"Aw!" Aku mengaduh kesakitan karena heels yang aku gunakan patah. Selepas memasuki gerbang rumah aku memang langsung turun dan meninggalkan Mas Bisma. Aku langsung berlari karena saking khawatirnya pada orang di dalam sana yang entah sudah berbicara apa saja kepada mama dan papa.
"Assalamualaikum."
Aku berjalan memasuki rumah dengan tangan yang menenteng heels rusak sambil membenarkan posisi bag shoulder warna biru yang ada di pundak. Jika media sampai tahu kelakuan si Dewi Jesi di rumah semacam ini, sudah pasti besok pagi aku akan menjadi trending dengan headline berita yang mengejutkan.
Aku mengamati ruang tamu yang terlihat sepi, lalu memilih meletakkan sepatu di atas rak, dan berjalan ke arah ruang makan. Feeling-ku, mama, papa, dan satu orang pembuat kekacauan sedang di sana untuk menikmati makan malam. Lalu menarik napas panjang, mengambil ponsel dari dalam tas dan membenarkan sedikit penampilan sebelum akhirnya memutuskan untuk muncul dari balik tembok.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa ..." Aku mendekati keduanya untuk mencium tangan.
"Baru pulang, Mbak?" Papa berujar sembari tersenyum padaku.
Memang selama seminggu ini aku tinggal di rumah dan mungkin ini jadi alasan kenapa Bapak Menteri yang sangat terhormat ini tiba-tiba datang tanpa memberi kabar sama sekali.
"Iya, Pa," jawabku sembari melirik ke arah mama yang diam-diam tersenyum meledekku.
"Tamunya mana, Ma?" Aku berbisik pada mama karena tidak menemukan Mas Rizal di meja makan.
"Lagi ke kamar mandi."
Aku mengangguk mengerti, lalu menarik sebuah kursi yang tepat berada di sisi kanan Mama. "Sejak kapan Mas Rizal ke rumah?" Lagi-lagi aku berbisik kepada Mama.
Namun, belum juga beliau menjawab subjek yang kami gibahkan ternyata sudah muncul dan terlihat kaget saat melihatku.
"Mbak ...," ucapnya sebelum ia tersenyum dan duduk di kursi yang berada di seberang.
Astaga ...
Kenapa jadi awkward begini, sih!
***
Aku masih saja diam sembari menggerak-gerakan setengah kakiku di kolam renang. Sementara Mas Rizal? Dia juga duduk di sebelahku dengan kedua kaki yang juga direndamkan ke dalam air.
Selepas makan malam tadi, kami akhirnya pamit untuk mengobrol. Aku perlu mengintrogasinya lebih lanjut perihal kedatangannya yang tiba-tiba dan sudah berhasil membuatku seperti naik roller coaster hari ini.
"Kenapa bisa tau kalo aku ke rumah?" Bukannya menjelaskan, orang ini malah justru bertanya kembali.
"Dikasih tau Mama tadi di telepon." Aku menoleh ke arahnya dan kembali berujar, "Kenapa tiba-tiba dateng nggak kasih kabar? Bikin jantungan anak orang tau!" lanjutku sembari merebahkan kepala di pundaknya.
Sebagai sesama orang dewasa, kami memang tidak suka menyelesaikan masalah dengan bertele-tele. Apa yang masing-masing kami rasakan dikomunikasikan, lalu menyamakan pemahaman agar menjadi selaras.
"Pengen kenalan secara resmi aja sama calon mertua," ucapnya begitu enteng. Aku langsung menegakkan duduk dan melihat ke arahnya yang juga sedang menatapku.
Aku meninju perutnya pelan karena tidak tahan dengan situasi ini. "Serius, ih!"
Meski aku kerap melakukan adegan yang lebih intim daripada ini dalam drama, tetap saja jika lawan mainnya adalah Mas Rizal, maka semuanya tidak akan baik-baik saja.
"Kamu ngomong apa aja tadi sama Mama-Papa?" tanyaku mencoba menggali informasi.
"Ada deh ...," jawabnya sok-sokan misterius sebelum akhirnya menarik tubuhku untuk dipeluknya.
"Kangen!" Lagi-lagi dia melemparkan serangan sebelum aku bersiap.
Meski dari luar dia seperti orang yang cuek, nyatanya Mas Rizal adalah orang yang banyak bicara. Dia bahkan mudah sekali melontarkan kata-kata manis saat hanya berdua denganku seperti ini.
Lagi-lagi aku mengerucutkan bibir. "Kangen bukannya nemuin aku, malah nemuin Mama Papa."
"Kan kalo aku nemuin Mama Papa kamu, kamu pasti nyamperin aku, Mbak," kilahnya begitu pintar.
Jika dipikir-pikir, aku memang jarang memenangkan perdebatan dengannya. Mas Rizal dengan jawaban-jawabannya selalu berhasil membuatku menjadi pihak yang tidak bisa menyangkal argumennya. Dari sini, aku paham kenapa dia bisa menduduki posisi penting di umurnya yang terbilang muda, tepat kepala tiga di akhir tahun ini.
"Kamu ke sini sendiri?" tanyaku karena tidak melihat keberadaan Mas Dimas.
Biasanya ke manapun Mas Rizal pergi, tidak pernah sekalipun dia pergi sendiri seperti sekarang. Even untuk acara informal saja, dia masih membawa satu hingga dua orang ajudannya untuk berjaga-jaga.
"Kamu berharap aku datang sama Dimas?" tanyanya sembari mengerucutkan bibirnya.
Ya Allah ... kenapa sih sebenarnya orang ini?
"Enggak, Mas."
Aku melepaskan diri dari pelukannya. "Bukannya apa-apa, Mas. Tapi ke apartemen aku aja, kamu masih ditemenin para ajudan," ujarku sekaligus menyindir. "Tapi kenapa sekarang enggak?" lanjutku sembari mendongak dan menatapnya.
"Biar kelihatan mandiri."
Alasannya berhasil membuatku melongo. "Mandiri?" beoku tidak percaya.
Laki-laki di hadapanku mengangguk. "Masa iya, dateng ke rumah pacar mesti ditemani juga? Malu dong, Mbak!" jelasnya yang membuatku menggeleng.
Gumush banget sieee, Mas!
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet
ChickLit"Kok belum punya pacar kak?" "Kak, kriteria pacarnya yang kaya gimana?" "Spill tipe idealnya dong kak ..." Aku sudah terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertanyaan yang harusnya tidak lagi ditanyakan, yang sayangnya malah terus ter...
