[Tersedia di gramedia dan toko buku online]
@cloudbookspublishing
[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA]
Tentang perjodohan, perjuangan, dan beda keyakinan.
Kenzo Algazza, cowok tampan dan terkenal dingin didepan banyak orang. Berbeda dimata teman-temannya...
"Nanti kalo ada yang liat gimana? Kalo ada Bia?" tanya Liona was-was.
"Aman," jawab Kenzo.
"Kenapa gak ngomong dirumah aja sih?" tanya Liona.
"Masih sakit?" tanya lelaki itu.
"Enggak."
"Kalo masih pulang duluan aja."
"Gue gapapa."
"Gue anterin."
"Gak jelas lo. Orang gak sakit," gerutu Liona.
Lelaki itu meletakkan punggung tangannya didahi perempuan itu. Seketika Liona menahan napasnya, jelas gugup. Lelaki itu memang pandai membuat dirinya gugup akhir-akhir ini.
"Anget," ujar Kenzo.
"Kalo dingin mati gue," balas Liona ketus.
"Nanti kerumah mama," kata Kenzo.
Liona mengangguk. "Gue sendiri aja. Lo anterin Bia dulu."
"Bia biar pulang sama Darren."
"Jangan! Anterin Bia pulang dulu. Gue gak mau dia kenapa-napa."
"Lo khawatir sama Bia. Tapi, lo gak khawatir sama diri lo sendiri," ucap Kenzo.
"Lo nyuruh gue sama Bia mulu. Terus waktu lo sama gue kapan?" tanya lelaki itu.
"Bia emang pacar gue. Tapi, lo istri gue!"
Liona hanya diam. Lelaki itu langsung pergi meninggalkan Liona. Bukan itu yang Liona maksud. Ia pasti juga ingin menghabiskan waktunya dengan lelaki itu. Tapi, kebahagiaan sahabatnya lebih penting menurutnya.
***
Kenzo merapatkan jaket yang ia kenakan. Ia menuju tempat parkir dengan dua curut yang selalu disampingnya. Setelah beberapa menit perempuan yang ia tunggu akhirnya muncul dari dalam sekolah.