CHAPTER 14
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2023
.
.
.
MELIHAT Aaron meradang di hadapannya, Lyra dibuat tak bernyali untuk mengatakan apapun. Malam itu, bibirnya hampir ucapkan sebuah kata, namun, Aaron lebih dulu melenggang keluarㅡmencabut panah yang menancap di dinding kayu rumahnya sebelum mematah benda itu menjadi dua. Lyra di ambang pintu hanya gemetar sambil menatap Aaron. Ini adalah kali pertamanya melihat Aaron semarah itu, atau, kali pertamanya melihat seseorang marah dengan sebegitu besarnya.
Dalam keadaan sakit, Aaron membekukan diri di luar rumah selama semalaman. Ketika membuka mata di keesokan paginya, Lyra sudah tak mendapati pria itu di rumahnya. Aaron pergi tanpa menjelaskan alasan di balik luapan amarahnya. Pun jika pria itu khawatir, seharusnya tidak sampai seperti ini, 'kan?
Buruknya, setelah beberapa hari berlalu, entah kenapa semesta memilih hari ini untuk cuaca mendungnya. Dari atas bukit tinggi yang berhadapan langsung dengan langit luas, Lyra bisa melihat gulungan awan seolah siap ambruk menimpa kepalanya. Badai salju kali ini mungkin akan lebih buruk dibanding kali pertamanya.
"Aku akan menjelaskan semuanya, Aaron. Kumohon pulang hari ini." Bibir kecilnya memohon.
Hingga waktu merangkak naik, Lyra masih berharap Edgar akan datang seperti kali-kali sebelumnya. Hari ini, pria itu menghilang bersamaan dengan waktu sepi Lyra. Setidaknya, Lyra tak ingin melewati badai ini sendirian. Di saat badai, cara terbaik untuk membuatnya tak ketakutan adalah dengan berbincang dengan seseorang.
"Seharusnya kemarin aku bicara. Kalau sudah marah begini, mungkin Aaron tidak akan pulang hingga nanti malam." Lyra menunduk, nyaris menangis. Rasa-rasanya, benar-benar tak ada harapan untuk Aaron pulang.
"Lyra?"
Atas panggilan terebut, Lyra sepontan mengangkat pandangannya. Di sisi kanannya, berdiri seseorang yang tak dia duga-duga. Bukan Edgar maupun Aaron yang namanya tak habis dia rapalkan di dalam hati, melainkan sosok pria yang baru dia temui kemarin, seseorang yang mungkin merupakan akar dari ketegangan hubungannya dengan Aaron saat ini.
"KauㅡEthan?'
Pria di bawah naungan fedora tersebut tersenyum lembut. "Iya, aku senang kau mengingat namaku."
Lyra tak memiliki apapun untuk dikatakan. Teman yang diharapkan tak berarti membuatnya lekas merasa aman. Alih-alih begitu, mungkin setelah ini masalah lain akan menimpanya. Ketakutan akan hal itu membuat Lyra mengunci mulutnya, tak sanggup berbicara di tengah kalut pikirannya.
"Di sini rumahmu? Kau tinggal sendirian?" Saat Ethan menduduki spot kosong di sebelah Lyra, gadis itu spontan menjauh dengan pandangan yang belum tertuju padanya. Ethan terkejut, tentu saja. Namun, dia tetap mempertahankan senyum tipisnya. "Kenapa kau di sini? Seharusnya kau masuk, sebentar lagi akan badai."
"Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu?" Lyra menoleh, tak tahan lagi. "Kenapa kau di sini? Bagaimana kau bisa tahu rumahku?"
"Akuㅡtahu semua tempat di sini." Niatnya berkilah, namun Ethan pikir, apa salahnya jika sedikit demi sedikit dia mengenalkan sosok aslinya kepada Lyra?
"Bahkan rumahku?"
Ethan mengangguk lugu.
Terhitung nyaris satu bulan hidup di tempat ini, Lyra sama sekali belum pernah merasakan emosinya berapi-api. Ini lain dari emosi yang biasa dia rasakan karena sikap menjengkelkan Aaron, kali ini, dia benar-benar merasa marah karena terganggu. "Dengar, ya. Bukankah seharusnya kau tidak ada di sini mengingat kita tidak pernah sepakat untuk saling mengenal?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
Fiksi PenggemarDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
