CHAPTER 18
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2023
.
.
.
SETELAH memastikan Robby dalam keadaan baik dan tidak stres, Edgar akhirnya memutuskan untuk memaafkan Aaron tanpa mengurangi rasa dendamnya barang sedikit. Dengan kata lain, Edgar terpaksa memaafkan Aaron karena sang ibu terus-terusan membela anak itu dengan alasan, "bersikaplah sopan, Aaron sudah lama tidak pulang." Padahal, Edgar sama sekali tak menginginkan anak itu pulang.
"Aku minta bantuan sekali lagi," kata Aaron menyusul Edgar yang sedang melangkah keluar dari dapur sambil membawa sepanci air. "Pinjamkan Robby untuk aku dan Lyra pulang."
Edgar menahan diri untuk tak mengamuk. "Baik. Aku setuju karena Lyra ikut bersamamu."
"Kau masih berharap Lyra jadi istrimu, ya?"
Edgar berhenti melangkah, menoleh menatap Aaron dengan sorot penuh kebencian. "Menurutmu?
"Menurutku, iya."
"Bagus kalau kau mengerti."
Malam pun tiba. Langit hari ini begitu jernih hingga ribuan bintang yang bertabur bisa Lyra saksikan dengan sangat jelas. Di teras rumah Edgar, mereka menyalakan api unggun kecil serta menyediakan bahan masakan untuk makan malam. Pengalaman yang belum pernah Lyra rasakan sebelumnya. Makan bersama di atas salju sambil menyaksikan langit berbintang.
Satu hal yang Lyra sadari saat berada di tempat ini. Grindaltan adalah negeri yang hangat dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Rumah terpencil Aaron membuatnya baru menyadari bahwa ada kehidupan yang lebih pantas dijalani dibanding kehidupan sepi Aaron selama ini. Lantas, alih-alih hidup di keluarga Edgar, kenapa Aaron memilih mengasingkan diri?
"Wah! Kalian pesta malam ini?" Dari depan sana, seorang warga menyapa.
Ibu Edgar membalas dengan bahagia, "anak-anakku sedang berkumpul, tentu saja aku harus pesta."
"Anakmu hanya aku, Ma." Edgar membolak-balik kayu bakar dengan dendam.
"Kalau begitu nikmati pesta kalian."
Ibu Edgar duduk di antara dua anak lelakinya untuk menghindari mereka bertarung dengan kayu berapi. Perang dingin yang berlangsung di antara mereka sudah cukup membuatnya frustasi. Tentu saja, dia menyalahkan Edgar karena kelakuannya yang tidak bijaksana dan kekanakan.
"Aku mengadakan makan malam spesial ini bukan untuk melihat kalian bersikap kekanakan begini."
"Ma, kau tidak bisa memaksaku mengobrol dengan Aaron. Mama ajak saja dia mengobrol."
Saat ibu Edgar menatap Lyra dengan perasaan tak enak, Lyra hanya tersenyum sebab dia sudah maklum dengan pemandangan seperti ini. Untuk beberapa menit, satu-satunya suara yang mengisi keheningan hanya desis daging yang beradu dengan kuali panas. Sesekali ibu Edgar juga menyapa beberapa warga yang makin malam makin banyak berlalu-lalang.
"Jadi, apa pekerjaanmu selama ini, Aaron?" Perbincangan itu baru tercipta setelah makan malam disajikan.
"Aku ikut warga mengepul balok es di danau." Aaron menjawab lugas tanpa keraguan atau usaha untuk menutup-nutupi. "Bayarannya tidak terlalu besar, tapi setidaknya cukup untuk menghidupi aku dan Lyra."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
FanficDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
