Bagaimanakah kisah persahabatan Alnaya Seulgi dan Irene Elenora pada masa SMA mereka?
Season 2 dari Middle School.
Better you read Middle School first 😉
Setelah sekian lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing, akhirnya Seulgi dan Irene menemukan waktu yang pas untuk menghabiskan waktu bersama; hanya berdua.
Seulgi duduk bersandar diatas kasur, tangan kirinya melingkari bahu mungil Irene yang memeluk Seulgi dari samping. Mereka tengah menonton film dikamar Seulgi, orang tua Seulgi sedang menjadi panitia qurban hingga otomatis mereka hanya berdua dirumah menikmati tanggal merah mereka.
Seperti biasa mereka menonton dengan hikmat, sampai dimana ada scene kissing yang sangat eksplisit antara kedua pemeran utama film itu. Baik Seulgi maupun Irene mulai bergerak-gerak resah, Seulgi hendak menskip scene itu tapi sayang jika dilewatkan.
"Rene?"
"Hm?"
"Kamu udah pernah kissing belum?" mata Seulgi masih terfokus pada layar laptopnya.
Irene terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Seulgi, ragu-ragu ia menjawab.
"Udah..."
"Sama?" Seulgi memandang Irene yang berada dalam rengkuhannya.
"Bogum..."
"Kak Bogum doang?"
"Iya lah, aku nggak pernah ngapa-ngapain ya sama mantanku yang dulu." Irene menepuk pelan perut Seulgi.
"Rasanya gimana?"
"Kak Seulgi belum pernah?" Irene mendongak menatap Seulgi yang menggeleng.
"Aku kan belum pernah pacaran sebelum ini."
"Sama kak Sunmi juga belum pernah?"
Seulgi terkekeh dan kembali menggeleng, matanya fokus ke layar laptop, scene kedua pemeran utama film yang sedang make out kini malah menjadi adegan ranjang. Mereka berdua terdiam menonton adegan yang sedang terputar didepan mereka, sesuatu mulai bergejolak didalam diri kedua gadis itu...
ㅤ
"Mau coba?" entah setan apa yang merasuki Irene sampai bisa mengatakan itu.
Spontan Seulgi menoleh kearah Irene, sorot mata Irene terlihat redup menatap kearah layar. Merasa dirinya diperhatikan, Irene ikut menoleh, obsidiannya tajam menembus monolid si beruang.
Tatapan mereka seakan terkunci, mereka tau mereka tidak lagi membutuhkan kata-kata, sorot mata mereka mengatakan segalanya. Tatapan mata mereka sarat akan hasrat dan keingintahuan yang membeludak.
Secara naluriah mereka perlahan saling mengikis jarak, tatapan mata Irene tidak bisa lepas dari bibir Seulgi. Sejak melihat foto Sunmi dan Seulgi tempo hari, Irene tidak bisa berhenti memikirkan bibir Seulgi.
Tatapan mata Seulgi berpindah-pindah, menatap mata Irene dan bibir pink-nya secara bergantian. Seulgi membasahi bibirnya dengan lidah, itu terlihat sangat atraktif dimata Irene. Kelopak mata keduanya menutup perlahan bersamaan dengan jarak mereka yang semakin menipis.
Jantung keduanya berpacu, darah mereka berdesir kencang, wajah mereka memanas dan merah. Seulgi sangat menyukai perasaan ini, kupu-kupu didalam perutnya sangat menggelitik namun menyenangkan. ㅤ
Cup~
ㅤ Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Seulgi, seperti tersengat listrik, tubuh Seulgi menegang. Bibirnya sedikit terbuka, matanya berkedip. Walau hanya sekilas Seulgi dapat merasakan lembutnya bibir Irene, manis dan wangi lipbalm strawberry yang Irene gunakan, ia.. menginginkannya lagi.
Kali ini Seulgi yang bergerak menyingkirkan jarak diantara mereka, bibir keduanya kembali bertemu, hanya menempel hingga beberapa saat. Tangan Irene meremas baju milik Seulgi saat Seulgi mulai mengerakkan bibirnya, menelusuri tiap inci bibir Irene. Seulgi melumat bibir Irene perlahan, Irene yang tidak tahan lagi pun membalas lumatan Seulgi.
Suara kecapan basah dari bibir mereka yang beradu memenuhi kamar itu, bersaing dengan suara film dari laptop Seulgi.
Seulgi mengeratkan rengkuhanya di pundak Irene kala lumatan mereka semakin intens, keduanya tenggelam dalam perasaan yang baru pertama kali mereka rasakan.
Seulgi memundurkan wajahnya, kelopak matanya terbuka menatap mata sayu Irene yang sama terengah dengan dirinya.
"One more..." suara Irene yang memohon lebih terdengar seperti perintah di telinga Seulgi.
Seulgi memiringkan kepalanya, kembali menghapus jarak mereka, melumat bibir Irene dengan penuh gairah. Ia menyesap bibir bawah dan atas Irene bergantian, sesuatu didalam tubuh Seulgi benar-benar bergejolak, membuat tubuhnya kian memanas.
Tangan Irene sudah berpindah ke pundak Seulgi dan meremasnya pelan, ia sedikit membuka mulutnya dan Seulgi langsung merespon dengan melesakkan lidahnya kedalam mulut Irene, mengajak lidah si empunya bertarung.
"Ngh..."
Seulgi menegang, desahan yang lolos dari bibir Irene terasa seperti mencambuknya. Remasan tangan Irene di pundak Seulgi semakin menguat bersamaan dengan Seulgi yang menghisap rakus lidah Irene. Ini semua terasa baru dan membuat keduanya terburu-buru.
Setelah dirasa cukup, Seulgi melepaskan pagutan bibir mereka yang basah. Nafas mereka terengah, pandangan mereka terkunci, pada akhirnya senyum tersungging di bibir keduanya.
"Your first time huh?" Irene kembali memeluk Seulgi, menyembunyikan wajahnya di bahu lebar milik gadis yang lebih tua.
"Why?"
"That was too good to be called first time."
"Yea.. mungkin aku kebanyaan nonton film western." Seulgi balas memeluk erat kelincinya yang terkekeh.
"Sayang kak Seulgi."
"Sayang Irene juga."
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
—
Irene : Akugaliyat, akututuptelinga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.