Jesi 28 • Overthinker

36.6K 5.2K 193
                                        

Pagi bestie ❤️
Mau curhat nih kalo di kosan author listriknya eror
Terus udah ngaduin ke PLN dah nungguin bapaknya dateng juga semaleman eh nggak dateng-dateng juga dong
Jadinya belum mandi deh dari kemaren 🤭

Btw jangan lupa follow akun wattpad dan Instagram author di @coochoci ya bestie, biar kita bisa keep in touch terus

Selamat membaca ❤️

***

Ada yang bilang bahwa menjelang pernikahan akan ada banyak cobaan yang menghampiri pasangan. Orang masa lalu yang tiba-tiba datang, hati yang mulai merasa bimbang atau bahkan kekurangan-kekurangan pasangan yang berhasil membuat kita berpikir ulang apakah dia benar-benar orang yang tepat untuk kita atau bukan.

Keraguan-keraguan semacam ini harus di sikapi dengan baik karena bisa saja berakibat fatal. Semakin dekat dengan tanggal yang sudah ditetapkan maka juga akan semakin banyak ujian yang harus dihadapi. Contoh konkretnya? Ya seperti yang sedang aku alami saat ini.

"Kok lo bisa tau, Mas?" Aku bertanya pada Mas Bisma perihal kenapa dia bisa langsung tau jika gebetannya Mas Rizal kembali datang dan bahkan begitu dekat dengan kami.

Mas Bisma di ujung sana tertawa. "Ketara banget kali, Je."

"Lo mulai overthink?" Lanjutnya yang langsung aku iyakan.

"Kaya apa emang mantannya si bapak?" Ujarnya penasaran karena aku memang bukan tipe perempuan yang begitu mudah insecure dan overthinking.

"Lo tau Pak Darmawan?"

"Menteri keuangan?"

"Iya. Doi anak semata wayangnya!"

"Anjir! Si Arina?"

Aku menegakkan punggung ku yang sedari tadi disandarkan di tembok. "Kok lo tau, Mas?"

"Dia kan wife material banget, Je. Sering jadi sorotan juga di media akhir-akhir ini. Lo nggak tau?"

Bukannya mendapat sedikit suntikan semangat aku malah menjadi lebih tidak bersemangat setelah mendengar informasi darinya barusan. "Jangan bilang lo beneran nggak tau?"

Aku mengangguk atas pertanyaan Mas Bisma barusan. Aku memang tidak tahu siapa itu Mbak Arin selain mantan crush-nya Mas Rizal. Itu pun aku tahu setelah aku berkenalan dan mengetahui dimana dia dulu bersekolah. "Jadi dia orangnya gimana?" Otakku sepertinya sudah sedikit bergeser karena bisa-bisanya menanyakan perihal Mbak Arin kepada Mas Bisma yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya.

"Lo udah ngomong ke si bapak kalo lo ketemu mantannya?" Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia justru menanyakan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku tadi.

"Udah. Tapi cuma sebatas ngasih tau kalo gue ketemu gebetannya di kelas masak."

"Responnya?"

"Kaget!"

"Abis itu ya udah. Soalnya dia dapet telpon masuk nyampe gue sampe di tempat les." Lanjutku menjelaskan padanya.

Memang benar bahwa kejadian terakhir di dalam mobil itu adalah saat aku memberitahunya bahwa aku bertemu mantan gebetannya di kelas memasak. Aku yang berniat mengorek lebih banyak informasi darinya hanya bisa menelan ludah karena kebetulan dia langsung mendapatkan telepon yang penting hingga aku sampai di sweet love.

"Kalo gitu jangan mikir yang macem-macem dulu, Je. Entar di obrolin lagi sama orangnya langsung. Gue yakin kok Pak Rizal nggak mungkin ngekhianatin lo!"

"Jadi please, lo dan your crazy thing-nya jangan di terusin lagi." Wejangannya yang membuatku menghela napas.

"Gue takut, Mas."

"Takut di tinggal?"

"Iya!"

"Nggak usah takut, Je. Lo cantik banget gitu. Kalo Pak Rizal berani ninggalin lo gue langsung cariin pacar yang lebih oke dari dia." Ujar ya dengan nada bercanda. Mungkin mencoba mencairkan suasana dan menaikkan mood ku kembali.

"Lo pikir segampang itu?"

"Iya. Tinggal cari yang lebih ganteng dan kaya kan?"

"Sialan lo, Mas!" Makiku yang malah dibalasnya dengan tertawa.

Ya, meski mengobrol dengannya tidak menyelesaikan masalah setidaknya beban di pundak ku sudah terasa lebih ringan daripada sebelumnya.

***

"Mau langsung pulang?" Aku mengangguk tanpa bersuara.

Entah kenapa tiba-tiba mood ku langsung memburuk setelah melihat Mas Rizal. Padahal sikapnya tidak berubah dan masih manis seperti biasanya, namun kali ini malah apa yang dilakukannya ini berhasil membuatku bad mood. Berhasil membuat otakku mengingat Mbak Arina entah untuk alasan apa.

"Udah makan?" Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

"Kamu kenapa bee, hm?" Mas Rizal mengusap ujung rambutku yang kali ini memang sengaja di gerai.

"Perasaan tadi pas berangkat masih baik-baik aja." Ujarnya heran dengan perubahanku.

"Ada masalah?"

Aku menggeleng. "Nggak kok. Mungkin kecapean aja!" Jawabku begitu singkat.

Jujur aku tidak ingin menyuekinya seperti ini. Namun entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulutku malah begitu singkat dan terkesan amat sinis.

"Yakin?"

"Iya!" Balasku yang membuat Mas Rizal mengangguk. Entah benar-benar percaya terhadap yang aku katakan atau memang pura-pura percaya.

Tidak ada yang bersuara diantara kami setelahnya. Mobil dipenuhi dengan keheningan karena baik aku dan Mas Rizal sepertinya juga sedang memiliki sesuatu yang dipikirkan masing-masing.

Asumsi ku mengatakan bahwa keheningan ini akan berlangsung lama dan mungkin hingga sampai ke rumahku nanti. Namun alih-alih seperti apa yang aku duga, nyatanya baru beberapa menit setelahnya asumsiku itu langsung tidak terbukti. Mas Rizal tiba-tiba berujar akan sesuatu hal yang bahkan tidak berani untuk aku bayangkan.

"Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Arina." Tiba-tiba tanpa aba-aba Mas Rizal berujar bahwa dia sudah tidak memiliki hubungan dengan Mbak Arin.

Aku yang duduk di sebelahnya pun langsung menengok dan memperhatikannya yang sedang fokus mengemudi. "Aku nggak nanya kok." Meski sebenarnya aku hampir mati karena ingin tahu, tetap saja egoku tidak mengizinkan untuk berterus terang padanya bahwa aku memang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan dia dulu.

"Iya, bee. Aku cuma pengen cerita aja kok!"

YA ALLAH MAS RIZAL, GIMANA AKU BISA MARAH KALO KAMU PEKANYA KETERLALUAN GINI?

BackstreetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang