Adelle tersenyum ketika melihat Amasha berjalan menghampirinya saat tak sengaja bertemu di lobi ruang tunggu rumah sakit.
"Kayaknya kita semakin sering ketemu di tempat ini, ya?" Sapa Amasha ketika sudah berdiri di depan Adelle yang masih duduk di kursi tunggu.
Adelle mengangguk. "Iya. Aku jadi sering lihat kamu pakai jas dokter begitu. Kamu cantik, Masha."
"Kali ini kenapa? Kamu sakit lagi? Kenapa mukamu pucat banget?" tanya Amasha.
"Aku enggak tahu," sahut Adelle, "pagi ini aku bangun dengan rasa mual yang bikin aku sampai harus bolak-balik ke wastafel. Regulus nyuruh aku cuti terus dia nganterin aku ke rumah sakit."
"Loh? Suamimu enggak nemenin kamu periksa?"
"Dia mau nemenin, tapi kubilang enggak usah. Aku kuat sendirian kok, jadi dia kusuruh berangkat ngantor aja."
Amasha mengangguk paham. "Kamu udah ambil antrean, 'kan?"
"Udah, Masha. Tinggal nunggu beberapa pasien lagi."
Amasha menyentuh lengan Adelle. "Tenang aja, Del. Semua dokter di rumah sakit ini hebat, kok. Kamu pasti bakalan langsung sembuh nanti. Oke?"
Adelle mengangguk sembari balas menyentuh lengan Amasha yang berbalut jas dokter. "Makasih, Masha."
"Nanti kamu pulangnya gimana?" tanya Amasha.
"Aku bisa naik taksi."
"No way!" Kata Amasha tegas, "kamu enggak boleh naik taksi. Kalau udah selesai kamu tunggu di ruanganku aja! Pas jam makan siang nanti kuantar pulang."
"Oke," sahut Adelle sambil tersenyum.
"Awas aja kalau kamu pulang naik taksi, ya!"
"Iya."
"Oke, Del. Aku lanjut kerja lagi, ya! Sampai ketemu lagi!"
Amasha memeluk tubuh Adelle sekilas sebelum berbalik dan melangkah menuju IGD. Sepeninggalan Amasha, Adelle kembali mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Beberapa saat menunggu, perawat memanggil nomor antrean serta namanya. Setelah Adelle menghampiri sang perawat, Adelle diarahkan memasuki ruang praktek seorang dokter wanita yang sepertinya usianya tampak beberapa tahun lebih tua daripada Amasha.
Dokter wanita itu menanyakan keluhan Adelle. Si bungsu Albara itu lantas menjelaskan semua keluhan yang dia rasakan sepagian ini. Mulai dari mual hebat hingga pusing yang terus melanda.
Sang dokter memeriksa kondisi Adelle dan juga melakukan tes darah. Setelah hasil tes keluar, alih-alih menjelaskan penyakit yang diderita serta memberi resep obat untuk Adelle, dokter wanita itu justru mengucapkan selamat atas kehamilannya dan menyarankan Adelle untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan.
Mendengar kabar itu tentu saja Adelle merasa sangat gembira dan mulai serakah. Adelle berpikir pasti sang suami juga akan sangat senang mendengar kabar ini mengingat sikap Regulus yang kian hari semakin hangat.
Setelah keluar dari ruang praktik dokter wanita tersebut, Adelle merasa segala rasa sakit yang menyiksanya sepagian itu mendadak sirna. Tubuhnya terasa ringan dan semua yang dia lihat tampak indah.
Si bungsu Albara melangkahkan kakinya menuju ruang pribadi sang sahabat. Begitu membuka pintu ruang pribadi Amasha, Adelle disambut oleh pemandangan Keenan tengah berbaring di atas sofa panjang.
"Halo mantan tunanganku," sapa Keenan.
"Halo pacar temanku," sahut Adelle.
Keenan bangkit dan duduk. Ditepuknya samping tempat dia duduk, mengisyaratkan agar Adelle ikut duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seandainya Perih
RomanceHanya karena kamu itu bintang paling terang di langit, bukan berarti kamu adalah pemilik alam semesta, Regulus. Adelle- ***** Sebelumnya aku adalah lelaki baik yang hanya mencintai Nicta, tapi Adelle datang dan membuatku berubah menjadi monster yang...
