Jeongyeon baru saja selesai mengecek sekitar mansion sebelum pergi mengunjungi Mark dan Jackson di dalam sebuah van, tempat khusus mengawasi monitor.
"Apa?" Jeongyeon mengangkat alisnya saat melihat Jackson dan Mark tersenyum penuh arti padanya.
"Tidak...hanya saja kami tidak sengaja melihat kapten dan nona Mina sedang uhm..." Jeongyeon menutup matanya, sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Apa?" Jeongyeon segera menoleh dan memasang wajah seriusnya, membuat Jackson dan Mark menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Jeongyeon bersusah payah menahan rasa malunya, jadi dia segera mengambil kertas laporan mereka dan membacanya.
"Jadi, apa sekarang kapten dan nona Mina sudah...?" Jackson yang penasaran langsung saja menanyakan pertanyaan itu, membuat Mark menendang kakinya .
Tapi belum selesai Jackson menyelesaikan kalimatnya, Jeongyeon sudah lebih dulu menjawabnya.
"Kita dilarang memiliki hubungan dengan klien kita! Apa kalian melupakan aturan itu?!" tegas Jeongyeon.
"Maaf kapten..." sesal Jackson.
"Hah..ini waktunya kalian istirahat, bukan?" tanya Jeongyeon mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya kapten. Aku dan Mark sudah mengecek sistem keamanan mansion.."ucap Jackson sembari meregangkan tubuhnya.
"Bagus, jadi sekarang aku hanya perlu memonitor semuanya dari sini..." Jackon dan Mark menganggukkan kepalanya.
Jackson dan Mark lalu keluar dari ruang monitor, Jeongyeon pun langsung memonitor layar yang menampilkan sudut-sudut ruangan yang sudah dipasangi cctv.
Ketika tampilan layar menampilkan sudut depan kamar Mina, tiba-tiba saja dia teringat dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.
"Hufftt...Jeongyeon, kau harus tetap profesional!" keluhnya dalam hati.
Sejujurnya dia pun bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, dia tidak ingin menjalin hubungan selama dia masih bekerja sebagai mata-mata, dia bahkan selalu berusaha menyimpan dan membuang perasaannya.
Namun di sisi lain, dia merasa terlalu lemah ketika berhadapan dengan Mina dan tidak bisa menahan perasaannya lagi.
Apapun yang telah ia lakukan di dekat gudang itu sudah terjadi. Dan mereka berdua sudah mengambil keputusan tentang hubungan mereka.
Sekarang, dia hanya perlu menjalaninya dan mengikuti alur yang sudah ditakdirkan untuknya.
"Just let it flow, Jeong!" ucapnya dalam hati.
.
.
.
.
."Oppa, apa kita benar-benar tidak boleh pergi ke kampus? Aku bosan jika terus berada di rumah..." keluh Tzuyu pada Jeongyeon.
"Maaf, Tzuyu. Keputusan ini sudah di setujui sendiri oleh nyonya Park. Kalian semua tidak boleh meninggalkan rumah ini, sampai masalah ini selesai. Ini semua kami lakukan, juga demi keselamatan kalian semua..." jelas Jeongyeon.
"Ahh tapi ini menyebalkan, oppa..." rengek manja Tzuyu membuat Jeongyeon tertawa dan mengacak-acak rambutnya.
"Bertahanlah sebentar lagi, Tzuyu..." Tzuyu dengan pasrah menganggukkan kepalanya.
Jeongyeon menghela napasnya dan kembali sibuk memasang alat keamanan baru yang di kirimkan oleh Rain padanya.
"Apa oppa masih lama?" tanya Tzuyu yang sejak dari tadi menemani Jeongyeon bekerja.
"Sedikit lagi, ini yang terakhir..." jawab Jeongyeon, dengan mudah memanjat ke atas pohon untuk memasangkan alatnya.
"Wah..." kagum Tzuyu terus memerhatikan Jeongyeon dari bangku taman.

KAMU SEDANG MEMBACA
5 heart & 1 love (Completed)
FanfictionJeongyeon adalah seorang agen rahasia atau mata-mata dari negara korea Selatan. Suatu hari dia mendapatkan tugas dari kaptennya untuk melindungi dan menjaga keluarga Park dari orang-orang yang berniat jahat pada keluarga itu. Bisakah jeongyeon mengh...