CHAPTER 12
BLANCHED DIMENSION
©NAYLTAE
2023
.
.
.
SEANDAINYA selama ini dia terlalu banyak membuat Aaron repot, Lyra sungguh meminta maaf. Kepada orang tua dan adiknya yang tak sengaja dia tinggal di rumah, juga kepada nenek yang larangannya justru selalu Lyra langgar. Seandainya mereka bisa mendengar teriakan ampun di hatinya saat ini, Lyra sungguh menyesal. Lalu kepada teman-teman kampusnyaㅡ
Suara debum yang mendadak terdengar membuat Lyra membuka mata. Alih-alih pedang yang mendarat di lehernya, Lyra justru mendapati pria di hadapannya kini jatuh tergeletak di atas salju dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedikit, Lyra menunduk untuk memastikan bahwa pria itu masih hidup.
"Seharusnya dia masih hidup, tidak boleh mati. Aku tidak mau dituduh membunuhnya."
Dadanya masih mengembang dan mengempis meski tak beraturan, menandakan bahwa pria itu masih bernyawa. Namun, di balik kain hitam yang membalut hampir keseluruhan wajahnya, Lyra mendapati cairan gelap merembes dari sana, perlahan melebar dan semakin membuat Lyra ketakutan.
"Aku harus pergi. Aku benar-benar tidak mau dituduh pembunuh seandainya dia benar-benar akan mati."
Lyra memutar tubuh, namun baru sekali kakinya melangkah, pria di belakangnya terbatuk. Sisi kemanusiaan yang tak mau mengalah di dalam dirinya membuatnya lekas menghentikan langkah. Perlahan, Lyra memutar pandangannya ke belakang. Menemukan mata itu perlahan terbuka dengan begitu lemah, hati kecil Lyra rasanya seperti ikut terluka.
Aku tidak boleh bersikap baik kepada orang asing, batinnya berusaha egois. Namun, ketika tangan yang semula tergeletak bersama pedangnya itu mulai terangkat dengan penuh usaha, Lyra tak lagi mampu menahan dirinya. Dia kembali menghadap pria itu secara penuh kemudian duduk di atas salju.
"Aku tidak tahu kenapa kau berniat membunuhku sebelumnya, tapi aku bisa pastikan kalau aku ini orang baik. Aku mengejarmu bukan karena aku membuntutimu dengan sengaja, tapi karena kau mirip dengan seseorang yang kukenal. Dengar, aku akan membantumu sekarang tapi pastikan kau tidak akan membunuhku setelah itu, oke?"
"Oke?" Suara lemahnya yang serak mengulang, Lyra langsung terkejut.
"Yah, oke." Lyra menggaruk kepalanya. Dilihat dari responsnya, sepertinya warga di sini tidak mengenal kata oke dalam hidupnya.
Sebab Lyra tak mau membiarkan pemuda ini mati seandainya dia bergerak terlalu lama, dia segera mendekat berniat menyentuh pundak pria itu, namun urung. Tak pernah dihadapkan dengan orang yang sedang sakit membuat Lyra bingung harus menangani dengan cara apa. Ditambah, dia tidak tahu pria yang tengah tergeletak lemas di depannya ini tengah sakit apa.
"Emmm, pertama-tama, aku akan menyingkirkan pedang ini menjauh karena ini terlihat sangat menyeramkan." Dengan gemetar, Lyra menyentuh pegangan pedang tersebut dan mengangkatnya pelan-pelanㅡmatanya melirik ragu ke arah sang pemilik yang juga masih memperhatikannya. "Oh! Ini sangat berat. Tapi tidak apa-apa, aku bisa."
"Sudah?"
Lyra mengangkat kepala. "S-sudah. Sekarang sudah aman."
"Kalau begitu, bantu aku bangun."
Sebentar, ini masih orang yang sama yang ambruk di hadapannya beberapa menit yang lalu, 'kan? Lyra tak yakin, sekarang pria itu justru terlihat baik-baik saja.
"Kenapa diam? Aku tidak akan membunuhmu."
"Eh? Aku tidak sedang memikirkan itu, kok."
Seolah melupakan keraguan sebelumnya, Lyra perlahan mengangkat bahu berat pria tersebut hingga berganti ke posisi duduk. Dia sempat terbatuk beberapa kali, kemudian membuka penutup wajahnya hingga Lyra dibuat menelan ludahnya saat wajah itu nyaris dipenuhi dengan darah. Di dalam hati Lyra bertanya-tanya: kira-kira penyakit apa yang bisa membuat seseorang batuk darah hingga sebanyak ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Blanched Dimension
FanfictionDari sang nenek, Lyra selalu mendengar dongeng tentang sebuah bangsa yang mengalami kutukan abadi. Grindaltan yang membeku selama ratusan tahun lamanya, dengan sebab yang masih jadi ramalan. Suatu malam, Lyra bertanya-tanya: Apa benar tak ada cara...
