33. THE CASTLE

199 28 7
                                        

CHAPTER 33
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2025

.

.

.

Lyra menanggalkan gaun kerajaannya demi sebuah perjalanan keluar dari istana. Di atas kuda milik Edgar yang melangkah patuh membawanya membelah Grindaltan yang ramai dan penuh sorak, udara dingin dan ngilu yang membekukan hidung serta paru-parunya terasa total berbeda dari yang biasa ia rasakan setelah memutuskan berserah kepada Ethan. Kali ini, udara-udara Grindaltan yang terlihat pucat jadi begitu berkabut. Lyra kedinginan—dan kesepian.

Pasar dan pinggiran jalan Grindaltan masih sama seperti dulu—berpesta bersama kegiatan-kegiatan sederhana para warga. Lyra ingat pernah menikmati Grindaltan bersama Aaron saat mereka masih sama-sama bisa menikmati segalanya—sama-sama masih bisa tersenyum atas segalanya. Namun, kali ini Lyra hanya bisa menahan getaran menyakitkan di dadanya. Ia ingin menangis, tetapi saat ini yang ingin ia lakukan hanyalah kembali ke rumahnya, tak peduli sentimental hatinya.

Sesuai perintah Edgar, kuda cokelat gagah yang Lyra kenal betul bernama Robby itu membawanya menuju tempat yang ingin ia tuju. Kaki-kaki Robby berhenti melangkah. Lyra perlahan-lahan tanpa bantuan siapapun menuruni punggung Robby dan bersusah payah menyelamatkan kakinya yang tenggelam di dalam salju.

Lyra menatap bangunan kecil yang kini terasa jadi semakin kecil setelah beberapa lama waktu telah ia habiskan di istana megah Ethan. Gubuk Aaron seperti tak berkehidupan. Barang-barang usang dibiarkan berserakan di halaman seolah tempat ini baru saja terkena badai berangin. Suasana ini menyadarkan Lyra bahwa Aaron mungkin tidak pernah lagi mengunjungi tempat ini setelah pengakuannya sebagai Pangeran Grindaltan meskipun Aaron juga tak terus menerus ia temui di istana.

Lyra bimbang. Ia berharap menemui Aaron di dalam sana agar ia bisa segera menuntaskan satu persatu yang harus ia selesaikan tempat ini. Namun, ia masih belum siap kembali bertemu Aaron setelah terakhir kali.

Lyra melangkah pelan menuju gubuk. Pintu itu masih sama usangnya. Aaron tak memerlukan kunci apapun untuk menjaga rumahnya karena memang tak ada apapun yang bisa dicuri dari dalam tempat itu. Oleh sebab itu, mudah bagi Lyra untuk perlahan-lahan membuka pintu gubuk dan kembali berhadapan dengan interior tempat yang sempat ia huni.

Aaron tak ada di sana. Segalanya sama seperti yang Lyra saksikan di luar—berantakan. Lyra bergerak pelan di ruangan yang sempit untuk menyentuh barang-barang yang membuatnya mengenang. Meja kursi tempat keduanya pernah makan bersama, ranjang tempat mereka beristirahat, peralatan makan, lemari, hingga jaket tebal yang kerap digunakan saat mereka memilih menghabiskan malam di teras gubuk sambil menyaksikan langit gelap yang dibanjiri bintang.

Akhirnya, air mata Lyra menetes.

Ia merindukan Aaron, sesungguhnya.

"Lyra?"

Pintu terdengar terbuka, udara dingin langsung kembali menyelimuti kulitnya. Lyra sontak membalikkan atensi. Di depan pintu yang kini terbuka lebar, ia menyaksikan presensi Aaron berdiri tegang dengan napas yang seolah tertahan.

"Lyra..." Aaron melangkah mendekat. Seolah ia tak percaya dengan kehadiran Lyra di rumahnya. "Kau pulang?"

Lyra tak memberi jawaban. Ia hanya diam sembari membiarkan Aaron menyimpulkan jawaban apapun yang pria itu inginkan melalui air mata yang mengalir menuju pipinya.

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang