CHAPTER 04
BLANCHED DIMENSION
©NAYLTAE
2023
.
.
.
SADAR jika dirinya adalah pengangguran sebatang kara, Aaron sekalipun tak pernah menghamburkan uang yang dia miliki untuk hal di luar kebutuhan dan selalu memasak dengan seminim mungkin bahan masakan. Hutangnya bertumpuk di sana-sini, jika tidak bisa membayar setidaknya dia harus terlihat miskin agar orang-orang itu merasa iba.
Untuk pertama kalinya setelah waktu panjang yang bahkan tak bisa Aaron hitung, hari ini dia kembali menyajikan lebih dari satu santapan di atas meja makan usangnya. Alasannya? Selain pembalasan dendam atas puasanya dua hari terakhir, tentu saja karena gadis yang sejak tadi terus menangis tersedu-sedu di depan makanannya.
"Aku tidak bisa mulai makan kalau kau masih menangis." Sekiranya lima belas menit waktu yang Aaron lalui hanya untuk menunggu Lyra berhenti menangis.
"Kauㅡsebentar, aku baru sadar kalau kita belum berkenalan. Siapa namamu?"
Lyra mengusap ujung matanya yang basah, berhenti menangis walau masih sesenggukan. "Lyra Chloe."
"Baik, Lyra Chloe. Kau tahu seberapa besar perjuanganku menahan lapar karena tidak bisa mencari makan selama dua hari terakhir? Aku bersyukur badai tak datang hari ini, hingga aku punya kesempatan untuk datang ke hutan dan berburu lagi. Tapi apa? Lagi-lagi karena aku terlalu baik hati, aku justruㅡ"
Aaron menjeda, meraup udara karena terlalu cepat bicara. "ㅡaku justru berhutang lagi demi bisa menjamu dirimu padahal kau adalah hewan buruanku."
"Aku bukan hewan!" Lyra nyaris menangis lagi, sedangkan Aaron menghela lelah. "Aku sedih karena bingung kenapa aku bisa menjadi seekor burung, jadi tolong jangan panggil aku seperti itu."
Aaron tak mengatakan apapun untuk mendebat, karena jujur, seperti yang sering dia katakan sebelumnya, dia adalah orang yang mudah sekali merasa empati. Lyra mungkin tak menyangka dirinya terbang sebagai seekor burung dan berubah menjadi manusia, berbeda dengan Aaron yang menganggap kejadian itu sebagai hal yang biasa.
"Aku pasti akan mengantarmu pulang. Tapi nanti, setelah kita selesai makan." Aaron mengisi piring kosong milik Lyra. "Berhenti menangis dan makan, setidaknya hargai perjuanganku."
Lyra bernapas pelan-pelan guna menenangkan dirinya. Aaron benar, setidaknya dia harus bersikap tahu diri. Pria itu bahkan tak marah saat dia menangis di pasar beberapa saat lalu, menuntunnya dengan lembut menuju rumah, tak bertanya apapun tentang alasan dia menangis, dan memberinya banyak waktu untuk menumpahkan semua rasa sedihnya.
Meski ketus, Aaron adalah pria yang benar-benar baik. Setelah menghindar dari penagih hutang kemarin, pria itu malah kembali berhutang kepada orang lain agar mereka berdua bisa makan hari ini.
"Maaf aku menangis terus. Aku benar-benar stres sekarang." Lyra mengunyah tanpa selera. "Kenapa kau tidak bilang sejak awal kalau tempat iniㅡ"
ㅡtempat ini adalah Grindaltan.
"Yah, tempat ini dingin sekali. Lalu, sebutkan dari mana kau berasal, agar aku bisa lebih mudah mengantarmu pulang."
Lyra bungkam. Dimana? Seandainya dia menyebutkan tempat tinggalnya, apakah Aaron akan tahu? Saat ini, dirinya pun masih belum yakin dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Apakah saat ini dia terperangkap di dalam masa lalu Grindaltan, atau di dalam dimensi lain di mana Grindaltan masih tetap hidup hingga sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
FanfictionDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
