PVSA - 16

213 12 0
                                    

Arghi berpamitan pada Ferdad dan Rayna. Awalnya Rayna menawarkan Arghi untuk menginap, tapi Arghi beralasan ada pekerjaan yang dia tinggalkan.

Setelah Arghi pergi, Rayna dan Ferdad pun pergi tidur. Rayna menatap Ferdad yang membelakanginya. Dia pun memeluk pria itu. Ferdad hanya diam saat Rayna memeluknya dari belakang.

Mengingat Frizki dibunuh oleh teman-temannya Rayna, Ferdad menjadi marah. Dia ingin sekali membalas perbuatan mereka pada Rayna, tapi Ferdad menahannya. Sebenarnya tidak hanya Frizki, Rayna dan teman-temannya telah membantai para polisi sebelumnya yang membuat Ferdad bertekad menangkap semua anggota Mark. Sudah pasti hukuman mati yang mereka terima.

"Apa kau benar-benar suamiku?"

Pertanyaan itu membuat Ferdad sedikit terkejut. "Kenapa kau berpikir begitu? Apa aku terlihat seperti orang asing bagimu?"

"Saat melihatku, matamu tidak pernah menunjukkan cinta untukku." Rayna melepaskan pelukannya.

Ferdad berbalik menoleh Rayna. "Itu tidak benar."

Rayna menatap Ferdad dengan serius. "Kalau begitu, katakan kau mencintaiku."

"Aku mencintaimu," kata Ferdad cepat.

"Kenapa kau begitu tegang saat memelukku? Jantungmu berpacu cepat seolah kau memeluk orang lain," tanya Rayna.

Ferdad langsung menjawab, "Jantungku berdetak cepat saat memelukmu itu karena aku pria dan kau wanita, kau pasti mengerti maksudku, Rayna. Meskipun kau istriku, jantungku akan bereaksi seperti itu."

Rayna tampak berpikir. "Kau benar juga. Tapi, kenapa kau memasang alat pelacak di cincin pernikahan?"

"Kau menghancurkan cincin pernikahan kita?" Ferdad menatap tal percaya pada Rayna.

"Karena ada alat pelacaknya, aku pikir para penjahat itu yang memasangnya." Rayna membela diri.

"Aku takut terjadi sesuatu padamu jadinya aku memasang alat pelacak di cincin pernikahan kita," kata Ferdad.

Rayna masih terlihat ragu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Jika kau bukan istriku, kenapa aku membawamu kemari?" Ferdad balik bertanya.

"Entahlah," jawab Rayna pelan.

"Tidurlah, sepertinya kau terlalu banyak menonton film," kata Ferdad.

"Aku tidak menggunakan Youtube untuk menonton film. Aku mencari tutorial memasak," gerutu Rayna.

"Benarkah? Masakanmu sangat lezat tadi. Aku menyukainya, terima kasih. Setidaknya kemampuan memasakmu sedikit meningkat," ujar Ferdad.

Rayna memukul dada Ferdad membuat pria itu meringis pelan. "Maksudmu aku akan tetap bodoh dan tidak bisa memasak? Apa menurutmu aku akan membiarkan suamiku kelaparan?!"

"Aku tidak mengatakan itu," gerutu Ferdad.

"Lewat kalimatmu tadi kau seperti mengatakan itu," ketus Rayna.

"Baiklah, aku minta maaf." Satu-satu jurus pria yang terzolimi.

"Kau tidak salah, sih." Rayna merasa bersalah karena Ferdad meminta maaf.

Ferdad mengusap kasar wajahnya sendiri.

"Aku...." Belum sempat Rayna menyelesaikan kalimatnya, Ferdad mencium bibirnya.

"Jangan bicara lagi atau aku akan membungkam mulutmu," ancam Ferdad.

"Aku...."

Ferdad membungkam mulut Rayna dengan ciuman yang lebih dalam. Rayna mendorong dada Ferdad, tapi Ferdad memperdalam ciumannya.

"Iya, aku berhenti bicara!" Teriak Rayna.

Ferdad kembali menciumnya. Kali ini dia menindih Rayna. "Kau pikir aku akan mengampunimu setelah kau meragukanku sebagai suamimu?"

"Oke, aku salah... aku minta maaf." Rayna menahan wajah Ferdad.

"Kau tidak mau melakukannya? Aku merindukanmu, Rayna. Ayo, kita lakukan, Sayang," rayu Ferdad.

Kedua pipi Rayna memerah. "Lain kali saja, aku sedang menstruasi."

Ferdad menatap curiga pads Rayna. Tanpa diduga dia memegang selangkangan perempuan itu. Ferdad merasakan ada pembalut di sana.

"Apa yang...." Rayna menepis tangan Ferdad.

"Ya, sudah." Ferdad mengecup bibir Rayna sekali lagi.

☆★☆

15.59 | 20 April 2021
By Ucu Irna Marhamah

POLICE VS ASSASSINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang