Part 15

3.5K 110 2
                                        

Arman menghela napas pelan saat menginjakan kaki di rumah, harinya benar-benar sangat berat, sepertinya otaknya tidak bisa di gunakan untuk beberapa saat, hal-hal yang terjadi hari ini sudah sangat membuat isi kepalanya penuh.

Arman langsung pergi ke dapur, mengambil minum lalu menenggaknya sampai habis, setelah melewati perjalanan panjang, tenggorokan Arman kering.

Arman tidak menyangka kalau keluarga Halim semurah hati itu, padahal ia hany membantu sedikit tapi balasan yang di berikan sangatlah besar, ia sungguh tidak bisa menerima semua itu.

Arman melamunkan hal yang terjadi, ada rasa menyesal karna sudah menolak tawaran sebagus itu, tapi hatinya benar-benar tidak nyaman, Arman hanya ingin mempunyai usaha sendiri dari hasil jerih payahnya sendiri.

Arman bukan orang seperti itu, selalu mengandalkan bantuan orang lain untuk mancapai sesuatu, Arman tipe orang yang suk ma bekerja keras sendiri dan menikmati hasilnya.

"Eh Arman!" Suara perempuan memanggil.

Arman langsung menoleh dan mendapati sosok Meylin disana, berjalan perlahan lalu mendekatinya, lebih tepatnya mendekat ke arah kulkas untuk mengambil minuman dingin di dalamnya.

"Eh, mbak Meylin! Mau ambil minum juga?" tanya Arman.

"Iya. Hari ini panas banget," balasnya.

"Mbak Jovita sama mbak Karin sudah pulang juga mbak?"

"Belum. Mereka sore nanti pulangnya, gue setengah hari, gak enak badan."

"Eh! Mbak Meylin sakit?"

"Iya. Coba deh lo cek." Tiba-tiba Meylin meraih satu tangan Arman dan membawanya ke kening.

Arman tersentak kaget, namun refleksnya lambat, setelah tangannya menempel di kening Meylin, dirinya baru bereaksi untuk menariknya.

Meylin mendengus, padahal ia berpikir kalau ini adalah kesempatan nya untuk mendekati Arman.

Sementara itu Arman sudah menyadari gelagat aneh yang di tunjukan Meylin beberapa hari ini, entah kenapa ia merasa kalau Meylin selalu berusaha mendekatinya, bahkan selalu menggodanya.

Arman tidak tau apa yang salah dengan Meylin, padahal Meylin selalu judes dan galak kepadanya, Arman sungguh tidak paham dengan pemikiran perempuan.

"Kenapa di tarik?" tanya Meylin ketus.

"Ah i-itu mbak. Biar saja ambil termometer saja," balas Arman.

"Gak usah. Pakai ini aja," kata Meylin kembali menempelkan tangan Arman di keningnya.

Meylin sengaja melakukan itu untuk menggoda Arman, walaupun dirinya berpenampilan rapih, tapi Meylin sengaja melepas beberapa kancing bajunya untuk menggoda Arman.

Meylin berusaha menunjukan dadanya yang besar untuk menarik perhatian Arman, Meylin ingin memiliki Arman atau lebih tepatnya ingin menikmati kejantanan Arman, selama seminggu ini dirinya selalu kepikiran setelah melihat kejantanan Arman yang besar itu.

"Gimana? Panas kan?" tanya Meylin.

"I-iya." Arman gugup sendiri, lalu menarik tangannya.

"Huh! Badan ku pada sakit banget sumpah," keluh Meylin.

"Ke dokter aja mbak," saran Arman.

"Gak usah deh, males. Aku bisa minta tolong sama kamu gak?"

"A-apa mbak?"

"Tolong pijitin, bisa?"

"B-bisa mbak."

"Kalau gitu aku tunggu di sofa."

SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang