kedua anaknya.
"Adek, bisa gak? Gak usah teriak gitu loh. Ini di rumah, dek. Bukan di hutan."
Kan, akhirnya si Papa keluar dari kamarnya setelah selesai membersihkan tubuhnya walaupun matahari mulai meninggi. Naufal hanya menunjukkan cengirannya ketika Tio berjalan melewatinya, menuju dapur guna menghampiri Lia.
"Abang!"
Alih-alih pakai teriakan, kini Naufal memilih untuk menendang Hafiz. Hingga membuat kegiatan kakaknya itu benar-benar merasa terusik.
Hafiz melirik Naufal sinis, sebelum akhirnya ia melepaskan airpords yang ia gunakan sejak tadi agar tidak ada yang mengganggunya bermain. "Apa sih lo!? Ganggu aja! Gak liat gue lagi mabar, ha!?"
"Anter gue cepet."
"Hah!? Apaan!? Lo minta apa!?"
"Anter gue ke toko buku, cepetan. Gue ada tugas sekolah urgent nih buat besok." Mendengar pernyataan sang adik tidak membuat Hafiz lantas menuruti. Pemuda itu bahkan mendengus kesal sebelum akhirnya merubah posisi yang sebelumnya ia rebahan, menjadi duduk bersandar.
"Beli sendiri! Noh, sama Papa!"
Tio yang merasa terpanggil lantas menatap dua putranya yang berada di ruang tengah. Menatap sekilas sang istri yang sibuk membuat camilan untuk mereka, tapi Lia justru membalasnya dengan mengangkat bahu pertanda ia tidak tahu permasalahan di antara kedua putra mereka.
"Adek kenapa?" Tanya Tio kemudian menghampiri Naufal dan Hafiz yang terduduk di sofa. Bapak dua anak itu lantas duduk di single sofa menatap Hafiz dan Naufal bergantian, dan jangan lupakan es teh manis yang ada di tangannya buatan Lia.
"Aku ada tugas prakarya, buat besok. Belum beli bahannya. Mau minta anter Abang, nih liat... Gak mau malah sibuk mabar."
Hafiz tidak peduli, dan itu membuat Tio menghela nafasnya. Bagi Tio, di hari liburnya seperti ini harusnya bisa digunakan untuk menikmati quality time bersama keluarganya. Bukan berarti ia harus menyaksikan anggota keluarganya sibuk sendiri-sendiri seperti Hafiz yang memilih untuk bermain game di ponselnya. Tio sangat tahu, Hafiz juga pasti lelah setelah seminggu kuliah dan pasti banyak tugas yang harus ia selesaikan, tapi bukankah hari libur seperti bisa ia manfaatkan untuk istirahat selain bermain game? Atau bercengkrama dengan keluarga entah itu Mama atau Papanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KANIGARA'S SQUAD
RandomHanya sebuah cerita tentang enam orang pemuda tampan yang tinggal bersama keluarga mereka di kawasan ibu kota. Banyak hal yang diceritakan oleh mereka, termasuk keluarga mereka sendiri. Penasaran? Let's read the story The original story of The Kanig...
