13. The King and His Kingdom

289 61 2
                                        

CHAPTER 13
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2023

.

.

.

DINDING dan lantai marmer, pilar-pilar yang menyangga belasan lantai di atasnya, dan gerbang yang jadi pembatas antara dirinya dan dunia. Ethan memulai kekuasaannya di kerajaan ini sejak umurnya baru menginjak 15 tahun. Selama itu, bahkan sejak dulu, setiap bagian dari tempat ini selalu jadi saksi bagaimana semua raja bersembunyiㅡlari dari sumpah serapah para rakyat atas sesuatu yang masih ambigu.

Mendapati burung gagak masuk ke area kekuasaannya bukan lagi hal yang baru bagi Ethan. Atau surat-surat yang seharusnya berisi pengaduan dan keluhan justru dipenuhi dengan kutukan, sumpah, dan harapan agar keturunan Christopher segera dimusnahkan. Nyatanya, tak ada pengkhianatan yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan oleh rakyat sendiri.

Meski begitu, Ethan tetap duduk di atas singgasananya sebagai seorang raja yang bijaksana. Nenek moyangnya berkata: sejak dulu, sejak tanah ini dikutuk, kebencian memang kerap menghujani keluarga kerajaanㅡmembuat raja-raja bahkan tak bisa berumur panjang. Maka, Ethan tetap melakukan tugasnya sebagai seorang pemimpin dari sebuah negaraㅡbukan pemimpin dari sebuah negara yang terkutuk.

Ethan ambruk, terduduk, meremas rambutnya merasakan pening yang sejak tadi belum lepas dari kepala. Bertahun-tahun lalu semenjak Ethan menduduki takhta, sumpah dan kutukan dari rakyat yang saat kecil hanya dia dengar dari cerita nenek moyangnya, kini benar-benar menimpanya. Ethan selalu dihantui dengan teriakan mati yang terus berdengung di telinganya.

"Aku mohon diam... Hentikan..."

Terkadang Ethan berpikir, tak ada salahnya lari dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang pewaris sejauh mungkin. Kekuasaan ini tak lain hanyalah kutukan, tak sedetikpun hatinya puas pada mahkota emas dan tempat duduk tertinggi di negeri ini.

"Yang Mulia, kita harus mengadakan rapat di kantor lima belas menit lagi. Apakah kau akan menundanya?"

Seiring dengan riuh di telinga yang mulai mereda, Ethan membuka matanya. Kamar terluas dan termewah ini terasa seperti neraka bagi Ethan. Dia ingin lariㅡpergi sejauh mungkin asalkan kepalanya bisa bebas.

"Yang Mulia?"

"Ya, aku tiba sepuluh menit lagi." Ethan berkata.

"Baik, Yang Mulia."

Dengan sisa-sisa pening di kepala, Ethan membawa tubuhnya bangkitㅡmenyadari banyak sekali bercak darah yang tersebar di pakaiannya saat memandang cermin. Sedetik, Ethan merasa miris dengan nasib hidupnya sendiri, namun detik berikutnya, hatinya mendadak terasa begitu ringan saat wajah gadis yang dia temui beberapa saat lalu melintas di ingatan.

Kenapa rasanya seperti ini? Sejak tadi Ethan bertanya-tanya. Gadis ituㅡLyraㅡuntuk sesaat membuatnya lupa dengan tanggung jawab dan mahkota yang ada di kepalanya. Ethan banyak sekali menemui para wanita kandidat permaisurinya, tetapi dia tak pernah merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan saat melihat Lyra.

"Aku harus menemuinya lagi lain kali." Tangannya menyentuh kain hitam yang menutupi wajahnya. "Harus. Aku harus membawanya ke sini."

Bersama waktu yang bergulir, Ethan secepat mungkin mengembalikan penampilannya sebagai seorang raja. Setiap harinya, dia memang kerap pergi keluar dari istana sebagai seorang yang asing sekedar untuk memastikan bahwa warganya baik-baik saja. Sebab Ethan tak bisa melakukan hal tersebut jika tampil sebagai seorang raja.

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang