34. A DREAM

74 13 8
                                        

CHAPTER 34
BLANCHED DIMENSION
NAYLTAE
© 2025

.

.

.

PULUHAN malam terasa hangat di kastil pengasingan—setidaknya itu yang North upayakan kepada Mora beserta bayi di kandungannya. North menyulap sudut kastil di dekat taman menjadi sebuah kediaman kecil yang bersinar jingga dan beraroma kayu serta bunga. Setiap malam, North berupaya membuat Mora bersedia menghadiri sebuah pertunjukkan musik pengantar tidur. Pertunjukkan yang dipersembahkan oleh dirinya.

Diperkirakan hanya menghitung hari hingga lahirnya pewaris Grindaltan, tetapi hati Mora masih terasa sepi atas kehadiran sang suami yang tak kunjung jadi nyata. Beruntungnya, saat dirinya mulai termenung merindukan Cristopher hingga nyaris meneteskan air mata, North selalu datang sambil berkata bahwa tempat ini adalah tempat yang tak kalah indah dari istana untuk ditinggali berdua bersama anaknya. Dengan kata lain, North ingin Mora perlahan-lahan melepaskan harapannya untuk dijemput Cristopher dan kembali ke istana. North ingin Mora terbiasa.

Mora mengenakan gaun satin berlapis jaket tidur miliknya. Ia duduk di atas bangku kayu buatan North, sementara North menyamankan diri di atas tumpukan jerami tebal. Api unggun bergemericik di tengah-tengah mereka, dan apinya memancarkan cahaya sekaligus rasa hangat.

"Musik apa yang berniat kau mainkan untukku malam ini, North?" Mora bertanya pelan sambil mengusap-usap perutnya yang di waktu tertentu mulai terasa sakit. Menantikan dengan sabar.

"Musik yang bisa membuatmu tidur nyenyak, Yang Mulia." North tersenyum. Ia menggulirkan pandangannya ke arah alat musik petik bernama Valenhar lalu memejamkan mata.

North memetik satu per satu senar secara perlahan. Bibirnya mengerucut, meniup angin, dan bersiul. Petikan senar yang menghasilkan bunyi gema seperti tetesan air di ruang kosong seolah secara sengaja mengundang angin untuk menyapu kulit-kulit mereka serta mengobarkan api unggun dengan cara yang begitu lembut. Mora menyukai petikan senar Valenhar yang memiliki ekor. Suaranya tak habis sesaat setelah North selesai memetik senar. Alat musik itu justru berbunyi indah dengan gema-gema panjangnya.

Mora memperhatikan ekspresi North bergantian dengan lihainya jemari itu bekerja. Dingin dan hangat menyelimuti tubuhnya secara bersamaan, dan ia merasakan hatinya begitu penuh setiap kali North meniupkan siulan dari bibirnya. Pria itu selalu terasa menenangkan baginya, sekecil apa pun tindakan yang ia lakukan.

Lalu, permainan Valenhar North jadi musik latar bagi imajinasi Mora. Kastil pengasingan ini tak sedingin saat ia membayangkannya untuk pertama kali. North membuatnya hangat. Ia mulai berpikir; dirinya, anaknya, dan North di tempat besar ini mungkin bukan sesuatu yang buruk. Setiap malam, North tidak hanya memainkan Valenhar untuknya, tetapi juga bayinya. Ia akan menantikan North kembali setelah berburu—seperti biasanya—tetapi kali ini bersama bayinya.

Menjadi Ratu Grindaltan mungkin memang bukan takdirnya. Lantas, apakah ia boleh mengatakan bahwa hidup bersama North adalah takdirnya?

"North," Mora menginterupsi.

North menghentikan permainan musiknya dan mengangkat pandangan. "Ada apa, Yang Mulia?"

"Kemarilah."

North sedikit bingung saat Mora menepuk bagian kosong di sebelahnya untuk menginstruksikan ia agar duduk di sana. North membaringkan Valenhar di atas jerami dan perlahan-lahan dengan tetap bersikap sopan duduk di berdampingan dengan Mora. Ini bukan yang pertama kali mereka berada pada jarak sedekat ini. Namun, ini adalah pertama kalinya bagi North secara khusus diminta mendekat oleh sang ratu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang