08. Immortal Mora

275 59 15
                                        

CHAPTER 08
BLANCHED DIMENSION
©NAYLTAE
2023

.

.

.

MENJADI seorang pendatang baru yang tak mengetahui apapun tentang tempat yang disinggahi merupakan sebuah kerugian besar untuk Lyra. Di saat Aaron menatap punggung Edgar tanpa mengatakan apapun, dia menahan keinginan di dalam hatinya untuk menghajar pria di sebelahnya ini dan memaksanya mengatakan setidaknya sebuah kata. Sebab Aaron harus bicara agar dia bisa mengerti keadaan apa yang tengah menimpanya saat ini.

"Putuskan sekarang, Kakak ipar. Ini bukan sesuatu yang harus kau pikirkan matang-matang, 'kan?"

Setelah kalimat yang Edgar ucapkan, sama sekali tak ada obrolan yang kembali tercipta. Aaron masih tak bicara, membuat Lyra gelisah saking penasarannya. Makin jauh perjalanan, kereta kuda milik Edgar makin pelan melangkah. Malam pun jatuh ketika mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah danau jernih terhampar luas di depan sana.

"Astaga, akhirnya sampai juga. Aku lelah sekali." Edgar turun dari kudanya.

Pikiran yang sejak tadi kosong membuat Aaron tak sadar jika Lyra kini tengah tertidur di bahunya. Di bawah terpaan sinar bulan, Aaron menghabiskan beberapa detiknya untuk memandangi wajah terlelap Lyra guna mengisi sesuatu yang terasa kosong pada sebagian sisi hatinya.

"Harus kuapakan kau ini?" Tangannya menyentuh anak rambut Lyra yang menjuntai. "Kenapa kau harus datang tiba-tiba dan membuat hidupku kerepotan? Sekarang apa yang harus aku lakukan terhadapmu, Lyra?"

"Kakak ipar! Bisa kau bangunkan Lyra? Aku bawa banyak makanan. Kita harus makan malam sebelum pulang besok pagi."

Lagi, semua omong kosong Edgar hari ini lagi-lagi hanya membuat Aaron mendengkus dan menghela. Dia tahu sejak dulu Edgar memang menyebalkan. Karena pria itu selalu merasa hebat, Edgar kerap bersikap semena-mena kepada semua orang, termasuk dirinya. Kini, alangkah muaknya dia mendengar Edgar terus memanggilnya dengan sebutan kakak ipar.

"Kakak ipar, kau dengar aku tidak, sih?"

"Berhenti memanggilku kakak ipar, Bajingan. Kau mau mati?"

Lyra di bahunya terkesiap, terbangun dari tidur. Aaron kebingungan, hendak kembali membuat Lyra tertidur namun gadis itu sudah lebih dulu mengangkat kepalanya. Dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka, suara serak Lyra berbicara, "Kenapa gelap sekali? Sudah malam, ya?"

Aaron tersenyum. Akhir-akhir ini dia jadi mudah sekali tersenyum karena Lyra. "Iya, sudah malam. Kau mau makan?"

"Makanan? Memangnya kita punya?" Lyra masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Tidur di siang hari benar-benar membuat kepalanya jadi pusing.

"Bocah sialan itu punya." Pelan-pelan, Aaron menuntun Lyra untuk menuruni kereta. Di atas salju di tepi danau, terlihat Edgar tengah sibuk dengan api unggunnya yang tak kunjung menyala. "Lihat? Kau tahu apa saja yang bisa anak itu lakukan? Tidak ada. Dibanding tangannya, mulutnya itu justru terlihat lebih banyak bekerja."

Lyra yang masih mengantuk hanya menanggapi dengan tawa kecil. Mereka duduk melingkari tumpukan kayu yang hingga saat ini masih berusaha Edgar nyalakan. Meski pria itu lebih banyak mengumpat dengan mulutnya alih-alih menggesek dua bilah kayu di tangannya dengan lebih semangat, pemandangan ini sedikit menghibur Lyra. Nyatanya, Edgar tidak seburuk itu.

"Mana makanannya? Kau bilang ada makanan." Aaron bicara.

"Setidaknya bantu aku nyalakan ini dulu, Sialan!" Edgar melempar satu kayunya ke arah Aaron. "Kau mau makan sambil gelap-gelapan, hah? Bagaimana kalau ada hantu yang tiba-tiba muncul dari danau?"

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang