Part 6

4K 185 1
                                        

Pada akhirnya pernikahan antara Jovita dan Arman di laksanakan juga, setelah melalui banyak drama dan juga perdebatan yang hebat, akhirnya kedua orang tua Jovita menyetujui pernikahan tersebut.

Ini hanya menyetujui bukan merestui, kedua orang tua Jovita memberi banyak syarat dalam pernikahan itu, selain di larang berhubungan badan, mereka juga di larang untuk mempublikasikan pernikahan itu, lalu satu hal yang paling pasti, setelah anak di dalam kandungan Jovita lahir, mereka akan resmi bercerai.

Intinya, Arman hanya menjadi alat bagi keluarga itu, tidak di anggap sebagai bagian dari keluarga apa lagi jadi menantu, Arman hanya di akui sebagai suami dari Jovita di atas kertas saja, Arman hanya akan menjadi suami kontrak.

Walau pun Jovita sedikit keberatan dengan banyaknya syarat dari kedua orang tuanya, tapi pada dasarnya, Jovita juga menikahi Arman hanya karna terpaksa saja, mereka melakukan hubungan saling menguntungkan, jadi toh tak ada yang di rugikan dalam hal ini.

Selain beberapa syarat tersebut, masih banyak syarat yang lain yang di ajukan serta di ikut sertakan dalam kontrak antara Arman dan kedua orang tua Jovita, meski begitu, Jovita tidak ambil pusing, selama ada yang mengakui anak dalam kandungannya ia kan sangat berterima kasih.

Pernikahan Jovita dan Arman di adakan tertutup, tidak ada hingar bingar kemeriahan seperti yang selalu di lakukan orang kaya lainnya, ini hanya peresmiannya saja, atau bisa di bilang ini hanya simbolis agar di akui secara sah oleh negara.

Mereka hanya mengundang perangkat rt/rw dan sesepuh di wilayah mereka saja, walau itu akan memalukan tapi itu perlu di lakukan agar tidak menimbulkan masalah lain kedepannya.

Hanya berbekal gaun pengantin dan jas hitam, keduanya di ikrarkan bersama, setelah acara yang cukup panjang akhirnya mereka resmi menjadi sepasang suami istri, tidak ada raut kebahagiaan dari wajah mereka, hanya ada senyumam yang di paksakan untuk menutupi kecurigaan para perangkat pemerintahan.

Setelah semua pulang, wajah mereka kembali seperti semula, di tekuk dan juga cemberut, apa lagi saat melihat ke arah Arman, mereka tidak senang dengan kehadiran Arman bahkan merasa jijik kala melihatnya, kedua orang tua dan adik Jovita memilih untuk kembali ke kamar masing-masing dari pada enen melihat sosok Arman.

Berbeda hal dengan mereka, Jovita nampak tidak seperti itu, walau ia menganggap Arman sebagai alat, tapi sikapnya masih seperti biasa, humble dan ramah kepada setiap orang, Jovita hanya akan bersikap buruk pada orang yang ia anggap musuh.

Bagi Arman itu saja sudah cukup, keramahan Jovita yang tidak pandang bulu, membuatnya mau menerima tawaran gila ini, walau pun di sisi lain ia menerima uang dari Jovita tapi tetap saja sebagain besar hatinya merasa kasihan.

"Ar! Nanti kamu bantuin saya beres-beres, soalnya nanti sore kita pindah," kata Jovita tiba-tiba.

Arman sedikit terhenyak, lalu menoleh sedikit ke arah Jovita. "Memangnya kita mau pindah kemana mbak?" tanya Arman polos.

"Kedepan. Syarat dari kedua orang tua saya kan harus menjual apartement dan pindah ke depan rumah ini, walau pun ribet tapi saya berhasil dapetin rumah di depan," balas Jovita.

"Oh!" Arman mangut-mangut paham.

"Jangan cuma oh doang, kamu harus bisa berguna juga bagi saya."

"Iya mbak, saya paham."

"Ya udah, bantuin saya beresin baju di kamar."

"Iya mbak."

Arman pun mengikuti Jovita masuk ke dalam kamar, Arman di suruh ngeberesin baju-baju biasa serta barang-barang Jovita di kamar ini, sementara pakaian dalam yang merupakan privasi Jovita di bereskannya sendiri, Jovita tidak suka ada yang menyentuh pakaian dalamnya.

SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang