24. Son of Apollo

313 38 6
                                        

CHAPTER 24
BLANCHED DIMENSION
©NAYLTAE
2023

.

.

.

AKHIRNYA, Aaron kembali meninggalkan Lyra bekerja. Tentu saja, meski harus merengek menolak bekerja dengan alasan uang yang dia punya masih cukup untuk bertahan hidup tiga hari, Lyra tidak mau Aaron jadi terbiasa malas-malasan. Setelah membiarkan pria itu mengisi energi dengan memeluknya selama satu jam penuh, akhirnya Aaron pergi dengan wajah berat hati.

Lyra berjanji tidak akan bertemu dengan Ethan lagi, satu pertimbangan yang membuat Aaron bersedia meninggalkan gadis itu sendirian di rumah. Lyra mengatakannya bukan sekadar dalih, kepada dirinya sendiri pun dia berjanji untuk tidak melihat bagian tubuh Ethan barang sedikit sebab dia tak mau pikirannya menggila lagi. Untuk hidup dengan tenang di negeri orang, dia hanya membutuhkan Aaron.

Namun, Lyra tak bisa. Dia baru bisa hidup dengan tenang setelah kebingungan-kebingungan di kepalanya terpecahkan. Atas hal itu, berselang sepuluh menit setelah Aaron pergi, dia memberanikan diri berjalan melewati perkampungan menuju tempat yang sesungguhnya sedikit meninggalkan trauma: istana. Kali ini, dia hanya berdiri di depan gerbang sambil menantikan opsir berkuda putih: Edgar.

"Apa sepagi ini Edgar sudah di istana?" Mengikuti kebiasaannya, Lyra otomatis melihat pergelangan tangan. "Astaga, aku lupa kalau tidak pakai arloji."

Lalu dari arah pintu kecil di sebelah kiri gerbang utama, tempat yang tak Lyra duga-duga, seekor kuda bersama penunggangnya melangkah gagah mendekat ke titiknya. Lyra mendongak sambil melongo, memperhatikan Robby dan Edgar bergantian.

"Lyra?" Kedatangan Lyra membuat Edgar bingung bukan main. Pandangannya berlari ke arah kanan dan kiri. "Sedang apa kau di sini? Di mana Aaron?"

Lyra menggaruk tengkuk. "Bekerja."

"Lalu? Untuk apa kau ke sini?"

"I-itu... Sebenarnya..." Padahal mudah. Lyra bahkan sudah mempersiapkan alasannya sejak masih di rumah. Namun, entah kenapa dia takut sekali bertanya langsung kepada Edgar. Hingga akhirnya, Lyra memutuskan untuk berlagak bodoh dengan melompat kecil dan berkata antusias, "Kau tahu? Aku sudah bisa membidik tepat ke target!"

Bodohnya, Edgar yang semula ketakutan turut berbinar-binar. "Kau serius?"

Canggung, Lyra mengangguk. "Ya..."

"Astaga, aku tidak percaya waktunya secepat ini." Tiba-tiba, Edgar turun dari punggung Robby. "Kalau begitu, ini saatnya, Lyra."

Lyra nyaris menjerit saat Edgar tahu-tahu menggendong tubuhnya dan membawanya menaiki Robby. "Hei! Jangan culik aku!"

"Harus, karena aku harus membawamu pergi ke suatu tempat saat ini juga."

Tak mempedulikan Lyra yang melongo panik sekaligus bertanya-tanya, seperti biasanya Edgar turut menunggangi Robby dan merangkum Lyra dalam dekapan tak sengaja saat menggenggam tali kendali. Mendadak, Edgar lupa kalau hari ini dia harus bekerja. "Akhirnya saat ini tiba juga."

"Saat apa, sih? Sejak tadi kau bicara melantur seolah ini adalah hari spesial. Hei! Aku hanya bilang aku sudah berhasil membidik target. Kenapa kau senang sekali?"

Di belakangnya, Edgar tersenyum secerah pagi ini. Bibirnya tak lekas merespons Lyra, hanya sibuk menggerakkan Robby agar melangkah setengah cepat dan meninggalkan kawasan istana. Dia biarkan seluruh penduduk bertanya-tanya akan kehadirannya bersama seorang wanita cantik saat melewati pasar. Namun, kali ini Edgar berbangga hati bisa berjalan di tengah ramai tanpa harus menyebarkan dongeng. Sebab, dia sudah memiliki jawaban di hadapannya.

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang