Lima

321 37 21
                                        

*****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****

Adelle menghela napas panjang sambil memaksa untuk tersenyum, gaun pengantin yang beratnya berkilo-kilo ini terasa jauh lebih berat ketika kaki Adelle mulai melangkah melintasi karpet merah seorang diri. Ekor gaun tiga meter yang menyapu karpet merah seolah menahan langkah Adelle. Membuat Adelle benar-benar merasa ingin berbalik dan berlari dari tempat itu. Terlebih lagi ketika matanya menatap lurus ke arah pria berjas putih yang tengah berdiri menantinya di atas altar, detik itu juga Adelle ingin benar-benar menghilang.

Baru beberapa langkah, ayah Adelle mendadak berlari dan berdiri di samping sang putri, membuat sang putri menoleh kepadanya.
"Dad, 'kan aku udah bilang enggak perlu ditemani. Aku bisa sendiri."

"Mana mungkin Dad tega membiarkan kamu berjalan sendirian sampai ke sana. Dad akan mengantarmu," ujar sang Ayah sambil menyodorkan lengannya.

Adelle mengangguk sembari merengkuh lengan sang ayah dengan sebelah tangannya, kemudian melanjutkan langkah yang kali ini terasa lebih ringan berkat kehadiran sang ayah di sampingnya.

Begitu sampai di atas altar, Ainesh menggenggam tangan sang putri kemudian menyerahkan tangan mungil itu kepada Regulus. Regulus menerima tangan Adelle sambil menunduk hormat kepada calon ayah mertuanya. Setelah menyerahkan tangan sang putri, Ainesh menepuki punggung tangan Regulus dengan tegas seolah menyerahkan seluruh tanggung jawab atas putrinya kepada pria itu.

"Kamu meminta putri saya secara baik-baik, saya juga menyerahkannya baik-baik. Mulai hari ini, kebahagiaan, kesedihan, tawa dan duka putri saya sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu. Kamu paham, Nak?"

Suara tegas dan dalam Ainesh mampu membuat Regulus terpana dan mengangguk patuh.

Ainesh tersenyum singkat sebelum melangkah turun dari altar, meninggalkan Adelle dan Regulus yang mengikat janji suci di hadapan Tuhan serta ratusan tamu undangan.

Tepat setelah selesai mengikat janji pernikahan, Regulus mengecup singkat dahi Adelle, istrinya. Riuh tepuk tangan saling bersahutan menggema di dalam gereja yang menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan sakral dari dua insan yang tidak saling mencintai itu.

Setelah pemberkatan pernikahan usai, seluruh hadirin turut pindah ke lokasi pesta pernikahan yang diselenggarakan di Ballroom Albara Hotel, tempat wajib bagi keluarga besar Albara melangsungkan pernikahan.

Ribuan tamu undangan hadir dan turut mengucapkan selamat untuk pasangan pengantin yang bahkan sama sekali tidak saling bicara setelah pemberkatan.
Baik Adelle ataupun Regulus keduanya saling enggan untuk sekedar bertegur sapa.

Malam hari begitu acara usai, keduanya pergi ke kamar pengantin yang sudah disiapkan. Tak ada obrolan istimewa sama sekai. Regulus masuk ke bathroom lebih dahulu sementara Adelle duduk di tepi ranjang sambil memijat kakinya yang memerah dan lecet akibat terlalu lama berdiri menggunakan high heels.

Seandainya PerihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang