Special update buat MadeStore3
Lunas ya sehari tiga kali update
Makasih juga loh udah rekomendasiin Backstreet ke temennya
Buat readers yang lain, jangan lupa juga ya buat rekomendasiin cerita ini kalo menurut kalian ceritanya emang layak buat di rekomendasiin
Selamat membaca yeay .....
***
"Mas..." Aku menoleh ke arah Mas Rizal yang sedang fokus mengemudi.
Kami berdua barusaja menipu para wartawan dengan menjadikan Mas Dimas sebagai umpan untuk mengecoh hingga akhirnya kami berdua bisa pergi dengan selamat tanpa gangguan.
Mas Rizal menoleh ke arahku sebentar, sebelum akhirnya kembali mengarahkan fokus sepenuhnya pada jalanan lurus yang ada di hadapan kami. "Kenapa, Mbak?"
"Kamu kelihatan cakep banget!" Ucapku dengan spontan.
"Aw!" Mas Rizal tiba-tiba saja mengerem mobilnya mendadak hingga aku sedikit terhuyung ke depan. Untunglah karena selalu memakai seat belt, aku tidak membentur apapun.
"Tumben banget, Mbak." Tanpa menghiraukan omonganku Mas Rizal berujar bahwa tumben-tumbennya aku memujinya terang-terangan seperti ini.
Mas Rizal menepikan mobilnya di pinggir, melepaskan sabuk pengaman yang di kenalannya, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku sebelum akhirnya mengatakan hal yang membuatku hampir saja jantungan. "Calon ibu dari anak-anakku juga kelihatan kaya bidadari yang baru turun dari langit sekarang," ucapnya sembari mengelus rambutku dan mencium dahiku singkat. Terlalu singkat hingga aku tidak sadar tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.
Sial! Umpatku yang tidak aku suarakan.
Niat hati ingin membalas perbuatannya beberapa waktu lalu malah aku yang justru mendapat serangan balik seperti ini. Benar-benar definisi senjata makan tuan yang sebenarnya.
"Mas...."
"Apalagi sayang?" Jawabnya yang pasti berhasil membuat pipiku memerah.
"Kenapa hm?" Tanyanya karena aku tak kunjung mengatakan apapun.
"Jalan! Entar keburu macet kalo nggak cepet-cepet." Aku mengatakannya agar segera bergegas karena aku sudah tidak tahan lagi jika harus menghadapinya.
***
"Mbak..." Aku menoleh ke arah mama sembari mengaduk dua gelas teh manis yang baru saja aku buat ini.
Rumah kami memang hanya memiliki satu asisten rumah tangga yang kebetulan saat ini sedang pulang kampung karena anaknya akan menikah. That's why akhirnya aku dan mama turun tangan sendiri untuk membuat minum dan menyiapkan camilan untuk papa dan juga Mas Rizal.
Meski sekarang aku sudah bisa di bilang punya banyak uang, nyatanya apa yang ada di keluarga kami memang tidak banyak berubah. Sama seperti kehidupan sebelumnya dimana aku belum menjadi seorang selebritas terkenal sehingga orang-orang sering menjuluki keluarga kami dengan istilah low profile family.
"Kok mendadak?" Mama ternyata menanyakan kedatanganku dan Mas Rizal yang tiba-tiba, sembari kedua tangannya tetap sibuk menyiapkan camilan untuk teman teh.
Aku mengambil dua buah alas untuk meletakkan cangkir teh sebelum menjawab pertanyaan yang barusan diajukan beliau. "Aku nggak tau, Mah."
"Tadi cuma nanya sama Mas Rizal mau dateng ke rumah kapan, eh dianya langsung bilang abis sarapan." Jelasku singkat pada nyonya rumah ini.
Memang benar saat aku menanyakan padanya kapan dia akan datang ke rumah untuk melamar dia langsung mengatakan setelah sarapan. Dan ternyata aku yang masih positif thinking jika itu adalah main-main harus menelan ludah karena apa yang dia katakan benar-benar dia realisasikan secara nyata.
Ya benar, Mas Rizal langsung bersiap-bersiap dan menghubungi Mas Dimas untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan. Dia juga langsung menghubungi orang tuanya bahwa dia akan melamar ku dengan segera, yang sayangnya tidak bisa di realisasikan secepat keinginannya karena ternyata papa mamanya masih berada di luar negeri untuk beberapa alasan.
Alhasil lamaran pun ditunda hingga kepulangan orangtuanya, namun dia sendiri tetap datang ke rumahku untuk membicarakan entah apa pada papa.
Dan ya... karena aku sebelumnya yang menjadi pihak yang menawari pun akhirnya tidak bisa mengelak selain menurutinya untuk ikut pulang seperti sekarang.
"Ini kalian bener-bener serius udah langsung nikah?" Mama kembali bertanya karena aku memang sudah memberitahunya sedikit seputar apa yang kami berdua rencanakan dan tujuan kami datang ke sini tanpa memberi kabar.
Untunglah orang tuaku bukan tergolong sebagai strict parents dan mama juga open minded sehingga meski terkesan begitu tiba-tiba beliau masih fine-fine saja. Tidak berpikiran yang macam-macam seperti menuduhku hamil duluan karena ingin cepat-cepat menikah.
"Mas Rizal bilangnya gitu, Mah." Aku mengiyakan pertanyaan mama dengan mengatakan bahwa Mas Rizal memang mengatakan hal semacam itu padaku.
"Tapi kayaknya harus nunggu mama papanya pulang dulu dari Amerika, Mah." Aku memberitahu mama bahwa niat kami berdua untuk menikah memang serius, namun untuk acara lamaran tidak bisa dilaksanakan dekat-dekat ini karena harus menunggu orang tuanya pulang.
Orang tuanya Mas Rizal adalah seorang pengusaha sukses yang memang sering bolak-balik keluar negeri untuk menjalankan bisnisnya. That's why tidak heran jika baru beberapa hari yang lalu aku berbicara dengan ibunya melalui telepon saat Mas Rizal meneleponku, kini beliau sudah berada di benua lain untuk menjalankan berbagai urusan.
Aku melirik mama yang kini mengangguk-angguk. "Nggak masalah. Yang penting mama beneran bakalan punya mantu seorang menteri." Ucap beliau sebelum akhirnya meraih piring tempat brownies teman teh berada dan berjalan menuju ruang tamu untuk menemui menantu idamananya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet
ChickLit"Kok belum punya pacar kak?" "Kak, kriteria pacarnya yang kaya gimana?" "Spill tipe idealnya dong kak ..." Aku sudah terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertanyaan yang harusnya tidak lagi ditanyakan, yang sayangnya malah terus ter...
