34. Draco Problem's

1.8K 305 17
                                        

Pada malam hari, Draco tak bisa tidur nyenyak. Pangeran kegelapan benar-benar memberinya tugas yang mengerikan, ia bahkan tak menyangka akan diberikan tugas keji seperti ini. Semua yang ia lakukan demi keluarganya, setidaknya demi ibunya. Laki-laki bersurai pirang itu menatap teman-temannya yang telah tertidur lelap, ia melangkah pelan-pelan mengambil jubahnya yang tergeletak di ujung ranjang, bergegas pergi dari asramanya.

Draco mengendap-endap, memastikan situasinya aman agar Filch dan Mrs. Norris tidak mengetahui keberadaannya. Perasaan Draco kalut, ia tak bisa berpikir jernih. Satu-satunya yang bisa ia mintai tolong adalah Rosie.

Laki-laki itu memberanikan diri sembari menyentuh lengan kirinya berkali-kali, ia bahkan tak peduli jika lengannya memerah karena usapan kasar itu, Draco tak menyukai lengan kirinya saat ini.

Draco pergi meninggalkan kastil, ia buru-buru berlari dan berharap Rosie masih berada di tempatnya. Begitu sampai, ia menemukan sosok wanita yang dicarinya. Rosie masih berada di tepi danau. Entah apa yang dilakukan Rosie sekarang telah menjadi keuntungan baginya.

"Rosie,"

Siren itu menoleh, ia terkejut mendapati Draco berdiri tak jauh darinya. Saat ini malam kian larut, dan seharusnya murid-murid telah beristirahat di singgasana mereka, Draco tak seharusnya melanggar aturan jam malam.

"Draco, mengapa kau di sini?"

Wanita itu celingukan memastikan kondisi sepi dan aman. "Kau seharusnya tidak boleh melanggar peraturan,"

"Peraturan tak lagi penting, Rosie," suara Draco tampak lemah, gurat wajah Draco terlihat tak baik-baik saja. Matanya sayu dan tak ada lagi ekspresi jahil di wajahnya

"Hey, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

Draco mengangguk lemah. "Aku... aku harus mempertaruhkan hidupku," suara Draco melemah dan serak.

Rosie tersentak kaget, laki-laki itu terdengar akan menangis. Tak biasanya Draco menangis.

"Ya Tuhan, ada apa? Kemarilah!"

Draco reflek menuruti ucapan Rosie, laki-laki itu duduk di sebelahnya. Matanya berkaca-kaca. "Father berada di Azkaban, Rosie," katanya. "ia gagal melakukan tugasnya, Dark Lord memutuskan memberiku sebuah tugas untuk menggantikan father."

Tubuh Rosie menegang.

Dark Lord?

Apa... apa Draco memilih menjadi bagian dari Voldemort? Apakah... anak laki-laki ini sungguh melakukan hal itu?

Rosie reflek melirik kedua lengan Draco, terlebih anak itu terlihat tak nyaman dan sesekali menggosok lengan tangan kirinya dibalik baju lengan panjang.

"Hentikan, Draco. Kau bisa melukai lenganmu,"

"Ini... Ini harus hilang, Rosie," ucapnya serak. "ini harus hilang."

Laki-laki itu kemudian menatap air danau dan bangkit meninggalkan Rosie menuju danau. Rosie yang melihat itu, melotot dan reflek berdiri berusaha mencegah Draco.

"Apa yang kau lakukan?"

Draco tak menjawab, ia menggulung baju lengan kirinya secara kasar, mengambil air danau dan mengusap-usapkan air itu ke pergelangan tangan dan lengannya kasar. "Ini harus hilang... Aku tidak mau ini."

Rosie melirik apa yang Draco ingin hilangkan, matanya kemudian menangkap sebuah tato mengerikan berwarna hitam, kepala tengkorak dengan lidah menjulur ular.

Draco terus menggosoknya menggunakan air danau. Pergelangannya bahkan sangat merah, jika Rosie tak segera menghentikannya, kulit-kulit pergelangan tangan dan lengannya bisa-bisa mengelupas.

Siren (Ft Hogwart Boys) ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang