Canggung.
Satu kata yang sedang menyelimuti Arman saat ini, setelah kejadian tadi, Arman tidak berkata apa-apa lagi, apa lagi di bawah pelototan tiga orang wanita yang sedari tadi menatap tajam ke arahnya.
Tajam, tidak semuanya menatap tajam, hanya salah satunya saja yaitu Meylin, yang tadi di gigit oleh Arman guna menghentikan kegilaan wanita mabuk itu.
Setelah beberapa saat, Meylin sadar dari mabuknya, walau belum sepenuhnya tapi dia sudah bisa mengendalikan dirinya, ia juga sudah sadar atas perbuatannya tadi setelah di ceritakan oleh Karin dan Jovita.
Namun, wanita memanglah wanita, wanita tidak pernah mau di anggap salah sama sekali, Meylin justru mempermasalahkan prihal Arman yang menggigit tangannya.
Raut wajah kekesalan terlihat jelas di benaknya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Meylin menatap rendah ke arah Arman dengan sikap angkuhnya itu.
"Sialan. Jadi lo yang gigit tangan gue heuh?" Emosi selalu di sematkan dalam setiap pertanyaan Meylin untuk Arman.
Arman hanya bisa menunduk, takut mendapat masalah lain kalau ia sampai berani menatap langsung ke arah Meylin.
"Lo tuli? Jawab pertanyaan gue!" lanjut Meylin.
Arman mengangguk pelan. "I-iya mbak. M-maaf! H-habis mbak duluan yang meluk sa---"
"Halah. Bacot lo ya! Mana mungkin gue mau meluk pembokat kayak lo gini," potong Meylin menyanggah.
"Udah elah Mey. Ini juga bukan dalah Arman sepenuhnya kok, lo mabok parah tadi." Jovita membuka suara untuk menengahi.
"Tau lo Mey. Jelas-jelas lo yang napsu, haha," sambung Karin terkekeh.
"Dieum deh Kar. Gue lagi kesel," semprot Meylin.
Karin langsung menutup mulutnya, ia takut kena imbas kala singa betina lagi marah seperti ini.
Meylin kembali menatap kesal ke arah Arman.
"Lo! Pembokat di rumah ini kan? Sejak kapan pembokat bisa bersikap seenaknya di depan majikan? Lo gak pantes duduk di atas kursi," ceroscosnya kemudian.
"Heum." Jovita berdehem pelan.
"Kenapa lo Jo? Lo mau belain pembokat kurang ajar ini? Iya?" tanya Meylin dengan nada tinggi.
"Berisik elah Mey! Gosah mabok kalau rusuh gini. Lagian Arman bukan pembokat di rumah ini, dia orang yang gue sewa buat jadi suami kontrak gue."
"WHAT?" pekik Meylin dan Karin secara bersamaan, mereka terkejut mendengar pernyataan ini dari Jovita.
"Eh busyet! Lo beneran nyari suami kontrak Vita?" tanya Karin tidak habis pikir.
Jovita mengangguk. "Dari pada gue malu hamil gak ada bapaknya, mending gue nyari suami kontrak aja."
"Astaga!" Karin geleng-geleng kepala.
"T-tapi yang bener aja lo Jo? Masa yang kayak gini lo jadiin suami kontrak sih? Beda banget sama tipe lo. Harusnya yang sedrajat sama lo juga jo," kata Meylin.
Jovita mengedigkan kedua bahunya. "Kalau yang sedrajat mana mau nerima gue yang hamil duluan kek gini, mending yang kayak gini, jauh lebih mudah di manfaatinnya."
"Bener juga sih." Meylin dan Karin setuju dengan pemikiran Jovita kali ini.
"Sudahlah. Masalah malam ini kita anggap usai aja, udah malam juga, mending kita tidur," kata Jovita ingin mengakhiri kisah malam ini.
"Eh! Gak bisa gitu dong! Tangan gue sakit nih, mana bekas gigitannya gede lagi," kukuh Meylin.
"S-saya minta maaf mbak!" kata Arman lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]
Romance(END) Jovita seorang wanita karir harus menerima kenyataan kalau dirinya tengah mengandung janin dari laki-laki yang tidak ia ketahui, ia berpikir keras untuk mencari jalan keluar sampai salah satu temannya menyarankan untuk mencari suami kontrak. T...
![SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/293968952-64-k359029.jpg)