10. Aaron's Childhood Story

290 58 20
                                        

CHAPTER 10
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2023

.

.

.

KEMARIN malam terlalui dengan canggung oleh Lyra dan Aaron. Sejak kepulangan mereka dari perjalanan panjang di tengah malam, keduanya lekas terlelap tanpa sedikitpun mengucapkan kata. Padahal sejak awal Aaron sudah mengingatkan Lyra bahwa pernikahan ini hanya sekedar jalan untuk menyelamatkan gadis itu. Setelahnya, Lyra bebas melupakan upacara pernikahan mereka.

Pagi keempat untuk Lyra pun tiba. Rutinitas yang dia lakukan setelah sarapan seperti biasa, memandangi langit dan menerka-nerka kabar keluarganya di seberang sana. Seandainya Lyra membawa kabar ini kepada Mama, wanita setengah baya itu pasti akan tertawa terbahak-bahak mengetahui anak gadisnya telah menikah.

"Wah, aku ingin melupakannya, tapi gelang ini benar-benar membebaniku." Kalau boleh, Lyra ingin sekali melepasnya. "Aku terus teringat kalau aku sudah punya suami setiap kali melihat benda ini."

"Sepertinya kau sebenci itu, ya, menikah denganku?" Aaron bersama dengan kebiasaannya: muncul secara tiba-tiba.

"Lalu, kau senang?" Lyra melirik Aaron galak.

Pria itu bergabung duduk di sebelah istri barunya. "Kalau aku, sih, lumayan senang."

Lyra mengumpat tipis sambil mengalihkan pandangnya dengan jenuh. Aaron yang menyebalkan kembali. Dia memang sempat merindukan Aaron yang seperti ini kemarin, tapi sekarang mendengar pria itu mengatakan hal sepele sekalipun benar-benar membuat Lyra ingin marah. Tidak, dia tidak membenci Aaron. Hanya saja, ini sangat menyebalkan.

"Kau marah?"

Lyra tak menggubris, masih tak mau memandang wajah Aaron.

"Hei, Lyra. Lihat aku, dong." Aaron bisa saja menarik wajah itu agar beralih menatapnya, tetapi saat ini dia begitu takut menyentuh Lyra.

Diam-diam, Lyra mendengkus. Apa Aaron sama sekali tak merasa canggung setelah menciumnya secara tak sopan kemarin? Di sini Lyra mati-matian untuk tak berpapasan langsung dengan wajah Aaron karena merasa begitu malu, sedangkan pria itu, dalam satu malam dia seolah melupakan semua yang telah terjadi.

Pada akhirnya sebab Lyra tak kunjung memberi jawaban, Aaron bangkit dari duduknya. "Yah, tidak apa-apa. Lebih baik dicueki begini daripada tidak melihat wajahmu sama sekali. Aku tahu kau terkejut karena pernikahan tiba-tiba itu."

"Aku hanya tidak menyangka akan menikah dengan seseorang yang bahkan baru kukenal selama tiga hari," Lyra memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya ke arah Aaron, "dan gelang ini, aku bisa saja melupakan pernikahan itu seperti katamu, tapi gelang ini benar-benar membebaniku."

Aaron berjongkok di depan lutut Lyra. "Jadi katakan, kau merasa tidak nyaman karena aku, atau karena pernikahan kita?"

"Tentu saja karena pernikahan kita. Kenapa juga aku harus merasa tidak nyaman karenamu."

"Syukurlah." Aaron tersenyum lembut. "Lyra, kau belum boleh melepas gelang itu karena itu adalah satu-satunya tanda fisik pernikahan kita. Nanti, seandainya kau sudah menemukan jalan pulang, kau boleh melepas gelang itu. Atau, kau boleh ceraikan aku di saat kau sudah menemukan pria yang kau cintai, yang akan benar-benar kau pilih sebagai suamimu."

Lyra mengutuk kenapa Aaron harus mengatakan hal itu dengan senyum dan sorot mata yang luar biasa teduh. Sebagian hatinya jadi merasa tak tega. "Bagaimana denganmu? Kau keberatan juga dengan pernikahan ini?"

Blanched DimensionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang