Dua puluh dua

382 53 8
                                        

Adelle melangkahkan kaki berbalut heels sepuluh sentimeter miliknya ke lantai mall. Gadis suara hentakan kakinya berpadu dengan keramaian mall siang itu. Baru saja langkahnya hendak menuju sebuah kafe yang disebutkan oleh Dean di pesannya, namun mata Adelle menangkap sosok Dean berbalut setelan jas motif salur berdiri di depan pintu lift yang tertutup. Dean terlihat menoleh kanan kiri seperti mencari seseorang. Hingga saat mata pria itu menangkap sosok Adelle, Dean tersenyum dan melambaikan tangan. Adelle balas melambai sembari menghampiri sang putra tunggal keluarga Bimantaka tersebut.

"Hei, saya mau nunggu di kafe tapi takut kamu lupa tempatnya, walaupun kita udah pernah ke sana bareng," Dean menjelaskan tanpa diminta ketika Adelle sudah berdiri di hadapannya.

Sementara Adelle hanya mengangguk sembari tersenyum. "Makasih, Dean."

Dean memicingkan mata, menatap mata Adelle semakin dalam. "Mata kamu sedikit merah, Adelle. Kamu habis nangis?"

Adelle menggeleng, tentu saja dia berbohong. "Enggak, Dean. Sepertinya softlens-ku kurang sesuai. Ini masih baru jadi aku enggak tahu."

Dean mengangguk paham sekali pun dia curiga bahwa Adelle sepertinya berbohong.

"Jadi mau langsung ke kafe aja?" Ajak Dean.

Adelle mengangguk. Dean pun mempersilakan Adelle untuk berjalan di sampingnya, pria itu dengan sopan mengajak Adelle melangkah menuju kafe yang sempat mereka kunjungi bersama beberapa waktu lalu.

Begitu sampai di kafe, Dean memesankan minuman dan makanan untuk Adelle serta dirinya sendiri. Pria itu duduk di hadapan Adelle, dengan sangat sopan menjaga jarak antara dirinya dengan Adelle mengingat Adelle adalah istri dari orang lain. Mengingat fakta itu saja sudah membuat hati Dean memanas.

"Ada apa?" tanya Dean pelan.

"Apa?" Adelle balas bertanya.

"Tadi kamu bilang mau lari ke saya. Ada apa?"

Adelle terkekeh. "Maaf, Dean. Kesannya kamu jadi seperti pelarian untuk aku."

"Saya rela menjadi pelarian, Adelle," canda Dean dengan senyuman.

"Aku lagi pusing, Dean. Makasih ya udah mau menemui aku."

Dean mengangguk. "Saya akan selalu datang kalau kamu butuh saya, Del. Itu gunanya teman, 'kan?"

Adelle mengangguk. "Makasih udah mau jadi temanku."

"Mau berapa kali lagi kamu berterima kasih, Del? Saya enggak ngasih apa-apa sama kamu. Jadi enggak perlu berterima kasih sampai berulang kali begitu."

"Dengan kamu menyisihkan waktu seperti ini untuk aku aja bagiku kamu udah ngasih segalanya, Dean. Karena ada banyak sekali orang yang enggak bisa menyisihkan sedikit aja waktunya buat seseorang karena terlalu sibuk."

Dean mengangkat alisnya, menatap Adelle penuh selidik. "Ada yang mau kamu ceritakan ke saya?"

Adelle mengangguk. "Boleh?"

"Tentu," sahut Dean, "saya 'kan temanmu. Kamu bisa menceritakan apa pun kepada saya."

Adelle menghela napas panjang beberapa kali sebelum mulai membuka bibirnya lagi.
"Aku enggak ngerti awalnya dari mana, tapi sepertinya aku udah jatuh terlalu dalam."

"Jatuh?"

"Iya, jatuh. Jatuh kepada perasaan cinta yang selalu membuat aku bingung. Bolehkah aku mencintai Dia?"

"Dia... siapa?"

"Suamiku, Regulus."

Hati Dean semakin panas mendengar ucapan itu meluncur dari bibir ranum milik bungsu Albara. Pria itu berdehem beberapa kali demi mengusir rasa canggung yang perlahan merambat karena perkataan Adelle. Padahal Adelle hanya menyebutkan fakta bahwa Regulus adalah suaminya.

Seandainya PerihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang