Extra Part

3.9K 114 4
                                        

5 tahun kemudian.

Satu garis.

Tespack yang di pegang Jovita masih menunjukan satu garis, bukan dua garis yang selama ini Jovita harapkan, padahal sudah sejak lama Jovita mendambakan kehamilan, tapi sampai saat ini, tuhan masih belum memberi kepercayaan padanya untuk menimang seorang anak.

Sejak pernikahannya dengan Arman lima tahun yang lalu, Jovita sudah mengharapkan seorang anak guna melengkapi keluarga kecil mereka, Jovita juga sengaja tidak memakai alat kontrasepsi apa pun agar dirinya sesegera mungkin hamil.

Namun, sekuat apa pun berusaha, keinginan itu masih belum tercapai, beberapa kali Jovita mengecek kala dirinya telat datang bulan, tapi hasilnya masih negatif, Jovita dan juga Arman sudah berkonsultasi ke dokter, tapi dokter bilang tidak ada yang salah dengan mereka berdua.

Arman selalu menyemangati Jovita, Arman tidak mempermasalahkan juga dengan hal itu, tapi sebagai istri, Jovita merasa seakan tidak berguna, tugasnya adalah memberi keturunan untuk Arman, tapi hal itu seperti sangat berat terasa.

Jovita sudah melakukan apa pun yang di sarankan orang, melakukan ini itu sampai mengasuh anak tetangganya, tapi ternyata belum ada hasil yang memuaskan, Jovita selalu sedih dan merutuki dirinya sendiri.

"Sayang! Gimana hasilnya?" Arman beranjak lalu bertanya kala melihat Jovita keluar dari kamar mandi.

Jovita menunduk sambil menggelang pelan. "Maaf mas!"

"Tidak apa sayang. Kita bisa mencoba lain kali." Arman pahan, lalu memeluk tubuh istrinya.

"Hiks... Maafin Vita, mas! Vita masih belum bisa ngasih keturunan untuk mas, hiks..."

"Stt! Kamu jangan pikirin itu sayang, mas tidak apa. Susah senang, mas akan selalu ada buat kamu, soal anak mas tidak terlalu memikirkan, mungkin ini masih belum rezeki kita sayang."

"Mas! Hiks... Maafin Vita! Maafin Vita, mas! Hiks..."

"Mas tidak apa-apa sayang. Mas tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah, tidak ada yang perlu kamu sesali, mas selalu ada buat kamu."

"Mas!"

Jovita menangis tersedu-sedu, walau Arman berkata seperti itu, tapi itu justru membuat Jovita merasa semakin bersalah, merasa dirinya tidak berguna sama sekali, merasa kecewa dengan apa yang terjadi.

Jovita sering berpikir kalau itu adalah karma dari semua perbuatan di masa lalu, dulu Jovita hidup bebas dan berbuat maksiat dengan beberapa laki-laki, sampai Jovita hamil dan bahkan kehilangan janin nya kala itu.

Jovita berpikir kalau ini semua adalah hukuman dari tuhan karna perbuatannya dahulu, tuhan marah yang membuat Jovita belum di kasih kepercayaan untuk mempunyai anak lagi.

"Mas!" lirih Jovita mendongak ke arah Arman. "A-apa ini hukuman ya mas buat aku!? Perbuatanku dimasa lalu membuat tuhan marah sampai membuat kita seperti i---"

"Stt!" Arman menyerobot perkataan ngasal Jovita.
"Jangan bicara seperti itu, mas tidak suka sayang."

"Hiks... Maaf mas!"

"Tidak apa, tidak apa. Kamu jangan bersedih lagi, mungkin ini masih belum rezeki kita."

"I-iya. Makasih, mas sudah ngertiin aku selama ini!"

"Mas, suami kamu sayang. Jadi, mas akan selalu ada untuk kamu, jangan pernah bersedih lagi, ok!"

"Iya mas." Jovita langsung memasang senyumnya kala Arman mengusap air mata di pipinya.

Arman selalu baik padanya, dari dulu hingga sekarang, Arman tidak merubah sikapnya sama sekali, Arman masih selalu mencintainya walau sempat di kecewakan oleh keluarga dan dirinya, Arman selalu menganggap kejadian itu tidak pernah ada, Arman selalu menatap masa depan dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran hidup.

SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang