Part 1

6.7K 246 5
                                        

Dua garis!

Testpack yang di pegang oleh Jovita menunjukan dua garis disana, dua garis itu sudah jelas menunjukan dan menegaskan satu hal, Jovita positif hamil, di dalam perutnya terdapat janin yang baru tumbuh, walau masih segumpal darah tapi itu tetap lah calon anak manusia.

Gara-gara satu malam ia membuat kesalahan imbasnya sampai sejauh ini, ia tidak menyangka kalau dirinya akan mengandung janin dari laki-laki yang tidak ia ketahui, laki-laki satu malam yanh di temuinya di sebuah club malam.

Jovita, gadis ketutunan tionghoa-jawa itu memanglah bukan perempuan yang bisa di bilang baik, dirinya perempuan liar yang suka melakukan hal-hal liar, bahkan itu bukan kali pertama ia bercinta dengan laki-laki dari club malam, keperawanannya pun sudah hilang sejak dirinya duduk di bangku sekolah menengah atas.

Sang mantan kekasihlah yang sudah merenggut keperawanannya, dan setelah itu sampai saat ini Jovita selalu mencari kepuasan dari laki-laki, tapi dirinya selalu selektif mencari lako-laki yang akan di ajaknya kencan, ia tidak sudi bercinta dengan tua bangka yang sudah berumur, ia memilih laki-laki sebaya yang tentunya tampan.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, Jovita yang bisa di bilang pengalaman harus kena tulahnya sendiri, kini dirinya justru mengandung janin laki-laki yang tidak ia ketahui siapa, dirinya hanya sedikit hafal wajah laki-laki itu tanpa tau nama dan alamat rumahnya.

Semua itu terjadi di akibatkan dirinya yang mabuk berat malam itu, ia tidak tau kalau laki-laki itu mengeluarkannya di dalam, ia hanya ingat sudah terkapar di sebuah hotel dan di tinggal sendirian malam itu, siapa sangka kalau dirinya akan mendapati kenyataan ini setelah sebulan berlalu.

Jovita menatap nanar ke arah testpack yang ada di tangannya, ia sesekali mengumpat bahkan menggeram kesal saat melihat itu, ia di buat kalang kabut, ia bingung harus menjelaskannya seperti apa kepada kedua orang tuanya nanti.

"Gimana Jo hasilnya?"

"Hasilnya negatif kan Vit?"

Jovita tidak sendirian di apartement miliknya, disini ada dua sahabatnya yang bernama Meylin dan juga Karen, mereka berdua yang menemani sekaligus menyarankan agar Jovita mengeceknya dengan testpack, apa lagi mereka berdua melihat akhir-akhir ini kondisi Jovita kurang fit.

Meylin yang merasa geregetan sendiri karna tidak ada tanggapan langsung mengambil testpack dari tangan Jovita, ia lantas melihat hasil yang ada disana, kedua matanya membulat karna melihat hasil yang sungguh tidak mereka sangka.

"J-jo! L-lo hamil?" gagap Meylin.

"What? Vita hamil? Coba lihat sini." Karen langsung mengambil testpack dari tangan Meylin. "V-vit! L-lo beneran hamil!" lanjut Karen terkejut.

"Jo lo beneran hamil. Kok bisa sih Jo? Lo gak main aman apa sama tuh orang? Bisa-bisanya lo yang udah pro bisa hamil kayak gini," ucap Meylin.

"Gue gak tau Mey, gue gak ingat apa pun, gue terlalu mabuk. Lalu satu hal lagi, stop panggil gue 'Jo', call me Vita, paham!"

"Iya-iya J-eh! Maksud gue Vita." Meylin menyengir lebar.

"Udah-udah. Terus ini urusannya gimana? Lo ngandung janin dari laki-laki yang gak di ketahui siapa. Nasib janin ini gimana Vit?" tanya Karen.

"Gue saranin sih lo gugurin janin itu," saran Meylin.

"What? Lo gila ya Mey? Gue gak mungkin bunuh janin ini."

