Part 13

3.3K 140 4
                                        

Satu minggu berlalu sejak Arman mengutarakan sedikit isi hatinya, sudah satu minggu juga Jovita diam seribu bahasa, diam seperti seseorang yang sedang membenci dalam diam, atau seperti seseorang yang sedang malu secara diam-diam.

Namun di antara keduanya kini tidak banyak menyapa satu sama lain, bisa di bilang mungkin Jovita yang tidak pernah menanggapi Arman sedikitpun.

Sejak malam dimana Arman berkata jujur itu, Jovita nampak terkejut, raut wajahnya berubah seketika dan hal yang paling membuat Arman kecewa adalah Jovita memilih untuk segera pergi tanpa memberi tanggapan sedikitpun.

Arman tau kalau dirinya sudah sangat lancang, tapi ia tidak bisa menahan isi hatinya, kata-kata itu tulus dari dasar hatinya yang paling dalam.

Mungkin Arman yang terlalu berharap lebih dengan pernikahan palsunya ini, pernikahan yang hanya akan bertahan sampai Jovita melahirkan nanti, walau masih banyak kemungkinan tapi satu yang jelas, pernikahan mereka tidak bisa di teruskan.

Keluarga Jovita menginginkan perceraian antara Arman dan Jovita segera, mungkin keluarga Jovita sudah mempunyai calon yang jauh lebih baik dari Arman.

Arman hanya bisa menghela napas dalam, situasi ini benar-benar sulit baginya, apa lagi sampai saat ini Arman masih belum mempunyai pekerjaan.

Beberapa hari ini karna Arman tidak enak hati berada di rumah terus, ia kembali memberanikan diri untuk mencari pekerjaan, walau tangannya masih sakit tapi toh tidak ada gunanya juga kalau terus berdiam diri saja tanpa mau berusaha.

Semuanya pasti ada jalannya kalau kita mau berusaha, dan saat ini Arman sedang berusaha mencari jalan untuk dirinya meraih kesuksesan.

"Permisi! Apa di restoran ini masih menerima karyawan baru?" Arman kembali berusaha.

Kini Arman tengah berdiri di depan sebuah restoran yang di depan jendelanya tertanda 'lowongan pekerjaan', Arman bertanya seperti itu kepada salah satu staf yang mengurus bagian kasir.

"Maaf mas! Di restoran ini memang sedang membutuhkan karyawan baru, tapi khusus buat perempuan saja mas," balas salah satu staf karyawan kepada Arman.

"Apa laki-laki tidak bisa mbak? Saya bisa masak, bisa nyapu, bisa bersih-bersih, bahkan bisa jadi keamanan 24 jam mbak," kata Arman berharap.

"Maaf mas! Itu sudah dari atasannya, kami tidak berhak ikut campur," balas staf itu lagi.

"Apa tidak bisa di pertimbangkan lagi mbak?"

"Sekali lagi maaf mas! Itu keputusan pimpinan."

Arman menghela napas panjang, kali ini ia kembali gagal mendapat pekerjaan, padahal ia pikir ia bisa memulai semuanya dari sini, tapi apa mau dikata, nasib belum berpihak kepadanya.

"Makasih mbak! Saya permisi dulu!" kata Arman yang di angguki oleh staf karyawan tadi.

Kaki Arman mulai melangkah menyju ke pintu keluar, tapi satu langkah lagi kakinya akan keluar, suara perempuan menghentikan langkahnya.

"MAS! TUNGGU!" teriak seorang perempuan.

Tiba-tiba saja senyum di bibir Arnan merekan, ia berpikir kalau salah satu staf karyawan tadi yang memanggil karna atasannya sedikit merubah peraturan disini, Arman sudah sangat senang akan hal itu.

Namun, saat Arman berbalik badan dan hendak bertanya lagi ke sang staf karyawan, niatnya itu urung karna staf karyawan tadi sedang sibuk dengan ponselnya.

Arman menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa heran sendiri, lalu setelah itu Arman kembali berbalik badan dan hendak pergi.

"Mas hei!" suara perempuan tadi kembali terdengar lebih jelas, kali ini di barengi dengan tepukan di pundaknya.

SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang