CHAPTER 11
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2023
.
.
.
HARI-HARI tanpa Aaron berikutnya mulai terbiasa Lyra jalani. Selayaknya seorang suami yang bertanggung jawab, pria itu akan pergi saat pagi dan pulang setelah sore berlalu. Sambil membawa menu makan malam untuk mereka berdua, Aaron akan memasuki rumah dengan wajahnya yang ceria.
Di permulaan, sikap Aaron yang seperti itu membuat Lyra bingung sekaligus merasa tak nyaman. Di beberapa waktu Aaron akan tetap menjadi seorang teman menyebalkan yang hobi mengolok apapun yang Lyra lakukan. Namun, di kebanyakan waktu Aaron justru akan bersikap layaknya orang dewasa yang kerap memberi perhatian dan kelembutan kepada Lyra.
Pagi ini setelah Aaron menyelesaikan menu sarapan mereka, pria itu langsung duduk dengan tenang di hadapan Lyra. Pada sesi ini, biasanya akan terjadi perbincangan intens di antara mereka berdua. Namun, semakin hari rasanya semakin sulit untuk Lyra mengimbangi percakapan Aaron hingga dia kerap merasa takut untuk memulai.
"Setidaknya tolong komentari bagaimana rasa masakanku pagi ini."
Lyra lekas menoleh, melepas sendoknya dari dalam mulut. "Enak, kok. Seperti biasanya."
Pun Aaron tak dungu untuk menyadari perbedaan sikap Lyra dari hari ke hari. Di saat-saat seperti ini kepalanya sama sekali tak bisa berhenti mencurigai Edgar. Mungkin saja pria itu telah melakukan sesuatu kepada Lyra, dan sejak awal seharusnya dia tak bodoh dengan menitipkan Lyra kepada pria gila itu.
"Apa saja yang kau lakukan bersama Edgar selama ini? Anak itu tidak berbuat macam-macam seperti melempar kepalamu dengan batu, 'kan?"
"Eh, tidak! Kami cuma bermain panah di depan rumah selama kau pergi. Sesuai saranmu, kami juga tidak pernah meninggalkan kawasan rumah."
Aaron malah makin curiga menatap Lyra. "Serius? Dia tidak mengajarimu ideologi gila, 'kan?"
"Astaga, tidak! Kau ini curiga sekali, sih."
Lalu hari ketika Edgar mengajarinya memanah untuk pertama kali melintas di kepala Lyra. Sampai saat ini, dia masih menyembunyikan kalimat aneh yang Edgar katakan hari itu dari Aaron. Rasanya aneh, entah kenapa dia seolah enggan membagikan hal itu kepada Aaron kendati dirinya kerap berpikir bahwa hal itu cukup penting untuk dibagikan.
Lyra masih bertanya-tanya tentang objek yang hendak Edgar basmi, dan kenapa sorot pria itu begitu ambigu saat menatapnya. Apakah suatu hari Edgar akan membunuhnya? Apakah sebenarnya dia adalah seorang penjahat saat datang kemari?
"Seperti katamu, Edgar suka sekali menceritakan hal-hal aneh yang tidak masuk akal. Terkadang, aku sedikit takut karenanya." Setelah hening yang cukup lama tercipta, Lyra memutuskan untuk bicara.
Atensi Aaron kini sepenuhnya tercuri. Meninggalkan setengah porsi sarapannya yang belum disantap, Aaron menatap Lyra dengan raut serius. "Cerita seperti apa?"
"Yah, seperti biasa." Lyra mengangkat pandangan. Menemukan Aaron menatapnya dengan begitu berius, dia langsung tertawa canggung guna mengembalikan suasana yang mulai terasa kaku. "Memangnya kau pikir anak itu akan mengatakan apa? Sama seperti katamu waktu itu, kok. Agaknya dia tengah membuatku percaya dengan ramalan yang dia bawa. Tapi aku sama sekali tidak percaya, jadi kau tidak perlu khawatir."
Beruntungnya, Aaron mudah dibodohi. "Bagus. Baiknya memang kau jangan pernah percaya omongannya." Pada langit yang semakin terlihat terang setiap waktunya, Aaron menatap kemudian bangkit. "Aku kenyang. Kau bisa cuci piring, 'kan? Aku harus pergi lebih awal hari ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
Fiksi PenggemarDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