"Lah terus lo mau nya gimana? Jalan satu-satunya lo harus gugurim janin itu sebab lo gak tau siapa ayah dari anak itu, kalau di pertahanin siapa yang mau tanggung jawab? Gak ada kan?"

"Gue gak bisa gugurin janin ini. Udah cukup kelakuan gue yang kayak iblis, gue gak mau makin mirip iblis dengan ngebunuh anak gue sendiri, gue masih punya hati."

"Serah lo deh. Gue hanya ngasih saran doang."

"Udah-udah. Kalian debat mulu, yang di bilang Meylin ada benarnya juga, lo gak mungkin nanggung ini sendirian Vit, itu terlalu berat."

"Tuh dengerin, Karen aja setuju."

"Tapi yang di bilang Jovita juga sangat benar, janin itu darah dagingnya sendiri, sebagai seorang perempuan dia punya perasaan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, Jovita gak mungkin ngambil keputusan gegabah kayak gitu."

"Tuh dengerin Mey. Karen aja bijak gitu."

"Au dah. Terus solusinya apa?"

Mereka bertiga diam sambil memikirkan jalan keluarnya. Ketiga gadis itu memang bukan perempuan baik-baik, mereka penikmat dunia malam dan tentu saja mereka sering melakukan itu juga, bercinta dengan pasangan atau bahkan saling berbagi pasangan satu sama lain.

Hal-hal seperti itu sudah sering mereka lakukan, tapi kebanyakan mereka selalu melakukan itu dengan pasangan masing-masing, sangat jarang mereka bertukar pasangan atau melakukan itu secara bergantian, mereka tidak sehyper itu.

"Aha, gue punya solusinya," ucap Karen tiba-tiba dan membuat Jovita serta Meylin terperanjat.

"Busyet! Biasa aja woy gosah ngagetin juga jadi orang," semprot Meylin.

"Sorry dah, soalnya gue dapat ide yang brilian sih," balas Karen.

"Ya udah apa?"

"Gimana kalau lo minta tanggung jawab sama orang yang pernah kencan sama lo, atau lo cari aja suami bayaran yang mau jadi ayah dari anak lo, tentu lo bisa bayar orang itu."

"Hahaha. Bener-bener ide yang brilian, sanking briliannya gue hampir emosi dengernya. Lo gila ya Kar? Minta tanggung jawab? Lo pikir Jovita maen sama siapa aja sebulan terakhir, emangnya dia ingat apa?"

"Ya coba aja dulu Mey. Si Jovita tinggal itung dah berapa kali dia maen bulan lalu terus sama siapa aja, nah dia tinggal minta tanggung jawab salah satu dari mereka, bilang itu anaknya."

"Itu gak mungkin bisa Kar. Seingat gue kalau gue maen kita gak pernah mabuk berat, masih ingat daratan, dan lagi mereka pasti ingat soalnya mereka suka pake pengaman."

"Ya bilang aka kalau bablas gitu Vit."

"Itu mustahil Kar, yang ada gue mau sendiri entar."

"Nah betul tuh apa kata Jovita."

"Ya udah cara kedua aja, nyari orang yang mau nikahin lo, cari suami bayaran terus lo cerain dia kalau anak lo itu lahir, beres kan?"

"Itu lebih masuk akal, lo cari orang yang mau jadi suami dan anak dari kandungan lo itu. Tapi...hari gini siapa yang mau nanggung benih orang lain? Pasti mikirnya di manfaatin doang."

"Pastinya. Sulit kalau hal itu di lakukan."

"Terserah lo berdua aja deh, pusing gue. Yang penting gue udah ngasih lo saran, di terima atau engganya terserah lo, gue no coment." Karen jadi kesal sendiri.

Merasa sarannya di abaikan oleh Jovita dan juga Meylin, Karen memilih diam sambil menekuk wajahnya kesal, sudah cape-cape mikirin itu tapi tidak di dengerin sama sekali, mereka justru ribut sama hal yang belum tentu kejadian.

Karen membiarkan sahabatnya itu berpikir, biar dia yang pusing menangguh tulahnya sendiri.

* * *

...TO BE CONTINUE...

SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang