Beberapa bulan kemudian, usia kandungan Jovita sudah memasuki trimester ketiga, tinggal beberapa bulan lagi sampai si jabang bayi lahir kedunia ini, bayi mungil yang sangat di nantikan oleh Arman dan Jovita.
Pada akhirnya penantian mereka beberapa tahun ini tidak sia-sia, mereka akhirnya di kasih kepercayaan untuk mempunyai momongan, segala upaya dan doa selalu mereka panjatkan dan kini semua itu berbuah manis.
Rasa putus asa dan kecewa selalu hinggap di benak mereka selama lima tahun pernikahan, namun keduanya selalu bisa saling menguatkan satu sama lain, Arman sebagai kepala keluarga menjadi orang yang paling bijaksana dalam menghadapi semuanya.
Ya. Jika di ingat perjuangan mereka selama ini, maka tidak heran kalau kebahagiaan itu berlipat ganda, penantian mereka selama ini bukan sebatas penantian biasa, bahkan kedua keluarga sudah mulai repot dengan segala keperluan persalinan Jovita nanti.
Bahkan Tania, adik Jovita sudah sangat bawel dengan calon nama keponakannya nanti, melalui beberapa riset dan pemikiran mendalam, Tania sudah mengajukan beberapa nama untuk calon keponakannya, pokoknya gadis itu yang paling repot kalau soal nama.
"Kak! Kakak!" teriak Tania heboh.
Baru juga di omongin, orangnya sudah heboh di depan pintu rumah Arman dan Jovita, seperti biasa, Tania selalu main ke rumah mereka hanya untuk sekedar mengajak main calon keponakannya yang masih di dalam perut.
Tapi terkadang, Tania juga suka nongol hanya untuk sekedar mengajukan beberapa nama untuk calon keponakannya, Jovita sampai pusing mendengar nama-nama yang di sarankan oleh adiknya itu.
"Kak! Kakak dimana sih? Tania panggil-panggil juga gak nyahut," ketus Tania, mencari kakaknya.
"Ada apa? Kenapa pake teriak-teriak?" Jovita turun dari lantai atas.
Tania menyengir lantas berjalan cepat ke arah Jovita. "Kak! Kakak tau gak---"
"Engga," serobot Jovita.
"Ish... Nyebelin banget sih! Dengerin Tania dulu kak, Tania belum kelar ngomongnya," ketus Tania.
"Kakak males dengerin terus ocehan kamu Tania," balas Jovita.
"T-tapi ini penting kak. Kakak harus dengerin Tania dulu kali ini."
"Gak. Males. Ocehan kamu suka lama."
"Ugh! Tania janji kak, ini sebentar kok."
"Aish! Iya-iya. Emangnya ada apa?"
"Nih ya kak, dengerin Tania ngomong kali ini. Tania udah nentuin nama buat keponakan Tania lho!"
"Ck. Dah ah males."
"Eh! K-kakak mau kemana? Dengerin Tania dulu kek."
"Bla bla bla... Kakak udah bosen sama saran nama pemberian kamu, semuanya gak ada yang beres."
"Tapi kali ini beneran kak. Tania udah mikirin ini akhir-akhir ini, nih ya dengerin Tania, kali ini namanya bener kok. Tania nyarain nama 'Atta' untuk anak kakak nanti, itu gabungan dari nama kak Arman sama kak Jovita. Gimana? Bagus kan?"
Jovita langsung menepuk jidatnya sendiri, nyesel dengerin omongan Tania barusan, ternyata sama saja, nama yang di saranin oleh Tania tidak ada yang sesuai dengan espektasi Jovita sendiri, Tania cenderung memilih nama asal-asalan tergantung dari apa yang dia baca atau tonton di media sosial.
Jovita mendengus lalu balik badan bersiap meniggalkan Tania, kepalanya pusing kalau harus terus mendengar omongan Tania.
"Eh! Kakak mau kemana?" tanya Tania kala melihat Jovita melangkah pergi.
"Tidur," balas Jovita tanpa menoleh.
"T-terus gimana dengan nama pemberian Tania tadi kak!"
"Ogah. Pakai aja buat nama anak kamu nanti. Bye!"
-----
Malam harinya di dalam kamar, Jovita sedang menontong beberapa vidio seputar kehamilan dan juga persalinan, sejak hamil, Jovita selalu mencari informasi tentang kehamilan dan juga persalinan, Jovita berusaha mempersiapkan semuanya sedini mungkin.
Jovita ingin berusaha menjadi ibu yang baik untuk calon anaknya kelak, walau dirinya bukan orang baik tapi tetap, Jovita tidak ingin anaknya nanti mengikuti jejaknya, tersesat di jalan yang salah, maka dari itu, Jovita sudah menyiapkan sedini mungkin apa yang baik untuk calon anaknya.
"Eheum!"
Suara deheman yang cukup keras membuat Jovita menoleh ke sumber suara, ternyata itu suara dehemen dari Arman yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil membawa beberapa barang di tangan.
"Eh, mas! M-maaf aku gak denger mas masuk, soalnya jadi asik nih!" kata Jovita sedikit menyengir.
"Asik banget nontonnya sampai suaminya datang gak sadar! Lagi nonton apaan emangnya?" tanya Arman kemudian.
"Hihi... Ini mas, aku lagi lihat vidio soal kehamilan sama persalinan, aku mau nyiapin mental untuk nanti, ternyata melahirkan itu perlu perjuangan extra ya mas! Aku merasa bersalah karna udah nyia-nyiain perjuangan ibu dulu."
"Jangan hanyut dalam penyesalan masa lalu sayang. Sekarangkan kita hidup di masa depan, jadi ya kamu harus menatap masa depan, jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk membuat kamu jadi ibu yang terbaik untuk anak kita nanti."
"Iya mas. Bimbing Vita ya mas, supaya jadi ibu dan istri yang baik buat kalian nanti."
"Iya sayang. Tegur mas juga kalau mas salah."
"Hihi... Love You deh sama mas."
"Mas juga Love You sama kamu."
Jovita memeluk pinggal Arman yang masih berdiri, Arman juga membalas dengan mengelus kepala Jovita perlahan, keduanya sangat berbahagia dengan status mereka saat ini yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai orang tua.
Jovita memang bukan perempuan baik, bahkan bisa di bilang kalau dirinya adalah wanita yang gagal dalam mempertahankan kehormatan nya sebagai seorang wanita, dimasa lalu Jovita melakukan apa pun yang dirinya suka.
Tapi, seliar apa pun seorang perempuan, pasti nanti akan berubah sendiri kalau sudah menemukan lelaki yang pas seiring berjalannya waktu, perempuan akan bahagia jiwa dan raga di tangan lelaki yang tepat.
* * *
...EXTRA PART 2...
KAMU SEDANG MEMBACA
SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]
Romansa(END) Jovita seorang wanita karir harus menerima kenyataan kalau dirinya tengah mengandung janin dari laki-laki yang tidak ia ketahui, ia berpikir keras untuk mencari jalan keluar sampai salah satu temannya menyarankan untuk mencari suami kontrak. T...
![SUAMI 100 JUTA ✅ [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/293968952-64-k359029.jpg)