Rosie bersenandung riang, jika ia biasanya selalu dikelilingi oleh murid Slytherin, kali ini murid-murid dari asrama Gryffindor menemaninya setelah mereka berlatih Quidditch. Fleamont Potter, Ignatius Prewett, Eugene Longbottom dan Septimus Weasley. Keempat laki-laki tampan itu terlihat lelah, keringat menuruni dahi dan pelipis mereka.
"Aku tak akan mengira kalian selesai berlatih Quidditch," kata Rosie, wanita itu memandangi keempat laki-laki yang duduk di atas rerumputan menikmati angin segar. "kalian seperti baru saja menghentikan banteng yang sedang mengamuk."
"Bludger yang mengamuk, lebih tepatnya." Sela Fleamont.
"Yeah, Dave dan Felix juga pernah bercerita jika mereka mengalami kesulitan saat menghadapi Bludger."
Anak-anak Gryffindor itu terdiam ketika Rosie menyebutkan nama siswa-siswa Slytherin. Mereka saling memandang tak yakin.
"Rosie, apakah kau sedekat itu dengan Riddle dan pengikutnya?" Fleamont bertanya, ingin tahu.
"Oh, mereka cukup baik."
"Cukup baik?" Ignatius memandang Rosie tak yakin, ada nada tak percaya terselip diucapannya. "aku tak mengerti bagaimana kau bisa mengatakan mereka baik setelah apa yang sudah mereka--"
"Ignatius!" Tegur Fleamont menghentikan ucapan Ignatius.
"Ada apa?" Tanya Rosie.
"Rosie berhak tahu bahwa mereka bukan teman yang tepat untuknya," Ignatius menggeram. Laki-laki itu marah mengingat bagaimana Riddle dan pengikutnya menyerang mereka tempo hari. "kau tak tahu bagaimana Riddle dan pengikutnya, bukan?" Kata Ignatius memastikan.
Eugene menghela. "Kukira Rosie tak tahu," katanya pelan. "mereka sekumpulan anak-anak jahat, Rosie."
"Itu tidak--"
"Mereka sempat menyerang kami menggunakan sihir hitam," Sela Septimus. "aku menyarankan agar kau berhati-hati dengan mereka, terlebih Riddle."
Senyum Rosie luntur menjadi tatapan bingung. "Kalian tidak berbohong?"
Ignatius menatap Rosie kesal, apalagi ia menatap mereka dengan pandangan tak yakin, seolah mereka berbohong kepadanya. "Aku khawatir mereka telah mencuci otakmu, Rosie. Kau bahkan terlihat membela mereka sekarang,"
"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja mereka--"
"Tak apa," sela Fleamont. "mungkin mereka tak pernah menunjukkan sikap dan sifat asli mereka dihadapan Rosie. Kita tahu sendiri bagaimana topeng Riddle dihadapan para guru,"
Ignatius menghembuskan napasnya kasar. "Pintar sekali laki-laki itu menyembunyikan topeng aslinya."
"Tapi, Dumbledore tetap terlihat tak suka dengannya," Septimus berkata pelan. "di antara semua guru hanya Dumbledore yang tak menyukainya."
"Ia hanyalah anak emas Dippet dan Slughorn." Timpal Eugene.
Rosie terdiam mencerna ucapan Septimus. Albus tak menyukai Tommy, mengapa Albus tak menyukainya? Bukankah semua guru suka pada Tom karena dia murid paling pintar?
Wanita itu kemudian mendengarkan cerita mereka dengan dahi berkerut. Sebenarnya Rosie cukup tercengang saat Ignatius berkata Tom beberapa kali membuat anak-anak perempuan menangis setelah mengencani mereka, seolah setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Tom membuang mereka. Selain itu, menurut cerita Fleamont dan Eugene, Tom selalu bertindak semena-mena pada orang yang tak sejalan dengannya.
Apa Tom sungguh-sungguh bertingkah seperti itu?
Selama Rosie tinggal di Hogwarts, ia juga tak pernah tahu bahwa Albus bisa tak menyukai seseorang, bahkan jika itu Grindewald sekalipun, Albus masih bisa memaafkannya dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siren (Ft Hogwart Boys) ✓
FanfictionFANFICTION Rosie, gadis Siren yang tinggal di danau hitam, Hogwarts. Memiliki rasa penasaran yang tinggi pada siswa-siswi Hogwarts. Ia selalu mengamati kehidupan anak-anak itu dari tahun pertama hingga tahun terakhir. Di satu sisi, kecantikan Rose...
