Holla fellas 👋
I bring the new chapter 💃
Happy reading~
.
.
.
.
Dua hari sebelum agenda keberangkatan ke Malang, pasti orang-orang akan sibuk mempersiapkan hal yang ingin mereka bawa pergi. Seperti pakaian ganti, atau alat-alat yang ingin dibawa lainnya. Jangankan dua hari, kebanyakan orang pasti akan mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari, mungkin bisa satu minggu sebelum agenda.
Tapi, lain halnya dengan para pemuda komplek perumahan Kanigara. Mereka masih terlihat bersantai-santai dengan kegiatan masing-masing. Seperti Harvey yang masih tertidur lelap di kamarnya dengan selimut yang sudah jatuh tidak berdaya di lantai, padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Tidur atau latihan mati?
"A' HARVEY! BANGUUUUUNNNN!!!"
Zoey membuka paksa pintu kamar Harvey dan meneriaki kakaknya yang belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Sebenarnya, Zoey itu lelah disuruh sang mama untuk membangunkan manusia bernama Harvey itu. Lelah karena harus bolak-balik naik tangga. Apa harus Zoey bilang sang papa untuk dibuatkan elevator di dalam rumah?
"A'A KEBO!! BANGUN! A'A HARVEY ITEM DISURUH MAMA POTONG RUMPUT!"
Zoey menghela, lelah. Zoey lelah memiliki kakak sejenis Harvey. Rasanya ingin ia tukar saja dengan Elvano. Atau jika Rania masih membuka lowongan adopsi anak, mungkin Zoey sudah lebih dulu mencobanya.
"Papa A'a gak mau bangun! Juyi capek gak mau bangunin A'a lagi. Kebo banget tidurnya."
Mendengar Zoey yang mengeluh sambil berjalan keluar dari kamar Harvey, membuat Jonathan selaku kepala keluarga di rumah itu langsung berjalan masuk ke kamar putra sulungnya. Berusaha membangunkan Harvey agar menghindari terjadinya perang dunia III nantinya.
Iya, Aluna sedang pergi ke cafe miliknya. Jadi, ia tidak tahu jika Harvey belum bangun sampai jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang. Kalau Aluna tahu, sudah dipastikan akan terjadi kekerasan dalam rumah tangga detik itu juga. Makanya, sebisa mungkin Jonathan harus membangunkan Harvey agar menghindari hal itu.
"Harvey, bangun! Udah siang heh!"
Jonathan sengaja menarik bantal yang dipakai Harvey hingga kepala anaknya itu jatuh begitu saja di atas kasur, hingga membuat Harvey sendiri mengeryit. Mungkin merasa jika tidurnya terganggu, tapi bukannya bangun justru Harvey menolehkan kepalanya ke arah lain. Yang membuat Jonathan menjadi tidak sabar.
Langsung saja tanpa berpikir dua kali, Jonathan langsung membuka semua tirai kamar Harvey. Membiarkan teriknya matahari siang mengenai langsung wajah anaknya itu.
"Buset! Silau!"
Kan, benar dugaan Jonathan. Hal itu ampuh membangunkan Harvey yang tidur seperti mayat.
"Bangun cepet! Nanti Mama pulang dan kamu belum bangun, bukan salah Papa kalau kamu kena omel." Jonathan bahkan menarik lengan Harvey agar anaknya itu bangun. Setidaknya membuka kedua matanya begitu loh.
"Harvey Elio Arsenio!"
Kan.
Harvey langsung membuka kedua matanya, bahkan langsung duduk mengabaikan kamarnya yang amat sangat terang akibat Jonathan yang membuka semua tirai kamarnya. Harvey bahkan bisa melihat jika Jonathan melipat kedua tangannya di depan dada dengan terus menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KANIGARA'S SQUAD
عشوائيHanya sebuah cerita tentang enam orang pemuda tampan yang tinggal bersama keluarga mereka di kawasan ibu kota. Banyak hal yang diceritakan oleh mereka, termasuk keluarga mereka sendiri. Penasaran? Let's read the story The original story of The Kanig...
