31. Kita Ini Apa?

531 70 11
                                        

"Kak, ih- sakit loh!"

Irene memegangi kedua pergelangan tangan Seulgi erat-erat, mencegah Seulgi supaya tidak kembali mencubit pipinya.

"Hehe, kamu gemesin soalnya." Seulgi mencoba membebaskan pergelangan tangannya kemudian menggenggam tangan Irene.

Mereka berdua tengah menonton film di ruang keluarga rumah Irene, Irene duduk didepan Seulgi dengan posisi memunggungi gadis monolid itu, dan Seulgi memeluk Irene dari belakang. Irene menyandarkan tubuhnya pada tubuh Seulgi, matanya fokus pada film serial killer yang terputar di layar tv led didepan mereka.

"Rene..."

"Hmm?"

"Irene..."

"Kenapa kak?"

Irene menyilangkan tangan Seulgi yang masih menggenggam tangannya ke depan dada, kepalanya sedikit mendongak memandang wajah beruangnya yang akhir-akhir ini sering rewel.

"Bentar lagi kamu sweet seventeen loh."

"Terus?"

"Terus aku lulus SMA, terus kuliah..."

Irene sedikit tertegun, ia hampir melupakan fakta yang satu itu. Irene kemudian melepaskan tautan tangan mereka, mengubah posisi duduknya menjadi duduk menyamping di pangkuan Seulgi. Tangan Seulgi dengan sigap melingkari tubuh Irene, mereka bertatapan.

"Emang kak Seulgi mau daftar kemana?" Tangan kiri Irene melingkari pinggang Seulgi.

"Belum tau..."

"Udah ngobrol sama om-tante?"

Seulgi menghela nafas pelan, ia menggeleng, "Aku sih pengennya disini aja, kan kampus itu deket sama rumah, udah negeri juga sekarang."

Irene mengangguk, "Udah tau mau ambil jurusan apa?"

"Tsk- aku buta jurusan, Rene." Seulgi mempoutkan bibirnya.

Irene terkekeh gemas, kemudian ia mengecup singkat pipi gembul Seulgi.

"Kak Seulgi kan pinter bahasa inggris, matematika, olah raga.. apalagi?"

"Di kampus sini bahasa inggrisnya pgsd, aku nggak minat jadi guru, jadi tour guide juga kayanya aku kurang bersahabat." Seulgi terkekeh.

"Ambil ekonomi aja kali ya, siapa tau nanti usaha papa dikasihin ke aku kan..."

"Itu juga bisa." Irene mencubit gemas pipi Seulgi.

"Ah masih lama, pikirin nanti deh! Sekarang yang mau aku tanyain tuh kamu mau kado apa nanti?" Seulgi mengeratkan pelukannya.

"Umm..." Irene terlihat berpikir, lebih tepatnya pura-pura berpikir.

"Mau apa ya?" ia balik bertanya.

"Mau album exo? Redvelvet? Mau lightstick?" Tanya Seulgi sambil mengecupi pipi Irene, membuat gadis mungil itu terkikik dan menggeleng.

"Apa dong?"

Mata mereka bertemu, senyum manis tersungging di bibir Irene, perlahan tangan kanannya terangkat, ujung jari telunjukknya menyentuh dada Seulgi.

"Mau kak Seulgi, boleh?"

Kedua alis Seulgi terangkat, pupil matanya membesar, wajahnya terasa panas, dadanya berdebar, ia merasa sangat ge-er sekarang, senyum bodoh seketika terukir di bibirnya.

"Bukannya selama ini Im all yours?"

Kini giliran wajah Irene yang memerah, lalu mereka sama-sama tertawa pelan menyadari ketidak jelasan percakapan mereka.

"Can I kiss you?" Seulgi tidak lagi bisa menahan, Irene yang tertawa membuatnya terlihat berkali lipat lebih cantik.

Irene tersipu, tangannya memukul pelan bahu Seulgi. Si gadis monolid mendengus gemas, memajukan wajahnya dan memberikan sebuah kecupan manis di bibir si gadis obsidian. Dan sebuah kecupan tidak akan pernah cukup bagi Irene, apalagi itu dari Seulgi.

Irene merubah posisi duduknya, sepenuhnya menghadap si beruang, mengalungkan tangannya di leher Seulgi, wajah mereka saling mendekat, mengikis jarak menyambut perasaan yang telah menjadi candu untuk keduanya.

Seulgi mulai menggerakkan bibirnya, melumat bibir ranum milik gadis dipangkuannya, tangannya dengan natural memberi usapan lembut di pinggul Irene. Secara otomatis Irene membalas lumatan Seulgi, keduanya semakin tenggelam dalam sensasi menyenangkan yang selalu hadir saat mereka melakukan hal itu.

Seulgi menarik wajahnya sesaat, memiringkan kepalanya kearah berlawanan kemudian kembali memagut bibir Irene. Tak ingin kalah, Irene menggigit kecil bibir Seulgi, melesakkan lidahnya kedalam mulut panas Seulgi begitu ia menemukan celah, membuat Seulgi tersenyum dalam ciuman mereka.

Film yang masih terputar di layar besar itu sudah tidak lagi mendapat perhatian dari siapapun, kedua anak hawa itu terlalu hanyut dengan perasaan mereka, tidak lagi perduli dengan suara raungan pemeran utama dari tontonan yang mereka tinggalkan.

Seulgi menjauhkan wajah mereka untuk saling berpandangan, mata keduanya bertemu, saling terperangkap dalam pancaran kasih yang membeludak keluar.

Kedua mulut yang terengah itu menyunggingkan senyuman yang sama, perlahan Irene menempatkan tangannya dipundak lebar Seulgi, mengusapnya perlahan.

"Kak, sebenernya kita ini apa?"

Seulgi tersentak mendengar pertanyaan yang baru pertama kali ia dengar, tubuhnya membeku seketika, jantungnya serasa berhenti berdetak, lidahnya kelu, otaknya seperti berhenti berfungsi, tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu bagaimana.

"Kita.. sahabat 'kan?"

Senyum di bibir Irene mengendur, namun dengan cepat senyum itu kembali tersungging dengan menawan, kemudian disusul oleh kekehan kecil dari sang kelinci.

"You are so cute, Bear." Irene mencubit gemas kedua pipi Seulgi.

💬 : CRINGE CRINGE CRINGE !!

💬 : INI MAU DIBAWA KEMANA ALURNYA WOY!

Meskipun nggak jelas, Votmen-nya jangan lupa ayang-ayangku 👌

Sahabat Masa' Gitu?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang