CHAPTER 31
BLANCHED DIMENSION
© NAYLTAE
2025
.
.
.
Lyra menyaksikan Grindaltan berabad-abad lalu, ketika Cristopher dan Mora berbahagia di hari-hari pernikahan mereka; ketika istana masih begitu hidup dan ramai oleh keturunan Cristopher; dan ketika di luar sana warga Grindaltan menentang pernikahan mereka. Di dalam mimpinya, Lyra menyaksikan semua peristiwa itu dalam sekelebat film yang mungkin akan segera ia lupakan.
Mimpi Lyra beralih ke peristiwa berikutnya. Di bawah hamparan langit jernih dan bintang, sepasang kaki milik Cristopher dan Mora menyentuh rumput Grindaltan yang subur. Beberapa saat lalu rasanya keduanya bahagia setelah berkuda bersama. Kini, mendadak suasana begitu murung di antara keduanya. Sangat amat keruh.
"Kau tahu aku tidak akan membahayakan siapapun dengan kekuatanku, Yang Mulia. Aku sudah berjanji kepadamu. Aku meninggalkan kekuatanku saat aku memutuskan untuk menerima pinanganmu."
Suara Mora mengalun pelan, tetapi penuh kekecewaan.
Christoper menunduk sambil memijat pelipisnya. "Warga Grindaltan tidak akan merasa tenang dengan alasan apapun, Mora. Kau adalah penyihir di mata mereka, dan itu membuat mereka khawatir."
"Jangan menyebutku penyihir, Yang Mulia." Air mata Mora menetes, hatinya begitu sakit. "Kau yang memilih jatuh cinta dan menikahi penyihir ini. Kenapa sekarang kau bersikap seolah-olah aku begitu menjijikkan?"
"Tidak, Mora." Cristopher menyentuh tangan istrinya. "Aku tidak bermaksud menghinamu. Mengertilah. Kini warga juga mulai menggangguku. Suara-suara di telingaku, rasa sakit yang tiba-tiba muncul di kepala dan dadaku. Ini jelas peringatan dari mereka."
"Dengan kata lain, aku adalah penyebab kau menderita." Mora tersenyum getir, melepas tangannya dari genggaman suaminya. "Apa yang kau inginkan terhadapku agar kau bebas, Yang Mulia? Mati?"
"Tidak, Mora." Cristopher menggeleng. Tenggorokannya mendadak tidak sanggup mengatakan apapun. "Menghilanglah dari istana ini, ke tempat yang pernah aku katakan. Aku akan sering berkunjung ke sana. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kau tetap menjadi permaisuriku. Ini semua demi keselamatanmu."
Lagi, Mora tersenyum getir. "Jelas-jelas ini demi keselamatanmu."
"Mora..."
"Lalu bagaimana dengan anakmu di kandunganku?"
Cristopher diam. Ia nyaris lupa kalau saat ini istrinya tengah mengandung anaknya. Ia memandang perut istrinya yang hampir buncit dengan isi pikiran yang berantakan.
"Aku akan pastikan dia lahir dalam keadaan selamat dan bahagia." Christopher menyentuh permukaan perut istrinya yang dibatasi dengan gaun. Ia mencoba bersikap hangat, tetapi wajahnya hanya menunjukkan kekhawatiran. "Tempatmu nanti akan jadi istana yang sama mewahnya dengan Grindaltan. Kalian aman di sana. Aku berjanji."
Lyra penasaran dengan keputusan Mora malam itu, tetapi mimpinya secara cepat beralih ke peristiwa yang lain. Di sana, Mora duduk sendirian di sebuah kursi di depan jendela raksasa dengan perutnya yang semakin membesar. Tempat itu bukan istana Grindaltan, dan Lyra menyimpulkan kalau Mora setuju untuk pergi ke tempat pelarian. Mora kesepian di sana. Istana yang memang sama mewahnya dengan Grindaltan itu hanya dihuni oleh ia seorang diri.
"Yang Mulia,"
Tidak. Ada orang lain di sana. Seorang pria.
Mora menolah lemah dan pelan. "Ya, North?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
Hayran KurguDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
