30. TEAR TUNNEL

160 29 3
                                        

CHAPATER 30
BLANCHED DIMENSION
©NAYLTAE
2025

.

.

.

BERTAHUN yang lalu, Aaron ingat pernah melarikan diri lewat sebuah pintu di ruang bawah tanah yang mengarah ke perbatasan Grindaltan. Rutenya panjang. Untuk sampai ke pintu itu, meski masih berada di dalam istana, Aaron kecil harus berlari sejak langit masih terang hingga gelap. Kini, Aaron melakukan hal yang sama-berlari menuju pintu untuk melarikan diri bersama Lyra yang tak sadarkan diri di pelukannya.

Namun, upaya Aaron kali ini sia-sia. Ketika tiba di titik yang persis seperti ingatannya saat kecil, pintu itu tidak ada di sana. Hanya sebuah dinding kokoh yang mustahil untuk dihancurkan. Pintu itu telah dihilangkan dari istana ini, dan tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri.

Di antara remang ruang bawah tanah, Aaron bernapas cepat dan keras karena kelelahan. Ia bahkan berkeringat.

Aaron berhenti menatap dinding saat di dadanya Lyra terbatuk. Suaranya menggema ke seluruh lorong yang kosong. Aaron buru-buru memosisikan dirinya duduk agar dapat melihat keadaan Lyra dengan lebih jelas.

"Lyra?"

Perlahan-lahan, kedua mata Lyra terbuka. Di titik itu, Aaron menelan ludahnya gelisah. Ia tidak berhasil membawa Lyra melarikan diri, tetapi hanya setetes obat tidur yang ia berikan justru membuat wanita itu sadarkan diri lebih awal.

"Kau seharusnya menuangkan lebih banyak obat ke dalam minumanku agar aku mati sekalian, Aaron." Suara Lyra lemah, dan Aaron tak berani mengatakan apapun.

Saat Lyra berhasil membawa tubuhnya bangkit dari Aaron, mata bundarnya yang mengilap memperhatikan sekeliling. Di ruangan temaram yang dingin ini, Lyra bahkan bisa dengan jelas mendengar suara detak jantungnya yang bertalu begitu keras-takut.

"Kita di mana, Aaron?"

Dengan berat hati Aaron mengatakan, "Masih di istana."

Entah mengapa, Lyra menghela napas lega. Ia bersyukur Aaron gagal membawanya lari, kendati ia juga ingin merealisasikan keinginan Aaron untuk kembali hidup berdua saja. Keinginan Lyra untuk segera menamatkan dongeng ini lebih besar dibandingkan keinginannya untuk melanjutkan dongeng ini di bagian yang lain bersama Aaron.

Setelah diamnya, Aaron memberanikan diri untuk bicara. "Lyra, maafkan aku. Aku benar-benar ingin membawamu pergi dari sini. Tidak bisakah kita kembali seperti sedia kala?"

Lyra bungkam. Kepalanya menunduk. Ia ingin menyembunyikan tangisnya, tetapi ruangan ini membuat isakan kecilnya menggema dan sampai ke telinga Aaron. "Mengertilah, Aaron. Sejak awal seharusnya tempatku bukan di sini-di rumahmu maupun di istana ini. Aku hanya ingin pulang ke rumahku, Aaron."

"Kau mendengarkan ucapan Edgar, 'kan?"

Lyra menggeleng frustasi. "Kau tidak akan mengerti karena kau tidak pernah setuju dengan Edgar. Semua yang Edgar ceritakan soal diriku terasa lebih masuk akal daripada angan-angan kita untuk hidup bersama. Edgar memberiku cara agar aku bisa pulang ke rumah, dan saat ini aku sedang melakukannya. Aku tidak akan mengatakan kepadamu cara seperti apa yang Edgar berikan, karena kau lagi-lagi hanya akan menganggapnya sedang berdongeng."

Aaron bergeming dengan tubuh yang kaku dan mata yang mulai meneteskan air mata. Sebaliknya, justru ia tak pernah sekalipun menganggap ucapan Edgar sebagai dongeng. Ia meyakini semuanya. Namun, karena semua ucapan Edgar selalu berupa takdir yang pasti menjadi nyata, Aaron jadi begitu takut. Ia takut karena semua takdir itu pada akhirnya tidak pernah membuatnya bahagia, termasuk kali ini.

Blanched DimensionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang