Part 22

3K 117 3
                                        

"Lo budeg apa gimana hah!"

Karin langsung berteriak marah kepada Arman yang menurutnya tidak mendengarkan apa kata Karin, sudah beberapa hari sejak Arman bekerja disini dan Karin sudah menyuruh Arman berhenti di hari pertamanya kerja.

Namun nyatanya Arman masih saja bekerja di perusahaan yang sama dengan mereka, Karin tidak sengaja melihat Arman sedang mengepel lantai, Karin buru-buru mengejar.

Karin berhasil mengejar dan langsung membuntuti sampai tiba di tempat yang cukup sepi, Karin langsung memanggil dan memberhentikan Arman, tanpa basa-basi langsung memaki Arman.

Menurut Karin, keberadaan Arman disini akan sangat mengancam image Jovita, perlahan-lahan para karyawan lain akan tau tentang hubungan Arman dan Jovita.

Di perusahaan ini, Jovita berads di bagian penting dan posisinya sangat bergengsi, Karin takut kalau sampai ketahuan, posisi Jovita akan di gantikan, Karin tidak ingin melihat karir Jovita yang di bangunnya itu hancur sia-sia.

Maka dari itu, Karin terus saja mengancam Arman dan menyuruhnya untuk segera keluar, ini kali kedua Karin memperingati Arman soal bekerja disini.

"Lo gak tau diri banget. Gue udah bilang sama lo, keluar dari perusahaan ini, batu banget lo hah!" lanjut Karin penuh kemurkaan.

Arman hanya bisa menghela napas pelan. "Mbak sebenarnya ada masalah hidup apa sama saya? Saya gak pernah menyinggung perasaan mbak bukan?"

"Berani lo ya! Gue ngelakuin ini buat kebaikan lo, buat kebaikan Jovita. Kalau karyawan lain tau lo punya hubungan sama Jovita, image nya bisa hancur. Lo ngarti gak sih?"

"Mbak! Maaf sebelumnya! Bukan saya gak mau kerja di tempat lain, tapi tidak ada pekerjaan lain lagi mbak, semua tempat sudah menolak lamaran kerja saya mbak."

"Halah. Alesan aja lo!"

"Terserah mbak mau percaya atau engga juga. Yang jelas, kalau saya keluar dari sini, saya gak punya kerjaan lain lagi."

"Ya cari yang jauhan, bukan disini juga. Selain itu, lo bisa jadi kuli panggul di pasar atau kuli proyek, pekerjaan kasar apa pun, yang jelas jangan di perusahaan ini juga, lo ngancam posisi Jovita."

"Dari tadi mbak ngomongin 'posisi' terus! Sebenarnya yang posisi sama image nya terancam itu, mbak Karin atau mbak Jovita? Perasaan mbak Karin yang repot kayak gini!"

"Heh! Nyolot lo ya! Gue cuma ngomong apa adanya. Dengan adanya elo, posisi Jovita bisa saja terancam."

"Selama saya gak ketemu sama mbak Jovita, masalahnya beres bukan?"

"Lo jawab mulu kerjaannya. Sekali lagi gue peringatin sama lo, keluar dari sini atau---"

"Atau apa mbak? Mbak memangnya mau ngelakuin apa sama saya?"

"Cih. Lo gak bakal gue biarin tenang kerja di perusahaan ini."

"Terserah mbak. Saya gak peduli."

Karin langsung tersulut emosi seketika, kedua kakinya mencak-mencak ingin sekali menginjak-nginjak Arman sampai puas.

Keributan itu sedikit menarik perhatian beberapa orang, beberapa karyawan langsung datang dan melihat ke arah Karin.

"Ada apa Kar? Kenapa lo teriak-teriak?" tanya salah satu karyawan.

Karin menyeringai kala mendapatkan sebuah ide di benaknya, beruntung beberapa rekan kerjanya databmng tepat waktu, Karin jadi mendapatkan ide yang cukup brilian untuk membuat Arman tidak betah kerja disini.

"Ini nih! Ob sialan ini ngintipin gue lagi di kamar mandi tadi," tuduh Karin.

"Eh!" Arman langsung terkejut kala mendengarnya.

SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang