Beberapa hari berlalu kondisi Jovita masih seperti biasa, tidak terlalu banyak perubahan berarti, Jovita masih termenung tidak mau merespon apa pun, Jovita hanya bisa makan dan minum itu pun harus di bantu oleh orang lain.
Untungnya Jovita tidak rewel kalau di suruh makan, itu cukup membantu dalam proses pemulihan, karna kalau Jovita tidak makan maka akan sulit baginya untuk meminum obat, tentu saja proses pemulihan akan terhambat kalau itu terjadi.
Hari ini giliran Tania yang menjaga Jovita, Hari dan Lilia ada urusan lain, dan lagi Tania sedang tidak ada urusan apa pun, jadi Tania tidak keberatan sama sekali.
Tania menjaga Jovita dengan sangat baik, walau keadaan kakaknya sedang tidak baik tapi Tania tetap tidak mengeluh apa pun, membersihkan badan dan juga menyisir rambut kakaknya agar tidak berantakan.
Tania selalu mengajak Jovita berbincang-bincang, namun seperti biasanya, tidak ada respon apa pun dari Jovita, walau sudah tau akan seperti itu tapi Tania tidak menyerah, ia akan terus mengajak Jovita berkomunikasi sampai kakaknya itu merespon perkataannya.
Seperti saat ini, Tania sedang menyisir rambut Jovita di depan cermin, Tania memperhatikan wajah Jovita yang mulai tirus karna kondisinya saat ini, Tania tersenyum getir melihat itu, dirinya sangat sedih dengan itu.
"Kak! Kakak tau! Kakak perempuan tercantik yang pernah Tania kenal setelah ibu. Kakak perempuan terhebat yang pernah Tania tau. Tania mohon kakak jangan seperti ini terus, Tania sedih melihatnya," ucap Tania kepada Jovita.
Walau tau tidak akan ada respon apa pun, tapi Tania tetap mengajak Jovita berkomunikasi, sejak saat tau kebenarannya, Tania merasa bersalah kepada Arman, bahkan ayah ibu nya juga sama, mereka menyesal karna tidak mencari tau kebenarannya terlebih dulu, mereka justru menghakimi Arman sepihak.
"Kakak yang kuat. Tania tau kakak sangat kehilangan orang yang di cintai saat ini. Tapi, kakak tidak boleh seperti ini, kakak harus ku---"
Preng!
Perkataan Tania terhenti tatkala mendengar suara kaca pecah, Tania langsung menoleh ke arah jendela yang ternyata memang sudah berlubang dan serpihan kaca berserakan di bawah jendela.
Tania beranjak untuk melihat, kaca jendela berlubang dan ada sebuah bongkahan batu yang di bungkus kertas di dekat jendela, Tania mengambilnya dan merasa heran dengan benda itu.
"Apaan nih?" Tania keheranan sendiri.
Mengambil benda tersebut lalu membukanya, batu yang cukup besar yang di balut oleh sebuah kertas, Tania melihat kalau kertas itu merupakan sepucuk surat.
"Surat? Jadul banget, ngirim surat kayak gini! Dari siapa sih!" Tania lalu membaca sedikit isinya dan kedua matanya langsung membulat kala melihat surat itu dari siapa. "Arman!"
Tania langsung membuka pintu yang menuju balkon kamar ini, segera menatap keluar untuk mencari orang yang melemparkan benda ini, Tania pikir kemungkinan itu adalah Arman, tapi sejauh pandangannya, ia tidak menemukan sosok Arman atau sosok lain di sekitar rumah itu.
Kertas itu berisikan surat yang di kirim oleh Arman, kala mendengar itu, Jovita yang tadinya tidak pernah merespon apa pun, langsung tergerak kala mendengar nama Arman.
Tania kembali ke dalam sambil menghela napas pelan, berjalan ke arah Jovita yang masih di tempatnya.
"Kak! Ada surat yang bertuliskan nama Arman di batu yang mecahin kaca jendela kamar ini;" beritau Tania.
"Ar-man!" gumam Jovita, ekspresi Jovita langsung berubah.
Tania yang mendengar suara kakaknya langsung menoleh, ia tidak percaya kalau kakaknya langsung merespon dengan hal-hal yang berkaitan dengan Arman, namun walau begitu, Tania merasa bersyukur.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]
Romance(END) Jovita seorang wanita karir harus menerima kenyataan kalau dirinya tengah mengandung janin dari laki-laki yang tidak ia ketahui, ia berpikir keras untuk mencari jalan keluar sampai salah satu temannya menyarankan untuk mencari suami kontrak. T...
![SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/293968952-64-k359029.jpg)