25. Mora and Christopher

290 48 6
                                        

CHAPTER 25
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2023

.

.

.

EDGAR buru-buru menyeretnya ke Danau Mora bahkan sebelum Lyra sempat membuka rahang untuk kembali bertanya. Robby melaju ugal-ugalan sebab sang pengemudi juga mencambuk tubuh kuda itu dengan kaki secara serampangan. Selama perjalanan Lyra panik bukan main, tetapi di sisi lain dia penasaran hal apa yang membuat Edgar mendadak jadi begitu bersemangat.

Hingga tiba di pinggir Danau Mora yang terasa hangat, Lyra akhirnya mengetahui bahwa Edgar akan kembali mendongeng. Tidak, kali ini dia berusaha menganggap cerita-cerita Edgar sebagai kebenaran yang akan menjadi petunjuk untuknya menuju jalan pulang. Maka, sambil menenggelamkan kaki merasakan kehangatan air danau, dia menunggu Edgar yang duduk di sebelahnya mulai bicara.

"Kau serius tidak kedinginan, Lyra?"

Lyra tidak sadar bahwa sejak tadi Edgar melongo memperhatikan kesaktian Lyra. Hei! Wanita itu nyaman sekali menenggelamkan kakinya di Danau Mora yang super beku seolah kolam air hangat.

"Kenapa harus kedinginanan? Ini hangat." Jawaban yang berusaha Edgar tanggapi dengan maklum, sebab dia tahu siapa Lyra dan hubungannya dengan danau ini.

"Baiklah. Buat dirimu nyaman, karena aku akan menceritakan hal yang mungkin terdengar sangat mustahil untukmu. Tapi peringatan, ini sama sekali bukan bualan. Kau harus mempercayainya."

Sambil menggoyangkan jempol-jempol kakinya, Lyra menjawab berusaha santai, "Aku percaya padamu sejak kau berani menyentuh Oracle panas itu. Kau betulan sakti."

"Sebelumnya aku mau bertanya. Seberapa sering kau mengingat hal-hal yang tidak berhubungan denganmu?"

Pertanyaan yang tepat membidik kekhawatirannya itu membuat Lyra segera kehilangan rasa nyaman atas hangatnya Danau Mora. Dia menoleh dramatis menatap Edgar. "Kau tahu dari mana?"

"Sudah kubilang aku tahu semuanya, 'kan?"

Lyra ragu. Namun, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuknya menceritakan hal ini kepada orang lain sebab mau bagaimana pun, dia hanya pendatang yang jelas membutuhkan pemandu.

"Aku mulai mengingat hal-hal aneh semenjak bertemu dengan Ethan."

Lyra sengaja menjeda untuk melihat reaksi Edgar. Namun, alih-alih kaget, pria itu hanya mengangguk-angguk sambil bergumam, "Hm..."

"Kau tidak kaget?"

"Kaget? Oh. Aku sudah tahu kalian sudah bertemu. Aku bahkan pernah membuat rumah tanggamu nyaris hancur karena membidik gubuk Aaron dengan panah sekaligus surat. Tapi, ayo lupakan itu dan lanjutkan ceritamu."

Karena tidak mengerti dengan anak panah dan surat yang Edgar sebutkan, Lyra memilih untuk melanjutkan kisahnya dengan serius. "Di ingatanku, Ethan seperti tidak asing, begitu pun denganku. Rasanya, seolah kami pernah menjalani kehidupan yang manis di masa lalu. Akhir-akhir ini aku malah merasa terikat dengannya tiap kali kami berhadapan. Aku sering kehilangan kendali atas perasaanku sendiri. Puncaknya adalah di istana kemarin..."

"Di istana kemarin?"

Lyra menghela napas gusar. "Dia menciumku, dan entah kenapa aku justru dengan senang hati menerimanya. Perasaan yang kurasakan saat itu seolah bukan milikku, Edgar."

Edgar menatap riak air yang tercipta tenang akibat gerakan kaki Lyra pada danau. Dia tersenyum sebab rasa-rasanya, Danau Mora menerima kehadiran Lyra dengan baik, dan untuk saat ini, itu merupakan hal yang baik pula.

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang