Chapter 23

242 22 0
                                        

Eyooooo~
Happy reading y'all
Sorry for the typos on every word & I hope y'all like it :)





Di kediaman Rakha atau lebih tepatnya di kamar Rakha nampak ramai dengan beberapa onggok manusia. Sebut saja seperti Harvey, Hafiz, Sean, Yoga, dan Elvano. Mereka yang telah pulih dari sakit, nampak sudah sehat seperti sedia kala bahkan tadi Harvey sudah bisa memakan berbagai jenis makanan yang dibeli Rakha.

"Nah! Mampus gue kasih plus dua!" Seru Yoga setelah meletakkan satu kartu berwarna biru yang menunjukkan penambahan jumlah kartu yang akan diambil oleh orang selanjutnya.

Jika kalian berpikir mereka sedang bermain kartu Uno, itu semua benar. Si pemilik ruangan sekaligus yang memiliki kartu Uno, Rakha yang menyediakan semuanya. Dari mainan hingga makanan. Sungguh teman-temannya sangat minim akhlak sekali.

"Eits, tidak semudah itu marimar. Gue punya plus empat! Haha! Mampus Harvey!" Hafiz nampak bahagia ketika ia mengeluarkan kartu berwarna hitam yang menunjukkan penambahan empat kartu berikutnya untuk Harvey yang akan main setelahnya.

Harvey yang melihat itu hanya menatap datar dua kartu yang sudah menunjukkan enam kartu akan diambil nantinya. "Nih! Mampus gue juga punya wleee–" Dengan mengejek, Harvey mengeluarkan kartu yang sama seperti milik Hafiz sebelumnya hingga jumlah angka dalam kartu tersebut sudah mencapai sepuluh kartu yang akan diambil.

"Anak anjing emang lo semua!" Maki Rakha ketika sudah menjadi gilirannya. Bagaimana tidak, dari semua kartu yang ia pegang, tidak satupun di dalamnya yang terdapat kartu plus angka. Sepertinya hari ini ia cukup sial karena sudah dua kali kalah bermain Uno, dan ini jika ia kalah kembali maka akan menjadi ketiga kalinya.

Mereka yang melihat Rakha mengambil kartu sebanyak sepuluh buah, terlihat sangat puas tertawa. Apalagi Elvano, bersyukur karena itu bukan gilirannya.

"Calon pak ustadz ayo dijaga mulutnya."

"Jangan berkata kotor, wahai anak onta."

"BACOT!" Hardik Rakha pada Harvey dan Hafiz sembari merapikan kartunya yang terasa semakin banyak. "Ini tadi siapa yang ngocok?!" Tanya Rakha sembari menyusun kartu-kartu miliknya yang nampak banyak itu.

"Ngocok apaan cil?"

"Ngocok anu?"

"Ngocok kepala lo sini gue jadiin telor dadar! Ya ngocok kartu, anak Jonathan."

Yang lain hanya tertawa, tapi yang paling puas tertawanya adalah Sean dan Yoga yang hal itu langsung membuat Rakha menyumpal kedua mulut kawannya itu dengan cemilan agar diam.

"Yang ngocok gue. Kenape hah!?" Kata Yoga kemudian.

"Tangan lo bau azab. Sial mulu gue."

"Tergantung amal dan perbuatan, cil." Rakha memilih untuk menanggapinya dengan tatapan sinis. Sembari lanjut bermain, mulut mereka memang tidak berhenti mengoceh. Entah apa yang dibicarakan tapi semuanya ada, mulai dari makanan, ujian kuliah, dan orang tua mereka pun jadi bahan perbincangan enam anak setan itu.

"Btw nih–"

"Nah, mampus! Gue yang kena kan bangsat!"

THE KANIGARA'S SQUADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang