9. Purple, Taro & Lavender

257 20 0
                                        

Guys, part ini full Abel dan Algavaro.
Siap baper? Kalo udah siap langsung aja scroll!
😙😙







"Al, lo yakin bisa keluar lewat sini?" Abel agak ragu kala melihat sebuah pagar besi yang menjulang tinggi sekitar lima meter.

Sudut bibir Algavaro sedikit tertarik saat mendengar Abel memanggilnya Al. "Gue udah sering lewat sini, kalo lo nggak mau ya udah balik aja ke kelas," tutur Gava yang membuat Abel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Naiknya gimana?" Cewek itu memandang pagar besi di hadapannya.

Sepi. Hanya ada mereka berdua saja. Ini adalah pagar darurat. Siapa saja yang terlambat tatkala gerbang utama sudah ditutup oleh Pak Pray, maka mereka akan lari ke sini. Wilayah ini cukup sepi karena jarang ada penjaga sekolah yang berjaga di sini.

Gava meraih tangan Abel dan menempelkannya pada salah satu besi kecil yang berada di celah pagar. "Tangan lo bertumpu di sini."

Abel sedikit ragu. Percayalah, ini adalah hal yang belum pernah Abel lakukan seumur hidup bersekolah. Jadi maklum saja cewek itu belum berpengalaman kalau soal cabut dari sekolah.

"Emang bisa? Lo udah pernah nyoba?" Abel menatap Gava.

"Emang bisa? Lo udah pernah nyoba?" Abel menatap Gava

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak sadar mereka berdua sangat dekat. Hingga Gava bisa merasakan aroma vanila dari rambut Abel. Kenapa jantung Gava malah berdetak tidak karuan. Sedangkan cewek di hadapannya bersikap biasa saja.

"Udah biasa," jawab Gava datar. Cowok itu sebisa mungkin bersikap biasa saja. Tentu saja tanpa menghilangkan sikap dingin serta datarnya di hadapan Abel. Datar dan dingin. Sikap itu sudah menjadi jati diri dari seorang Algavaro.

"Eh bentar gue mau cepol rambut gue dulu biar nggak nyusahin," ujar Abel yang dibalas anggukan oleh Gava. "Udah, yuk!" ucap Abel setelah mengganti model rambutnya.

Nggak suka kepang dua, batin Gava memandang Abel.

"Lo duluan, deh!"

"Oke." Tanpa pikir panjang cowok itu menaiki satu demi satu besi kecil sebagai tumpuan yang berada di celah-celah pagar. Gava melakukannya dengan lihai. Saat sampai di luar pagar, cowok itu mengulas senyum.

"Gila! Jago juga lo!" pekik Abel melihat Gava sudah berdiri di seberangnya. "Oke, sekarang gue!"

Awalnya Abel ragu untuk memanjat. Tapi dia ingin mencoba hal yang antimainstream. Abel ingin mencari pengalaman baru di sekolah. Iya, pengalaman baru.

Pelan tapi pasti. Abel menaikkan kakinya dengan hati-hati. Sampai dia di atas pagar, Abel jadi menciut nyalinya. "Tinggi banget!" pekik Abel.

"Naik bisa masa turun nggak bisa!" cibir Gava.

ALGAVAROTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang