Tiga puluh dua

987 69 18
                                        

JANGAN LUPA BACA NOTE DI BAGIAN BAWAH SAMPAI HABIS!

*****

Detak jarum jam dinding menjadi suara yang terdengar mendominasi di dalam kamar besar milik bungsu Dirgantara itu, bersahutan dengan helaan napas panjang yang beberapa kali turut terdengar. Meskipun sudah berulang kali menghela napas, namun sesak yang menghimpit dadanya tak kunjung pudar. Dia ingin sekali memukul dadanya sendiri dengan kuat supaya sesak itu segera hilang. Regulus, pria yang tengah tersiksa secara batin itu terus mengepalkan tangan seolah bersiap memukuli dirinya sendiri. Regulus tak bisa memungkiri, betapa penyesalan kian hari kian terasa menyiksa baginya.

Suara ketukan pintu kamar tak juga membuat pria yang sejak tadi duduk di tepi ranjang itu bergerak.

"Den Regi, makan siang dulu," suara Inun terdengar dari balik pintu.

Regulus tak menyahut, hanya diam di tempat.

"Den, Bi Inun bawain makanannya ke sini, ya? Den Regi belum makan sejak semalam, loh. Nanti sakit."

Regulus tetap bergeming.

"Den Regi, Nyonya yang nyuruh Den Regi makan, loh."

"Bi, Regi masih belum keluar?" Kali ini suara Aldebaran yang terdengar.

"Belum, Den," sahut Inun.

Suara ketukan pintu yang lebih keras terdengar, Regulus yakin kali ini Aldebaran yang mengetuk.

"Regi, jangan seperti anak kecil yang merajuk!"

Benar dugaan Regulus, suara Aldebaran menyusul setelah ketukan.

"Regi, kamu mau buka pintu ini atau Mas Al dobrak?"

Baiklah, Regulus mengalah setelah mendengar suara Aldebaran yang terdengar serius.

Regulus bangkit, perlahan pria itu melangkah menuju pintu ganda kamar megah miliknya itu. Pria itu memutar kunci dan membuka pintu. Dilihatnya sang kakak serta Inun berdiri di depan pintu kamarnya.

"Mas tahu kamu masih terkejut, tapi jangan membuat orang lain susah, Regi! Kasihan Bi Inun harus berdiri di sini seharian cuma untuk menunggu kamu keluar. Jangan seperti remaja yang merajuk! Kamu sudah dewasa."

Regulus hanya mengangguk lemah.

"Makanlah! Habis itu temui mama di kamar beliau! Mama ingin melihat kamu."

Regulus mengangguk lagi.

Pria itu kemudian melangkah dengan lunglai melewati Aldebaran dan Inun menuju meja makan. Sampai di meja makan, dilihatnya seporsi makan siang yang Regulus yakin sudah disiapkan untuknya. Si bungsu Dirgantara lantas segera duduk dan melahap habis makanan miliknya itu. Meskipun lidahnya tak bisa merasakan apa pun, namun Regulus tetap menelan semuanya. Dia hanya menuruti perintah Aldebaran.

Selesai makan, Regulus melangkah lagi menuju kamar sang ibu. Begitu berdiri di depan pintu kamar ibunya, Regulus mengetuk pintu.

"Siapa?" Tanya Ayudia dari dalam kamar.

"Regi," jawab Regulus.

Beberapa saat berselang, Ayudia membuka pintu kamar dan mempersilakan sang putra untuk masuk.

Melihat sang ibu yang mendorong tiang infus dengan tangan masih dihiasi jarum infus membuat hati Regulus tercubit. Semua ini salahnya, Ayudia yang awalnya sangat sehat sekarang menjadi lebih sering jatuh sakit.

"Botol ke berapa, Ma?" tanya Regulus sembari membantu mendorong tiang infus sang ibu menuju ranjang. Regulus membantu Ayudia duduk di ranjangnya dengan nyaman sebelum ikut duduk di tepi ranjang.

Seandainya PerihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang