32. The Cristopher

105 22 4
                                        

kalo lupa alur, boleh baca part sebelumnya dulu guys hwhwhw :(


CHAPTER 32
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2025

.

.

.

LYRA menunggu kehadiran Ethan di kamarnya-entah kenapa. Pria yang mudah khawatir itu seharusnya datang segera setelah mengetahui kabar kalau dirinya sudah siuman. Namun, hingga jendela-jendela yang menampilkan hamparan langit di luar sana mulai menggelap, Lyra masih berbaring sendirian di ranjangnya tanpa kunjungan Ethan.

Lyra kehilangan pening secara total padahal sebelumnya kepalanya berputar hingga merasa ingin muntah. Tersisa sedikit rasa sakit di belakang kepalanya akibat benturan dengan lantai marmer anak tangga. Sisanya, Lyra merasa amat baik-baik saja untuk memutuskan bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamarnya.

Ia penasaran di mana Ethan berada sekarang.

Istana semakin sepi saat malam datang. Beberapa pengawal menjaga pintu-pintu ruangan yang sebenarnya kosong. Lyra juga tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Aaron di perjalanannya menuju luar istana. Namun, ia menemukan orang yang ia cari. Ethan tengah berlatih pedang dengan salah satu pengawal di halaman istana yang dipenuhi salju.

Gaun tidur Lyra yang berwarna putih terang bersinar bersamaan dengan bulan di langit, sehingga mudah bagi Ethan menyadari kehadiran sang istri di sudut halaman.

Lyra siap menyambut refleks terkejut Ethan karena menemukan dirinya berkeliaran hingga ke halaman padahal baru siuman. Namun, dua detik setelah pandangan mereka beradu, Ethan berwajah datar. Pada detik berikutnya, pria itu tersenyum tipis dan menyerahkan pedang kepada rekan latihan. Sambil sedikit terengah-engah, Ethan berjalan menghampirinya.

"Sudah merasa lebih baik?"

Lyra tersenyum kaku dan mengangguk.

Di hadapannya, Ethan menatapnya selama beberapa detik dengan pandangan yang tak bisa Lyra artikan. Kemudian, pria itu tiba-tiba memeluknya. Bukan pelukan sambutan karena lega melihat istrinya sudah sadar dari pingsan.

"Apa terjadi sesuatu?" Lyra membeku bingung.

"Mungkin iya," Ethan bersandar nyaman di pelukannya, "Sejujurnya, aku bingung setelah mendengar kabar ini. Di situasi terkutuk ini, kabar kehamilanmu seharusnya tidak membuatku senang, tetapi aku ingin merasa senang."

Sekujur tubuh Lyra menegang, jantungnya berdegup kencang dan mungkin turut dirasakan Ethan. Ia sama sekali tak pernah membayangkan skenario seperti ini selama merencanakan kehidupannya di Grindaltan. Hal-hal seperti ini tentu saja akan mempersulit rencananya kembali ke rumah. Namun, lebih dari itu, Lyra bertanya-tanya; bagaimana ini bisa terjadi?

"Kau tidak salah, 'kan?"

Terdengar Ethan tertawa kecil. "Tidak, Lyra. Pertama kali mendengarnya, aku menangis. Tetapi aku tidak yakin bagaimana perasaanku saat menangis. Aku senang, tapi aku takut."

Perasaan Ethan bukan hal yang Lyra pedulikan sekarang. Ia hanya membutuhkan Edgar untuk menjelaskan kejadian ini kepadanya. Kenapa rasa-rasanya jalan menuju dunianya jadi semakin jauh? Kehamilan ini bukan hal yang pernah terlintas di pikirannya. Ia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan secara tiba-tiba mengandung.

Saat Ethan melepas pelukan dan menatapnya sambil menggenggam lembut kedua bahunya, Lyra bisa melihat pantulan cahaya bulan di permukaan kedua bola mata yang berkaca-kaca itu. Raut Ethan masih sama-dilingkupi kehangatan yang tulus dan menenangkan, seolah ia adalah pria yang paling mencintainya di alam ini. Lalu tiba-tiba, ia teringat pesan Edgar beberapa saat lalu. Di antara Ethan dan Aaron, siapa yang mungkin benar-benar mencintainya?

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang