I. Penasaran

37 7 2
                                        

Aku masih setia terduduk di kursi dengan ditemani sebuah kipas angin yang tak jemu-jemu menggerakkan kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri. Tubuhku terasa panas tiap kali memikirkan hal ini. Padahal udara sekitar begitu dingin.

Sambil ditemani udara subuh yang tak pernah ada di waktu-waktu lainnya, kepalaku kembali dihinggapi berbagai hal.

Sejenak Aku merasa ingin menghentikan semua ini, lalu melanjutkan aktivitas tanpa memikirkannya lagi. Tapi sekali Aku menulis, sekali Aku membuka semua luka-luka di masa lalu, seolah banyak hal pun ikut tersingkap.

Ini sangat menyakitkan. Coba saja, ketika Kau sedang merasa sendirian. Lalu Kau melihat ke dalam dirimu. Terus ke dalam. Hingga perlahan satu persatu bayangan-bayangan masa dulu pun bergelantungan di atas kepala.

Kepada kenangan-kenangan indah, bibir kita akan melengkung ke atas tanpa kita suruh. Dan kepada kenangan-kenangan pahit, tiba-tiba saja dada kita terasa sesak, kemudian hidung pun terasa perih dan tanpa kita sadari air mata terselip di sudut mata membuat berkaca-kaca.

Atau bahkan Kamu merasakan hal yang berbeda? Kamu tidak perlu membayangkan masa kelam di masa lalu pun tiba-tiba saja merasa sedih tanpa alasan? Lalu kamu sedih karena kamu sedih. Dan karena kamu sedih karena sedih maka kamu pun semakin sedih.

Pernahkah Kau merasa seperti itu? Rasanya ingin menangis, padahal tak ada satu pun yang membuatmu sedih. Tak ada yang mengusik kebahagiaanmu, tak ada yang menyindirmu dengan keburukan, tak ada pula yang menghinamu sebab kekurangan.

Aku tahu ini membingungkan. Namun barangkali semua itu adalah hantu-hantu perasaan di masa lalu.

Kau mungkin takkan percaya jika Aku mengatakan kalau sekarang Aku sedang menepi di pinggir jalan bersama lantunan adzan subuh. Yah, Aku serius.

Jangan tanya apa yang sedang ku lakukan di sini. Tapi yang jelas apakah Kau tahu? Aku menemukan banyak fenomena kesendirian di sini yang membuatku teringat akan sebuah kata "kesepian".

Motor melintas sendirian, mobil trek juga melintas sendirian. Jalanan saat ini masih begitu lengang. Untuk kali ini Aku percaya bahwa sendiri menghasilkan sepi.

Selain itu, Kau tahu? Di atas langit sana pun ada satu bintang yang hanya bersinar sendirian. Mungkin itu yang disebut bintang fajar. Yah, dia pun termenung sendirian. Aku jadi teringat sebuah lagu dari Bang Haji Roma Irama. Jangan-jangan lirik dalam lagu bulan bintang, bintang itu tidak lain adalah yang sedang ku saksikan sekarang. Bintang yang sama termenung nya menanti rembulan. Bintang di waktu fajar.

Baiklah, itu adalah beberapa contoh yang Aku lihat barusan dan menyeretku pada sebuah pertanyaan. Jika peristiwa ini membuatku percaya bahwa terkadang sendiri menghasilkan suasana sepi, apakah kondisi sepi selalu menghasilkan rasa kesepian? Apakah mereka yang berada dalam kondisi sepi saat itu juga merasa kesepian?

Ini mungkin pertanyaan yang mudah. Bahkan sangat mudah. Jika Kau memang mengerti jawabannya, bisa kah Kau memberitahukannya padaku?

Berguru Kepada SepiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang