CHAPTER 25
BLANCHED DIMENSION
©NAYLTAE
2023
.
.
.
KEMBALI berhadapan dengan istana kekuasaan Ethan bagai mimpi buruk yang membuat perut Lyra melilit dan ingin muntah. Bayangan masa lalu asing milik Mora menguasai loker-loker pikirannya semakin jahat lagi. Dalam satu menit, semakin Lyra menganga pada kemegahan istana, terhitung setidaknya tiga puluh detik dia merasa pernah singgah pada sudut-sudut istana yang dilewatinya.
Ini adalah pusat kekuasaan Grindaltan, dengan Ethan sebagai raja yang merupakan keturunan Christopher. Ketika datang ke tempat ini sebagai merpati hingga mengetahui kalau tempatnya tersesat adalah Grindaltan yang selalu dia bayangkan rupanya setiap malam, tidak sekalipun Lyra berandai akan jadi pemeran utama yang akan merevisi alur dongeng turun temurun Grindaltan. Pikirnya, dia hanya akan hidup bersama Aaron di bawah gubuk satu ruang itu hingga portal ajaib yang membawanya kemari muncul kembali.
"Apa aku harus pura-pura mencintainya?"
Edgar dan Lyra berjalan di antara titik-titik matahari yang menyusup melalui sela daun di pepohonan. Kalau saja hamparan tempat kakinya menapak saat ini adalah rumput hijau, mungkin Lyra akan dua persen lebih antusias masuk ke tempat ini.
"Kau diam saja. Aku sudah punya rencana." Edgar bersuara yakin, maka Lyra mencoba yakin juga.
"Aku harap rencanamu tidak akan membuatku kesulitan."
Saat tiba di depan pintu masuk istana dengan dua penjaga kekar di sisi kanan dan kirinya, Lyra mati-matian mengendalikan kesadaran agar tetap menjadi dirinya. Sedangkan di sebelahnya, Edgar tertawa, terdengar antusias dan tak sabar. "Kau tahu? Aku benar-benar penasaran bagaimana ini akan berakhir."
Karena koneksi Edgar, pintu istana dibuka. Sambil melarikan padangannya ke seluruh interior istana, Lyra berkata selancar air terjun, "Kupikir seharusnya kau sudah tahu, Tuan Peramal."
Edgar menarik tangan Lyra sebelum wanita itu tersesat saking seriusnya melihat-lihat. "Tidak. Aku hanya tahu kalau suatu saat Mora akan membalaskan dendamnya lewat seseorang. Dan sekarang sudah terungkap kalau seseorang itu adalah kau. Bagaimana cara Mora membalaskan dendamnya, aku tidak tahu."
Saat mendengar hal itu pertama kali dari Edgar di Danau Mora, Lyra khawatir dia akan berakhir menyakiti seseorang, termasuk Edgar. Namun, Edgar meyakinkan bahwa setidaknya dia tidak akan mati hingga Lyra berhasil menyelesaikan misinya. Maka, selagi bukan Aaron dan Edgar, Lyra meyakinkan diri bawa tidak apa-apa menyakiti seseorang karena orang dan segala peristiwa yang terjadi di tempat ini semata-mata hanyalah dongeng.
Bicara tentang Aaron, pagi-pagi begini pria itu mungkin tengah kalang kabut mencari Lyra yang menghilang dari pelukan tidurnya. Lyra merasa begitu berat hati meninggalkan Aaron, tetapi dia harus melakukannya. Lyra berniat berpamitan dengan hangat, tetapi hal itu hanya akan membuat Aaron mengurungnya di dalam gubuk. Maka, karena Lyra tidak menguasai aksara Grindaltan, Lyra mendikte ucapan perpisahannya kepada Edgar untuk dituliskan pada secarik perkamen yang kemudian dia tinggalkan di lemari di sebelah tempat Aaron tertidur.
Lyra hanya berharap Edgar tidak berbuat jahil dengan menulis hal-hal di luar ucapannya.
Koridor di seluruh istana begitu kelam dan sepi, membuat Lyra turut merasakan betapa kesepian Ethan berkuasa tanpa keluarga. Pada bagian kanan dan kiri pandangannya, balkon-balkon tersusun ramai dan rapi bagai kumpulan buku di rak perpustakaan. Namun, lagi-lagi puluhan ruang itu hanya membuat istana ini jadi semakin terlihat begitu menyedihkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
FanfictionDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
