Double update khusus buat kalian yang nungguin!
Jangan lupa follow dan komen yaaa
***
Cantik, kaya raya, lulusan luar negeri dan pintar memasak.
Bahkan aku yang biasanya tidak mudah insecure saja mengakui bahwa dari segala sisi dia adalah seorang wife material banget.
Namanya Arina. Orang-orang biasanya memanggilnya Arin dan dia adalah teman masa sekolahnya Mas Rizal saat menempuh pendidikan sarjana. Putri tunggal seorang menteri yang saat ini juga menjadi koleganya Mas Rizal di pemerintahan.
"Oh ayolah, Je! Jangan bandingkan dirimu dengannya sebelum nantinya kamu malah menyesal sendiri." Ucapku pada diri sendiri.
Aku mengambil napas panjang. Lalu sedikit mencondongkan tubuh untuk melongok hasil masakan perempuan cantik yang kini menjadi teman di kelas memasak ku. "Kenapa ngambil kelas masak, Mbak? Padahal udah jago gitu loh..." Aku bertanya karena benar-benar penasaran. Bukan karena hanya ingin dekat atau bagaimana.
Kelas memasak untuk hari ini sebenarnya sudah selesai. Alhasil di ruangan ini hanya ada kami berdua karena aku yang malas menunggu jemputan di luar dan Mbak Arina yang memang sedang membuat sejenis kue yang entah apa namanya.
"Mumpung ada waktu luang aja, Je. Dan dari dulu juga emang udah kepengen." Jelasnya sembari tersenyum ke arahku. Senyum yang benar-benar manis yang bisa membuat siapa pun terpesona jika melihatnya.
Jujur aku tidak tahu dia tahu atau tidak perihal hubunganku dengan Mas Rizal. Baik aku atau pun Mbak Arina tidak ada yang membahas soal Mas Rizal selama dua hari perkenalan kami ini. Dan aku rasa itu juga baik daripada kami membicarakannya dan membuat hubungan kami menjadi canggung.
"Kalo kamu gimana?"
Lagi-lagi aku mendoktrin pikiranku agar tidak membandingkan diri dengannya. Selama ini aku selalu berharap orang yang bernama Arina ini tidak jauh berbeda dengan Tasya. Tapi saat akhirnya bertemu tidak terduga semacam ini aku hanya bisa mengelus dada karena dia ternyata adalah seorang wanita berpendidikan tinggi yang sangat anggun dan baik hati.
Apa ini yang dinamakan ujian sebelum pernikahan?
Aku membalas senyumnya dengan tersenyum. "Kalo aku emang beneran mau belajar masak, Mbak. Soalnya emang nggak bisa."
Sembari memasukkan adonannya yang sudah jadi ke dalam oven, Mbak Arina menoleh ke arahku dan tertawa kecil. Entah menertawakan aku karena perihal apa, yang jelas karena aku agak sedikit negatif thinking maka di otakku terpatri bahwa alasan dia tertawa adalah karena aku yang tidak bisa memasak.
"Jangan merendah, Je. Tadi masakan kamu di puji loh sama Chef Kania." Ujarnya yang membuatku tersenyum canggung.
Sepertinya tawa kecilnya barusan karena tidak mempercayaiku bahwa aku tidak bisa memasak. "Yang itu aku juga kaget banget, Mbak. Orang semua bahannya aku cuma kira-kira aja." Aku memang tadi merasa sangat tidak percaya saat mendapat pujian dari Chef Kania.
Aku hanya memasukan bahan sesuai dengan instingku, namun entah mengapa rasa makanan yang aku buat terasa cukup enak di lidah. "Jadi maksudnya lagi beruntung aja apa gimana nih?" Tanyanya sembari menaik turunkan alis. Benar-benar seperti Mas Rizal ketika sedang ingin meledekku.
Ya ampun, Je. Kenapa jadi overthinking gini sih!
"Mbak..." Aku memanggil Mbak Arin yang kini sedang mencuci tangan di wastafel.
"Iya, Je?"
"Aku boleh nanya sesuatu nggak?" Tanyaku ragu-ragu.
"Sure, Je." Jawabnya sembari mengelap tangannya.
Belum juga aku menanyakan apa yang ingin aku tanyakan, suara dering telfon berhasil membuat niatan ku tidak terealisasi.
"Bentar ya, Mbak. Ada call." Aku mengangkat ponselku dan memberitahunya jika ada panggilan masuk yang langsung dibalasnya dengan anggukan mengiyakan.
***
"Halo?" Sapa ku pada orang di seberang sana.
"Lo bener-bener mau istirahat total atau mau sesekali masih nerima acara?" Tanyanya terlalu to the point, bahkan sampai tidak menjawab sapaan ku barusan.
Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu ku ke lantai. "Beneran istirahat total, Mas. Nggak mau lagi muncul di televisi." Jelasku pada Mas Bisma yang ku tebak barusaja di tawari sebuah projek oleh seseorang.
"Nggak mau di pertimbangin lagi?"
Aku menggeleng. "Enggak, Mas. Udah final!"
Kudengar Mas Bisma di seberang sana menghela napas. "Yakin?"
"Iya!"
"Ya udah oke. Entar kalo berubah pikiran jangan lupa langsung calling gue." Ujarnya yang langsung aku iyakan.
"Btw Mas..." Aku sebenarnya sedikit ragu untuk menanyakan hal ini padanya.
Tapi Mas Bisma adalah satu-satunya laki-laki yang cukup dekat denganku dan bisa dipercaya juga. Dia sudah seperti abang ku sendiri sehingga tidak jarang aku juga membagi keluh kesah yang aku rasakan padanya.
"Kenapa?"
"Gue mau nanya sesuatu."
"Ya udah nanya aja. Ngapa kaya ragu-ragu gitu?"
Nah kan apa aku bilang. Saking dekatnya bahkan dia bisa langsung tahu bahwa aku masih di ambang kebingungan apakah harus bertanya padanya atau tidak.
"Kalo lo tiba-tiba ketemu mantan gebetan yang dulunya lo cinta banget dan kalian juga dulu pisahan karena keadaan gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana." Jawabnya singkat.
"Maksud gue ini bener-bener gebetan yang sulit lo lupain, Mas. Gebetan yang dulunya elo yakin banget bakalan jadi pasangan lo di masa depan."
"Ya gue deketin lagi, Je." Aku menghentikan gerakan kakiku yang sedang mengetuk lantai.
"Deketin lagi?" Beoku tidak sadar.
"Iya."
"Tapi kalo posisinya lo sekarang udah punya calon istri?" Ujarku lebih lanjut.
"Mantannya Pak Rizal muncul ya?"
KENAPA MAS BISMA BISA LANGSUNG TAU SIH?
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet
ChickLit"Kok belum punya pacar kak?" "Kak, kriteria pacarnya yang kaya gimana?" "Spill tipe idealnya dong kak ..." Aku sudah terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Pertanyaan yang harusnya tidak lagi ditanyakan, yang sayangnya malah terus ter...
