Chapter 34

92 12 0
                                        

Happy reading y'all

Hope you like it

Suasana di kediaman keluarga Johansson nampak lebih tenang dibandingkan biasanya. Kalau biasanya selalu terdengar suara Carlos yang bermain dengan Lala, anjing peliharaannya, atau terkadang Carlos yang berdebat tidak penting dengan Elvano mengenai hal sepele. Tapi kali ini tidak sama sekali.

Carlos sudah tidak lagi tinggal di kediaman Johansson, sejak kedua orang tuanya sudah berhenti dari pekerjaan utama mereka. Beralih ke bisnis yang setiap hari bisa bersama putra mereka, tentu Carlos tidak akan menyiakan hal itu. Sudah sekitar satu bulan sejak pindahnya Carlos dan anjing peliharannya, membuat suasana rumah benar-benar sepi. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada kehidupan di dalamnya. Meskipun sesekali Carlos datang berkunjung, bersama dengan orang tuanya.

Dan meskipun ada Elvano di rumah, suasanya benar-benar tidak sama seperti dulu.

Kalau banyak orang yang berpikir kediaman Johansson adalah yang paling damai, kalian semua salah. Tidak ada kehidupan yang selalu harmonis, begitupula yang terjadi pada keluarga ini. Banyak orang yang melihat dari kacamata mereka, kehidupan keluarga Johansson sangatlah harmonis, damai, dan tentram. Memiliki kedua putra yang sangat menaruh perhatian pada keluarga terutama pada ibunya, begitu juga dengan kepala keluarganya. Tak ayal, beberapa orang yang mengenal mereka pasti selalu iri dengan kehidupan Rania.

Namun, yang namanya roda kehidupan tidaklah selalu berhenti di sisi yang sama. Selalu berputar pada porosnya, seakan memperlihatkan kehidupan yang tidak akan pernah sama satu dengan yang lainnya. Ada kalanya manusia merasakan kehidupan yang dimimpikan semua orang, ada kalanya mereka juga diberi kesempatan merasakan kehidupan yang jauh dari mimpi mereka.

Begitupula yang dirasakan Elvano.

Sejak dua minggu terakhir ini, ia merasakan suasana rumah yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi komunikasi di antara Ayah dan Bunanya. Seakan dua insan yang telah berjanji di hadapan Tuhan itu saling menghindar satu sama lain. Elvano juga tidak bisa menerka apa yang telah terjadi kepada orang tuanya. Di sini, ia berperan sebagai anak yang benar-benar tidak tahu apapun yang terjadi di rumahnya. Jikapun ia bertanya pada sang kakak yang tinggal jauh di negeri orang, sudah pasti sama saja tidak akan tahu.

Sama seperti tadi pagi. Elvano dihadapkan pada posisi dimana Jayden selaku kepala keluarga tidak mengeluarkan sepatah katapun setelah sarapan berakhir. Begitu juga Rania, ratu dalam keluarga kecil mereka itu juga tidak ada bicara apapun. Padahal biasanya, meskipun hanya percakapan kecil, akan selalu ada interaksi antar kedua orang tuanya.

Apalagi selama dua minggu ini, Elvano selalu sendiri di rumah. Tidak seperti biasanya, selepas pukul tujuh malam, ia selalu sendiri. Tidak ada lagi sang buna yang menyiapkan makan malam, tidak ada lagi sang ayah yang menyalakan televisi guna menonton serial kesukaannya, dan tidak ada komunikasi lagi yang terjadi. Hanya sunyi, senyap, dan gelap. Elvano sampai bingung, apa yang terjadi pada mereka? Benar-benar tidak tahu apapun.

Tapi, yang namanya Elvano tetaplah Elvano. Dia tidak akan menceritakan apapun yang terjadi pada teman-temannya. Tetap memasang raut wajah seperti biasa, tanpa menimbulkan rasa curiga sedikitpun pada kawan-kawannya.

"El, lo di rumah sendiri dong? Kan si bontot udah gak di sini."

Ucapan Yoga membuka obrolan mereka di sela menyantap pizza yang dipesan Rakha sebelumnya. Mereka berenam bahkan kini tengah berkumpul di kamar Sean, yang rumahnya juga sepi karena kedua orang tuanya masih bekerja dan akan pulang tiga jam lagi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THE KANIGARA'S SQUADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang